drh. Chaidir, MM | Hak Asasi Hewan | PEKAN lalu, persisnya tanggal 15 Oktober diperingati sebagai hari besar nasional Hak Asasi Hewan. Sepintas, HAM dan HAH hanya beda satu huruf, tapi hak asasi manusia dan hak asasi hewan tentu beda. HAM objeknya adalah manusia, sedang HAH objeknya adalah hewan; satu berkaki dua punya akal, lainnya be
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Hak Asasi Hewan

Oleh : drh.chaidir, MM

PEKAN lalu, persisnya tanggal 15 Oktober diperingati sebagai hari besar nasional Hak Asasi Hewan. Sepintas, HAM dan HAH hanya beda satu huruf, tapi hak asasi manusia dan hak asasi hewan tentu beda. HAM objeknya adalah manusia, sedang HAH objeknya adalah hewan; satu berkaki dua punya akal, lainnya berkaki empat tak punya akal.
Tapi kedua hak asasi itu sesungguhnya tak jauh beda, keduanya bicara tentang kesejahteraan. Dan kedua hak asasi makhluk yang berbeda tersebut dalam kasus kebakaran hutan dan lahan yang tak selesai-selesai di Sumatera, Kalimantan, dan sekarang Papua, mengalami pelanggaran berat. Beberapa aktivis menyebut, kebakaran hutan dan lahan itu tak ubahnya ibarat genosida (pembunuhan besar-besaran secara terencana terhadap suatu bangsa atau ras), karena kebakaran menghasilkan kabut asap yang massif, mengancam hidup warga setempat; apalagi kejadiannya berlangsung lama dan berulang-ulang.
Manusia bisa protes bila ada pelanggaran HAM. Sedikit saja ada indikasi pelanggaran HAM maka para aktivis HAM akan ribut seribut-ributnya seperti ayam gadis bertelur; yang bertelur hanya seekor tapi ributnya sekampung. Tapi pelanggaran HAH? Tak terhitung jumlah hewan yang mati akibat kebakaran hutan dan lahan tahun ini. Tak terhitung jumlah anak-anak hewan yang mati karena mereka tidak bisa menyelamatkan diri; dan induk-induk mereka tak bisa menyelamatkan anak-anaknya.
Tapi jangankan LSM yang membela kepentingan HAH, LSM yang membela kepentingan HAM saja dalam musibah kabut asap yang berkepanjangan tahun ini tak begitu tajam suaranya. Yang terdengar bersuara keras adalah kelompok mahasiswa dan beberapa kelompok masyarakat adat di daerah. Kita tak melihat misalnya, aksi-aksi heorik seperti yang dipertontonkan oleh NGO Greenpeace dalam menyelamatkan lingkungan hidup di berbagai pelosok dunia. Padahal kebakaran hutan dan lahan paru-paru dunia yang memproduksi asap berbulan-bulan telah menghancurkan lingkungan hidup, merusak kawasan hutan, meluluhlantakkan kawasan gambut, membinasakan aneka fauna dan flora, bahkan merenggut jiwa manusia dan menimbulkan kerusakan sistemik pada anak-anak, bayi, ibu hamil di daerah bencana.
Memang, bila hak asasi kedua jenis makhluk tersebut (HAM dan HAH) terancam, prioritas tentulah kepentingan HAM, barulah kemudian HAH. Tapi masalahnya, musibah kabut asap hebat tahun ini, yang pekan ini belum ada tanda-tanda akan berakhir, tak menjadi isu sentral berupa pelanggaran HAM dan HAH. Orang yang terancam asap setidak-tidaknya bisa menyelamatkan diri, bagi yang mampu bisa mengungsikan keluarga ke tempat yang jauh bahkan sampai ke luar negeri. Atau mereka bisa berhari-hari tinggal di rumah di rungan ber-AC.
Sedangkan hewan, untuk menyelamatkannya dari ancaman api dan asap, harus ada campur tangan manusia. Ide HAH sesungguhnya sama dengan HAM. Hak-hak dasar hewan non-manusia harus dianggap sederajat sebagaimana hak-hak dasar manusia. Filsuf Peter Singer menyebut, secara filosofis untuk kepentingan HAH dan HAM, makhluk-makhluk ini harus dibebaskan dari penderitaan tiada tara. Baik filsuf Peter Singer maupun Profesor hukum Gary Francione, mereka setuju bahwa hewan harus dipandang sebagai orang non-manusia dan anggota komunitas moral.
Salah satu hal penting dalam hak asasi hewan adalah kesejahteraan hewan itu sendiri. Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) mulai merintis pembuatan standar mengenai kesejahteraan hewan pada 2001 dan secara resmi diperkenalkan kepada negara anggota pada 2004. Pada tahun yang sama, OIE menyelenggarakan konferensi internasional yang bertujuan meningkatkan kesadaran negara anggota dan menjelaskan tentang inisiatif OIE dalam menetapkan standar-standar tersebut.
HAH sepintas terdengar unik bahkan cenderung aneh dan mengada-ada, apalagi di Indonesia (HAM-nya saja masih bermasalah). Sebenarnya, Undang-Undang yang melindungi HAH itu sudah ada, disebut ada lima kebebasan: (1) bebas dari rasa lapar dan haus; (2) bebas dari rasa sakit, cidera dan penyakit; (3) bebas dari ketidaknyamanan, penganiayaan dan penyalahgunaan; (4) bebas dari rasa takut dan tertekan; dan (5) bebas mengekspresikan perilaku alaminya.
Hewan memang tidak pernah memikirkan HAH-nya yang dilanggar dengan kebakaran dan asap yang hebat itu, mereka bahkan tak pernah mengeluh. Kadang-kadang di situ saya merasa sedih.

fabel - Koran Riau 20 Oktober 2015
Tulisan ini sudah di baca 288 kali
sejak tanggal 20-10-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat