drh. Chaidir, MM | Gertak Birahi | MATAHARI baru naik sepenggalah. Dua gadis sebaya yang nyaris serupa itu resah gelisah. Dunia total berubah. Jadi tak mudah.  Sebetulnya hidup, kata si jenius Einstein, bertambah mudah karena ilmu pengetahuan berkembang, tapi bagi ABG ini, itu masalah. Sambil merumput di sebuah lembah yang hijau dan
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Gertak Birahi

Oleh : drh.chaidir, MM

MATAHARI baru naik sepenggalah. Dua gadis sebaya yang nyaris serupa itu resah gelisah. Dunia total berubah. Jadi tak mudah. Sebetulnya hidup, kata si jenius Einstein, bertambah mudah karena ilmu pengetahuan berkembang, tapi bagi ABG ini, itu masalah. Sambil merumput di sebuah lembah yang hijau dan indah, mereka berdua debat kusir tentang keadaan "mudah dan tak mudah" itu. Tak ada ujung pangkal, serius tapi santai.
Mereka berdua dan teman-teman lain sebaya yang telah akil balig, dan yang lain yang telah dewasa terlebih dulu, kemarin bersama-sama disuntik hormon. Dan sekarang mereka merasakan dorongan aneh, serentak mereka merasakan dorongan ingin kawin. Dorongan itu seakan datang berjemaah. Tapi kemana naluri ingin kawin itu disalurkan? Dari tadi mereka berteriak-teriak, tapi mereka tak mendapat respon. Ibaratnya, semua menjadi panggilan tak terjawab. Missed calls. Mereka tak menemukan pasangan lawan jenis. Tak satu pun nampak batang hidungnya, bahkan yang hidung belang sekali pun.
"Pejantan-pejantan itu dipelihara di tempat terpisah, tak akan bisa kalian panggil," ujar seekor sapi betina dewasa yang merumput berdampingan, yang sejak awal mendengarkan debat kusir itu. Sapi betina ini telah berpengalaman beberapa kali disuntik hormon.
"Kenapa?" seekor sapi gadis bertanya.
"Karena, semua jantan itu hidung belang, mereka suka mengawini banyak betina," betina dewasa menjawab sesukanya, tapi khawatir kedua ABG itu salah paham, buru-buru dilanjutkannya dengan penjelasan yang lebih berkualitas. "Begini, semua sapi jantan normal pasti ingin kawin, tapi tak semua pejantan itu berkualitas alias bermutu, inilah yang kudengar dari penyuluh pertanian."
"Maksudnya?"
"Maksudnya, kalau semua pejantan itu dilepas bebas, maka dia akan kawin sembarangan, dan nanti keturunannya jadi tak bermutu."
"Oh..jadi kami berdua ini keturunan tak bermutu?" sapi gadis yang satunya menyela.
"Tidak, kalian hasil kawin suntik, makanya kalian sehat dan segar bugar."
"Apa itu kawin suntik?"
Sapi betina dewasa itu pun terpaksa menjelaskan, mengulangi penjelasan penyuluh pertanian yang sempat dicernanya. Bahwa untuk meningkatkan populasi ternak sapi guna memenuhi kebutuhan sapi potong, pemerintah sekarang ini berupaya keras meningkatkan produktivitas ternak sapi rakyat. Bahwa peningkatan produktivitas itu artinya, semua sapi betina dewasa setiap tahun harus bunting dan melahirkan anak sapi.
Bahwa program itu tidak akan terwujud bila hanya mengharapkan sapi-sapi jantan mengawani sapi-sapi betina secara alami. Pejantan yang unggul, berkualitas tidak banyak jumlahnya, yang banyak itu pejantan tak jelas. Bukankah orang juga ada orang tak jelas seperti pernah diucapkan oleh seorang petinggi negeri?
Maka, agar semua betina dewasa itu setiap tahun melahirkan anak sapi, semua pejantan dikandangkan saja. Pejantan yang tidak berkualitas digemukkan kemudian dikirim ke rumah potong hewan. Pejantan yang berkualitas dijadikan pejantan unggul. Pejantan unggul ini diambil semennya (cairan mani yang berisi bibit). Semen itu dibagi-bagi dalam beberapa kemasan kecil. Semen yang telah dibagi-bagi inilah yang disuntikkan ke saluran kelamin sapi betina. Jadi, kalau dalam kawin alam satu ekor pejantan hanya bisa mengawini satu ekor betina dalam satu kali kawin, dengan kawin suntik, satu kali pengambilan semen pejantan bisa digunakan untuk beberapa ekor betina sekaligus. Lebih efektif dan lebih terjamin kualitasnya.
Nah supaya kawin suntik (inseminasi buatan atau pembuahan buatan) itu bisa dilakukan secara serentak untuk memudahkan petugas peternakan dan menghasilkan anak-anak sapi yang umur dan besarnya hampir sama, sapi-sapi betina dewasa disuntik hormon supaya birahinya serentak. Sebab, hanya sapi betina dewasa yang sedang birahi yang menghasilkan sel telur yang siap dipertemukan dengan sel jantan melalui kawin suntik itu yang akan tumbuh menjadi embrio dan akhirnya menjadi anak sapi. Menyeragamkan atau sinkronisasi birahi sapi betina melalui suntik hormon itulah yang disebut dengan "Gerakan Serentak Birahi" atau "Gertak Birahi". Tapi program Gertak Birahi hanya ada pada ternak sapi. Sekali-sekali jangan dicoba pada manusia.
Canggih ya? Entahlah. Program Gertak Birahi sapi ini sudah dimulai di era !970-an, di era Presiden Soeharto yang memang gemar beternak sapi. Jadi, maju atau mundur?


fabel - Riau Pos 24 Agustua 2015
Tulisan ini sudah di baca 884 kali
sejak tanggal 24-08-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat