drh. Chaidir, MM | Politik Dagang Sapi | PERDAGANGAN sapi menjadi isu hangat akhir-akhir ini. Pertama, dalam arti sesungguhnya, ada kisruh dalam pengadaan sapi potong. Kuota impor sapi potong dikurangi, akibatnya harga daging sapi melambung. Ada mafia sapi kelihatannya dalam kisruh ini, yang tentu saja merugikan konsumen. Kedua, dalam arti
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Politik Dagang Sapi

Oleh : drh.chaidir, MM

PERDAGANGAN sapi menjadi isu hangat akhir-akhir ini. Pertama, dalam arti sesungguhnya, ada kisruh dalam pengadaan sapi potong. Kuota impor sapi potong dikurangi, akibatnya harga daging sapi melambung. Ada mafia sapi kelihatannya dalam kisruh ini, yang tentu saja merugikan konsumen. Kedua, dalam arti kiasan: "politik dagang sapi." Secara kebetulan heboh perdagangan sapi itu bersamaan pula dengan reshuffle kabinet yang terkesan tiba-tiba yang dilakukan oleh Presiden Jokowi.

Isu reshuffle kabinet di negeri kita, seakan sudah menjadi penyakit menahun atau penyakit bawaan, selalu dikaitkan dengan politik dagang sapi, walaupun misalnya pada kenyataannya, reshuffle itu sudah diupayakan berdasarkan pendekatan merit system. Kekuasaan sudah terlanjur dicurigai selalu sarat dengan kepentingan.

Partai politik yang tergabung dalam koalisi besar, sangat mungkin melakukan tawar menawar posisi menteri atau posisi lainnya. Mereka berbagi kursi kekuasaan. Maka ada istilah, karena proses bagi-bagi kursi menteri itu berdasarkan politik dagang sapi, kabinetnya dijuluki pula 'kabinet dagang sapi'. Keadaan memang akan menjadi sangat memprihatinkan bilamana kabinet tersebut menggunakan pendekatan dagang sapi dalam menyusun program-program prioritasnya apalagi menyangkut anggaran.

Sesungguhnya tak ada yang salah bila seseorang berdagang sapi. Dalam perdagangan sapi juga berlaku hukum dagang secara umum. Bila pembeli banyak, sedangkan jumlah ternak sapi yang siap diperdagangkan terbatas, misalnya menjelang hari raya kurban, maka harga sapi akan meningkat. Dan sebaliknya, bila persediaan atau stok sapi banyak, sementara permintaan pasar lesu, maka harga akan turun.

Hukum ekonomi yang paling sederhana, supply and demand (permintaan dan suplai), sebenarnya berlaku untuk komoditi apapun. Sapi, kerbau, kambing, ayam buras, ayam kampung, bawang, cabai, beras, semuanya bisa dipandang sebagai komoditi. Untung-rugi dalam perdagangan, itu sesuatu yang lumrah. Pedagang mengambil untung, halal. Bahkan bila harganya meningkat berlipat, sepanjang jual-belinya sah, ada akad jual-beli, pembeli memberi uang dan penjual menerima uang, tidak ada paksa memaksa, maka uang hasil jual-beli itu halal.

Masalahnya jadi runyam bila dagang sapi itu diintervensi oleh makhluk siluman yang bernama politik. Kegiatan dagang sapi yang semula halal bihalal saja, menjadi haram bila diseret ke wilayah politik yang bernama "politik dagang sapi." Kenapa? Karena politik dagang sapi diartikan sebagai praktik politik yang licik, curang, negatif, hanya menguntungkan para elit tapi mengorbankan orang banyak. Politik dagang sapi adalah suatu tindakan dimana beberapa pihak mengadakan kesepakatan saling menguntungkan demi tercapainya kepentingan pribadi atau kelompok antara pihak-pihak tersebut. Jelas dalam pihak ini keduanya mendapatkan sesuatu yg menguntungkan sebagai ganjaran atas apa yg telah mereka sepakati.

Politik dagang sapi juga biasa disebut politik transaksional. Secara sederhana ada transaksi untuk setiap perebutan kekuasaan atau pengisian posisi penting di berbagai lembaga, ada "yang menjual ada yang membeli". Ada alat pembayaran untuk jual-beli tersebut. Dan itu tidak hanya berupa uang, tapi bisa berupa tukar menukar jabatan, gratifikasi, seks, dan sebagainya. Cakupannya bisa sangat luas. Dan politiklah yang bikin ulah yang telah mencoreng nama dagang sapi sehingga memiliki konotasi negatif.

fabel - Koran Riau 18 Agustus 2015
Tulisan ini sudah di baca 927 kali
sejak tanggal 18-08-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat