drh. Chaidir, MM | Orangutan Tetap Sekolah | SISWA di Sekolah Orangutan di kawasan pusat rehabilitasi orangutan Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur ternyata tidak diliburkan walau sekolah mereka terkena kabut asap. Namun seperti diberitakan media online, jika kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan terus meluas, maka pengelola terpaks
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Orangutan Tetap Sekolah

Oleh : drh.chaidir, MM

SISWA di Sekolah Orangutan di kawasan pusat rehabilitasi orangutan Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur ternyata tidak diliburkan walau sekolah mereka terkena kabut asap. Namun seperti diberitakan media online, jika kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan terus meluas, maka pengelola terpaksa mengevakuasi orangutan yang saat ini sedang menimba ilmu di sekolah tersebut. Tidak diberitakan apakah orangutan ini akan dievakuasi ke kantor-kantor pemerintah atau hotel-hotel yang ber-AC atau akan dievakuasi ke kapal perang TNI AL.
Namun seperti dilaporkan yayasan penyelamatan orangutan Kalimantan, Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundantion Nyaru Menteng, di kawasan konservasi Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah ini, beberapa anak-anak orangutan terpaksa dievakuasi karena menderita penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Tidak hanya terkena ISPA, anak-anak orangutan ini juga kena iritasi pada matanya; matanya merah dan berair. Penyebabnya tentulah kabut asap yang mengandung partikel debu.
Tapi namanya anak-anak dimana pun sama, mereka lebih peka terhadap pencemaran udara akibat kabut asap daripada orang-orang dewasa, termasuk juga hewan bangsa orangutan. Lihatlah di Riau, di Jambi dan di Sumsel. Tapi di ketiga daerah yang disebutkan ini, memang tidak dilaporkan adanya orangutan yang kena ISPA, karena memang tidak ada orangutan. Yang terkena ISPA sungguh-sungguh orang (anak-anak dan orang dewasa yang tergolong sensitif).
Kebakaran hutan dan lahan tahun ini agaknya tercatat sebagai kebakaran yang menimbulkan musibah kabut asap terhebat dan terlama dari yang pernah ada di negeri kita. Kabut asap ini tak cuma menghadirkan penderitaan bagi manusia yang tinggal di wilayah bencana (gangguan kesehatan dan lumpuhnya roda perekonomian), tapi juga mendatangkan kesengsaraan bagi kehidupan margasatwa.
Jumlah orangutan yang terkena ISPA di sekolah orangutan tercatat dengan baik. Bahkan jumlah orangutan yang berada di alam bebas di luar sekolah jumlahnya mungkin terdata dengan baik. Tapi bagaimana dengan nasib kijang, rusa, kancil, beruang, harimau, gajah, trenggiling, kera, beruk, bekantan? Atau juga babi hutan, biawak, ular yang merupakan bagian dari vegetasi hutan? Bagaimana pula peruntungan puluhan jenis burung yang sarangnya hangus terbakar bersama hutan belukar habitat mereka; mungkin di sarang tersebut ada telur yang siap menetas atau bahkan anak-anak burung yang belum pandai terbang bahkan belum tumbuh bulu.
Malang jugalah nasib ribuan ratu lebah dan ratu semut yang selama ini hidup dalam zona nyaman (comfort zone) dalam sarangnya, setiap saat tinggal makan dan kawin, memproduksi jutaan telur penerus generasinya, mereka pasti jadi korban. Para ratu ini tak pernah dan tak mampu bergerak keluar sarang, apalagi melarikan diri dari kobaran api. Serdadu-serdadu lebah dan semut yang terkenal loyal menjaga sang ratu, juga tak bias berkutik. Pilihannya ikut hangus terbakar atau melarikan diri.
Tidak seperti manusia, seperti dicatat oleh para pengasuh orangutan di Kalimantan, orangutan dewasa relatif lebih tahan terhadap asap daripada anak-anak orangutan yang berusia kurang dari empat tahun. Bahkan bagi orangutan dewasa asap tak terlalu berpengaruh signifikan baginya, sehingga mereka tak merasa perlu menggunakan masker.
Barangkali kita perlu belajar apa kiat orangutan dewasa di Kalimantan tahan menghirup kabut asap berhari-hari tanpa ribut mempersoalkan cara menanggulangi kabut asap. Sebab sampai saat ini belum ada jaminan tahun depan kabut asap tak akan muncul lagi. Eksekutif dan legislative di Sumatera tak perlulah jauh-jauh studi banding ke mancanegara. Datang saja ke Kalimantan, jangan-jangan di sekolah orangutan diajari bagaimana bertahan hidup dalam hutan penuh kabut asap. Hehehe..meleset.

fabel - Koran Riau 3 November 2015
Tulisan ini sudah di baca 266 kali
sejak tanggal 03-11-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat