drh. Chaidir, MM | Si Kucai | KASIHAN bangsa kucing. Rupanya tidak hanya di media facebook saja sering terjadi pembajakan. Nama bangsa kucing pun sering dibajak. Pembajaknya bukan sesama bangsa kucing, pembajaknya adalah antar bangsa, yakni bangsa manusia. Nama bangsa kucing sering digunakan sebagai metafora untuk hal-hal yang t
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Si Kucai

Oleh : drh.chaidir, MM

KASIHAN bangsa kucing. Rupanya tidak hanya di media facebook saja sering terjadi pembajakan. Nama bangsa kucing pun sering dibajak. Pembajaknya bukan sesama bangsa kucing, pembajaknya adalah antar bangsa, yakni bangsa manusia. Nama bangsa kucing sering digunakan sebagai metafora untuk hal-hal yang tidak baik. Padahal umumnya bangsa kucing tidaklah memiliki rekam jejak yang buruk. Kucing justru sering disebut sebagai hewan piaraan yang lembut, penurut, dan manja.
Hanya satu kelemahan kucing, dia suka menyantap ikan panggang atau ayam panggang milik tuannya. Karena kebiasaan itu, bangsa manusia kemudian menyebut kucing sebagai pencuri. Sebenarnya ini hanya masalah persepsi belaka. Asumsi dasar bangsa kucing yang kemudian membentuk persepsi mereka, ikan bakar atau ayam bakar yang tak dijaga oleh tuannya, berarti diperuntukkan bagi kucing dan dengan demikian boleh disantap kucing. Sederhana kan? Sebab, bangsa kucing diberi indera penciuman yang sangat tajam, lebih tajam dari manusia. Bau makanan yang sedap dan penciuman kucing, ibarat dua kutub magnit yang saling tarik menarik secara kuat.
Tapi bila makanan lezat tersebut ditunggui oleh pemiliknya, maka berlakulah hukum malu-malu kucing. Tak ada dalam buku KBBK (Kamus Besar Bangsa Kucing), bahwa bangsa kucing boleh merampas makanan dari tuannya, seberapapun makanan itu menggiurkan selera. Kucing mau tapi mereka menunggu. Kucing akan senang hati bila tuannya menyisihkan sedikit saja dari makanan lezat tersebut, sisa-sisa tuannya pun tak apa-apa. Kucing tak sama dengan kera, yang tanpa basa-basi bahkan dengan sangat kurang ajar merampas makanan milik orang lain.
Tapi mengapa untuk hal-hal yang kurang baik digunakan stempel bangsa kucing? Kucing garong tak dikaitkan dengan mitos hantu seperti kucing hitam. Kucing garong dikaitkan dengan citra donjuan alias pria hidung belang, alias pria yang suka gonta-ganti pasangan. Istilah kucing garong setali tiga uang dengan istilah kucing air. Kucing air adalah metafora yang biasa digunakan untuk merujuk kepada laki-laki yang menjalani kehidupan tanpa pasangan hidup yang sah. Laki-laki seperti ini menyenangi kehidupan bebas nilai, tanpa terikat menafkahi istri dan anaknya secara hukum.
Di Sumatera Barat istilah kucing air sering disingkat "Kucai" (Kucing Aie = Kucing Air). Paling tak enak dijuluki Kucai. Sebab Kucai maknanya lebih luas dari sekedar seorang laki-laki dengan gambaran seorang playboy di atas. Si Kucai disandangkan kepada seseorang yang memiliki sifat sombong, snob, sangat egois, tidak sportif, mementingkan diri sendiri, rela dijauhi teman-teman. Sifatnya a-social, orangnya aneh (the odd man). Si Kucai tidak layak diajak berkawan. Kasihan kucing sungguhan, mereka tak ada hubungan sanak family dengan si Kucai.
Istilah kucing hitam, kucing garong, kucing air alias kucai, beda dengan kucing-kucingan. (Kucing lagi yang kena). Kucing-kucingan adalah praktik kehidupan yang menggambarkan pola kehidupan yang hipokrit alias munafik, tidak komit, atau tidak jujur. Perilaku kehidupan yang berlaku atau bersifat seperti kucing; satu pihak mengejar, pihak lain bersembunyi, apabila si pengejar sedang lengah, yang dikejar muncul dan berkeliaran untuk kemudian kembali bersembunyi.
Fenomena Si Kucai jamak terjadi dalam perilaku kehidupan masyarakat manusia sekarang ini. Sok bersih, sok pintar, sok hebat sendiri. Mulai dari bentuk yang paling sederhana, misalnya, ketika tidak ada orang lain, seseorang dengan enteng membuang bungkus rokok sembarangan. Atau ada anggota masyarakat yang membuang kantong sampah di pinggir jalan kucing-kucingan dengan petugas kebersihan. Atau kucing-kucingan antara guru dan murid perokok, antara maling dengan maling teriak maling. Atau antara pengguna jalan raya yang tidak disiplin dan pembalap liar dengan polisi lalu-lintas.
Dalam bentuk lain, praktik kucing-kucingan ini misalnya terjadi antara pembakar lahan dengan aparat keamanan, antara perambah hutan dengan polisi kehutanan, antara rakyat dan wakil rakyat (ketika rakyat sibuk dengan asap, wakilnya ternyata ngacir ke luar negeri), antara atasan dan bawahan, koruptor vs KPK, antara jaksa vs advokat, bahkan antara presiden dengan menteri kabinetnya. Jangan-jangan kita semua berteman dengan si Kucai.

fabel - Koran Riau 22 September 2015
Tulisan ini sudah di baca 262 kali
sejak tanggal 22-09-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat