drh. Chaidir, MM | Kopi Gading Hitam | SEEKOR Gajah Sumatera jantan (Elephas maximus sumatranus) masuk kampung di Pekanbaru kamis malam (23/7) beberapa hari lalu. Geger. Adakah hubungannya dengan sepakbola antar kampung (tarkam) yang terpaksa dilakoni pemain tim nasional kita dewasa ini karena ulah Menpora Imam Nahrawi yang membekukan PS
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Kopi Gading Hitam

Oleh : drh.chaidir, MM

SEEKOR Gajah Sumatera jantan (Elephas maximus sumatranus) masuk kampung di Pekanbaru kamis malam (23/7) beberapa hari lalu. Geger. Adakah hubungannya dengan sepakbola antar kampung (tarkam) yang terpaksa dilakoni pemain tim nasional kita dewasa ini karena ulah Menpora Imam Nahrawi yang membekukan PSSI? Tentu tidak. Gajah ya gajah, sepakbola ya sepakbola, walau kadang-kadang juga ada sepakbola gajah, baik dalam bentuk sarkasme maupun dalam bentuk nyata, ketika gajah-gajah memang dilatih bermain sepakbola sungguhan.

Seekor gajah jantan berkeliaran sendirian itu biasa. Gajah jantan dewasa "memang kek gitu orangnya". Yang tinggal dalam kelompok biasanya adalah gajah betina di bawah pimpinan seekor gajah betina paling tua. Gajah jantan dewasa mengalami fase peningkatan hormon testosteron yang disebut musth. Gajah jantan pertama kali memasuki periode musth (merasakan dorongan birahi yang kuat) pada umur 15 tahun. Ini cocok dengan perkiraan usia gajah jantan yang bikin kejutan masuk kampung di pinggir kota Pekanbaru itu.

Gajah jantan yang sedang berada dalam periode musth, biasanya berkeliaran (tentu berupaya mencari si dia sang betina yang bersedia diajak bermain cinta), cenderung agresif dan memiliki tenaga yang luar biasa dibanding dengan gajah-gajah jantan yang tidak sedang dalam peride musth. Bahkan demikian berani dan kuatnya gajah jantan yang sedang musth, dia bisa mengalahkan gajah jantan yang lebih besar yang tidak sedang musth.

Gajah jantan yang bikin heboh itu sudah dilumpuhkan. Diangkut ke tempat penampungan sementara. Tak berkutik dia menghadapi akal manusia. Masalah pun selesai. Bertahun-tahun hubungan manusia dan gajah di negeri kita selalu demikian, saling ancam. Ada persaingan, ada kompetisi untuk memperebutkan wilayah kehidupan. Banyak gajah yang dipindahkan, banyak juga yang dibunuh baik karena alasan mengganggu tanaman perkebunan penduduk maupun untuk sekedar diambil gadingnya.

Tanpa kita sadari, di negeri lain, di Negeri Gajah Putih Thailand, gajah tak lagi hanya dipakai tenaganya untuk mengangkut barang atau memindahkan kayu log seperti yang terjadi semenjak masa Peradaban Lembah Indus ribuan tahun silam hingga masa modern sekarang; atau gajah digunakan sebagai tunggangan turis di tempat objek wisata. Gajah kini telah diberi peran lain yang jauh lebih prospektif sebagai profit center.

Adalah Blake Dinkin, seorang warga Kanada (42 tahun), yang bikin ulah. Dinkin mengeluarkan biaya sebanyak $300 ribu dolar Amerika atau lebih kurang Rp 4,5 miliar untuk melakukan percobaan demi percobaan di Thailand guna memproduksi kopi yang unik dengan cita-rasa kopi yang khas. Skemanya kira-kira sama dengan kopi luwak yang sudah lebih dulu terkenal. Gajah diberi makan biji kopi. Kemudian biji kopi yang telah melalui saluran pencernaan gajah keluar melalui kotorannya. Biji kopi yang numpang lewat dalam sistem pencernaan gajah tersebut diproses. Dan rupanya, setelah melalui sentuhan enzim (proses kimiawi) dalam perut gajah, biji kopi tersebut ternyata cita-rasanya disukai kalangan atas, maka jadilah kini Black Ivory Coffee yang diartikan "Kopi Gading Hitam". Kopi gajah bermerek Black Ivory Coffee ini diluncurkan tahun 2012 silam di beberapa hotel mewah di Thailand utara, Maladewa, dan Abu Dhabi, dengan harga $50 AS secangkir (sekitar Rp 600.000). Untuk membeli satu kilogram kopi ini, Anda harus merogoh kocek sebesar 1.100 dollar AS atau Rp12,5 juta.

Menurut kantor berita Associated Press (sebagaimana dimuat google.com) lokasi produksi kopi kotoran gajah itu berada di perbukitan Segi Tiga Emas, tempat yang terkenal sebagai produsen candu di Thailand. Kini di daerah itu ada rombongan 20 ekor gajah menghasilkan kopi paling mahal di dunia.

Hasil kopi dari perut gajah ini serupa dengan kopi luwak buatan Indonesia yang juga mahal, yang diambil dari biji-biji kopi dalam kotoran musang. Perut gajah yang besar tentu menghasilkan Kopi Gading Hitam lebih banyak dari kopi luwak. Ayo kita pelihara gajah.

fabel - Koran Riau 28 Juli 2015
Tulisan ini sudah di baca 547 kali
sejak tanggal 28-07-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat