drh. Chaidir, MM | Makhluk Tahan Asap | MAKHLUK yang satu ini luar biasa hebatnya. Ketika orang biasanya megap-megap karena sulit bernafas akibat kabut asap yang tak tahu adat itu tak henti-henti menyelimuti, dia teeenang-teeenang saja. Ketakutan orang terhadap kabut asap pembakaran hutan dan lahan  yang terus menerus memenuhi setiap rong
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Makhluk Tahan Asap

Oleh : drh.chaidir, MM

MAKHLUK yang satu ini luar biasa hebatnya. Ketika orang biasanya megap-megap karena sulit bernafas akibat kabut asap yang tak tahu adat itu tak henti-henti menyelimuti, dia teeenang-teeenang saja. Ketakutan orang terhadap kabut asap pembakaran hutan dan lahan yang terus menerus memenuhi setiap rongga kota dan desa itu, beralasan, sebab paru-paru kita terbatas kemampuannya. Bila kekurangan oksigen bisa fatal bagi pemiliknya. Anak-anak pula, gampang terserang gangguan pernafasan berupa radang ISPA dan penyakit asma, dan ini menyedihkan.
Ada pula kekhawatiran, kabut asap yang terus menerus itu bisa menyebabkan seseorang terkena kangker paru-paru, dan yang lebih menakutkan lagi, konon, katanya, kabar anginnya, gosipnya (berdasarkan berita-berita yang tersebar di BBM, FB, WA, dan medsos lainnya), anak-anak yang terus menerus menghirup asap kebakaran hutan tersebut bisa jadi bodoh. Menakutkan.
Tapi lihatlah makhluk yang satu ini. Dia bergeming seakan tak ada urusan sama sekali dengan kabut asap tersebut. Biarkan anjing menggonggong, katanya, kafilah tetap berlalu? Masalah kabut asap adalah masalah yang kecil baginya. Jangankan kabut asap, dalam kondisi kadar radioaktif relatif tinggi saja, dengan durasi tertentu tak berpengaruh baginya. Makhluk ini diketahui bisa bertahan meskipun disinari sinar gama dengan dosis hingga 5.000. Raul M. May dari Universitas Paris juga menemukan bahwa Tardigrada baru bisa dibunuh jika disinari sinar X (sinar untuk keperluan Roentgen) hingga dosis 570.000. Sebagai pembanding, dosis sinar gamma sebesar 20 atau dosis sinar-X sebanyak 500 saja sudah berakibat fatal bagi manusia.
Kemampuan lain makhluk ini adalah toleransinya terhadap suhu yang ekstrim tinggi maupun ekstrim rendah. Makhluk ini diketahui tetap hidup ketika direbus hidup-hidup dalam suhu 151 derajat Celcius selama beberapa menit dan disimpan dalam kondisi minus 200 derajat Celcius selama beberapa hari. Gila. Hebatnya, sel-sel tubuhnya tidak mengalami kerusakan, padahal normalnya protein penyusun sel dalam suhu mendekati titik didih akan rusak karena mengalami penguraian, sementara sel yang berada pada suhu minus beberapa derajat Celcius akan pecah karena cairan dalam selnya membeku dan mengembang.
Gerangan makhluk apakah yang tak sopan melecehkan kemampuan makhluk lain ini? Makhluk itu bernama beruang. Tapi bukan beruang sembarang beruang. Beruang yang tahan perubahan suhu secara ekstrim ini adalah "Beruang Air". Beruang air ini disebut Tardigrada, adalah suatu species binatang yang luar biasa, yang hidup di daerah kutub.
Tapi harap dicatat, Beruang Air alias Tardigrada ini sama sekali bukan beruang kutub atau beruang madu seperti yang umum kita kenal. Beruang Air ini bukan beruang yang berbadan besar, berbulu, bertaring dan berkuku panjang, dan bertulang belakang. Tardigrada adalah semacam binatang kecil yang tidak bertulang belakang. Ukurannya bervariasi; yang terkecil ukurannya kurang dari 0,1 mm, sementara yang terbesar hanya sekitar 1,5 mm. Mereka bisa dilihat dengan mudah di bawah mikroskop.
Tardigrada ternyata sudah diketahui cukup lama oleh manusia. Tardigrada pertama kali ditemukan oleh Johann August Ephraim Goezepada tahun 1773. Beberapa ahli juga berargumen bahwa penemu mikroskop, Anthony van Leeuwenhok adalah orang yang pertama kali menemukan Tardigrada ketika pada tahun 1702, ia mengambil debu dari atap rumahnya dan menyiramnya dengan air panas untuk melihat makhluk hidup di dalamnya. Nama "Tardigrada" diberikan oleh Lazzaro Spallanzani pada tahun 1777 yang berarti "pejalan lambat". Julukan "beruang air" sendiri diberikan karena cara berjalannya seperti gerakan beruang saat berjalan dengan empat kaki.
Hal yang membuat hewan sikecil Tardigrada begitu istimewa adalah karena Tardigrada bisa melalui "fase koma" yang disebut anoksibiosis dan kriptobiosis. Pada fase ini, Tardigrada akan memompa tubuhnya seperti balon sehingga ia bisa melayang di air hingga beberapa hari. Begitu kondisi lingkungan di sekitarnya sudah lebih mengering, mereka kembali ke fase normalnya.
"Fase koma" lainnya adalah fase kriptobiosis. Fase ini dilakukan ketika kondisi di lingkungannya terlalu kering, kadar racun di sekitarnya meningkat, atau ketika suhu di lingkungannya terlalu tinggi atau rendah. Tardigrada akan menarik kakinya ke dalam, mengerutkan tubuhnya hingga hanya berukuran sepertiga aslinya. Mereka bisa melalui fase kriptobiosis tanpa makan hingga jangka waktu yang sangat lama. Salah satu laporan yang ditulis oleh Asari pada tahun 1998 bahkan menunjukkan bahwa Tardigrada bisa melalui fase kriptobiosis ini hingga jangka waktu 120 tahun dan tetap hidup! Tardigrada, ajari kami mantramu.

fabel - Koran Riau 8 September 2015
Tulisan ini sudah di baca 342 kali
sejak tanggal 08-09-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat