drh. Chaidir, MM | Untung Ada Kambing Hitam | KAMBING hitam secara harfiah sebenarnya biasa saja. Ada kambing yang secara genetis terlahir berwarna putih, coklat, hitam, belang-bonteng dan sebagainya. Mereka benar-benar kambing. Kambing betina kalau sudah dewasa disebut induk kambing. Kambing jantan kalau sudah dewasa dan tumbuh besar dijuluki
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Untung Ada Kambing Hitam

Oleh : drh.chaidir, MM

KAMBING hitam secara harfiah sebenarnya biasa saja. Ada kambing yang secara genetis terlahir berwarna putih, coklat, hitam, belang-bonteng dan sebagainya. Mereka benar-benar kambing. Kambing betina kalau sudah dewasa disebut induk kambing. Kambing jantan kalau sudah dewasa dan tumbuh besar dijuluki bandot.
Tapi ketika disebut kambing hitam, tak perlu ada penjelasan, artinya adalah pihak lain yang sebenarnya tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa dalam sebuah persoalan, dikorbankan, dituduh sebagai pihak yang bersalah. Sebagai sebuah idiom, kambing hitam merupakan gabungan kata yang bermakna tidak sama dengan makna kata aslinya. Kambing yang kebetulan terlahir berwarna hitam harus rela menanggung dosa atas kesalahan yang tak dilakukannya. Begitulah nasib kambing hitam.
Istilah kambing hitam sebagai sebuah idiom ini diperkenalkan oleh seorang filsuf kondang bangsa Prancis yang bernama Rene Girard (lahir tahun 1923). Pengaruh dari pemikirannya amat luas, mulai dari antropologi, sastra, psikologi, mitologi, dan teologi. Pemikiran Girard yang paling dikenal adalah teori kambing hitam yang menerangkan hubungan antara agama dan kekerasan.
Salah satu pokok pemikiran Girard didasarkan pada analisis agama primitif yang melihat kekerasan sebagai pengganggu stabilitas sosial dan untuk itu perlu melakukan penebusan. Dia menganalisis fenomena tersebut dan menyimpulkan bahwa saat penebusan terjadi bukan dengan sendirinya menghilangkan pelaku kekerasan, melainkan meng-kambinghitam-kan seseorang atau sesuatu demi suatu komunitas yang melakukan kesalahan. Sistem inilah yang akhirnya melahirkan rantai kekerasan karena penebusan tidak begitu saja menghentikan kekerasan (https://id.wikipedia.org).
Singkat kata, menurut filsuf tersebut, kambing hitam adalah korban dari pengalihan agresi rivalitas. Cara yang lazim adalah mengalihkan agresi rivalitas kepada "musuh bersama". Kemudian, kekuatan agresi tadi dipakai menyerang "musuh bersama" tersebut. Maka, kata Girard, semua orang mengerahkan permusuhannya kepada kambing hitam yang mereka pilih secara sewenang-wenang. Jadi, sebuah kawanan dipulihkan dari kehancuran, dan agresi internal berubah pulih menjadi saling toleran menuju kedamaian.
Dalam dinamika masyarakat yang berlangsung sangat tinggi dewasa ini, sebuah kebijakan yang menyangkut kepentingan publik seringkali mengundang kontroversi karena menyangkut berbagai kepentingan yang tidak sama. Kelompok yang setuju dan tidak setuju hampir sama banyaknya, baik itu di lingkungan internal pemerintah itu sendiri, antar lembaga, maupun antara pemerintah-lembaga politik dan masyarakat.
Demikian pula dalam cara pemerintah menyelesaikan sebuah permasalahan yang mengganggu masyarakat secara luas, seperti musibah kabut asap yang melamun berbagai daerah bahkan sampai ke negara tetangga, sehingga hubungan antar Negara menjadi terusik. Bila sebuah upaya dianggap gagal, masing-masing mulai cari alasan dan masing-masing cenderung lepas tangan.
Masyarakat yang menjadi korban kabut asap, mulai tidak sabar dan mulai mengeluarkan kata-kata kebun binatang. "Pemerintah tidak becus dalam mengatasi persoalan ini"; "Semua ini gara-gara cukong yang tamak." "Pemerintah kong kalikong dengan pengusaha." Dam sebagainya. Tinggal diamkah pemerintah? Oh tidak, tak ada kamusnya.
Setelah semua upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan aparat keamanan menemui kegagalan (padahal tidak tidur siang malam, helikopter dan pesawat Hercules tak henti-henti terbang menjatuhkan bom air dan menggarami langit), asap masih saja membandel, maka perlu dicari kambing hitam. Berita terkini, kambing hitamnya adalah angin. Pola arah anginlah ternyata yang menerbangkan asap ke suatu daerah dari aderah lain. Ketika para pihak mendekati kesepakatan dengan sesuatu yang d-kambinghitam-kan, toleransi baru mulai terbentuk. Padahal sesungguhnya, mencari dan menemukan kambing hitam sebagai musuh bersama, tak serta-merta menyelesaikan masalah.
Dalam konstruksi pemikiran demikian, kambing hitam punya posisi unik, ia tampak sebagai terkutuk sekaligus pembawa keselamatan, karena bisa menyebabkan pihak-pihak yang taking, berdamai. Prof Rene Girard bisa saja. Untung ada kambing hitam.

fabel - Koran Riau 29 September 2015
Tulisan ini sudah di baca 261 kali
sejak tanggal 29-09-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat