drh. Chaidir, MM | Budaya Lebah Madu | BISAKAH manusia meniru lebah madu? Tidak. Secara anatomi lebah bersayap dan memiliki sengat, manusia tidak. Lebah menghasilkan madu, manusia menghasilkan residu yang mencemari lingkungan. Dari segi perilakunya apalagi. Lebah terpuji tanpa kecuali, filsafat hidupnya hebat bak malaikat. Sedang manusia
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Budaya Lebah Madu

Oleh : drh.chaidir, MM

BISAKAH manusia meniru lebah madu? Tidak. Secara anatomi lebah bersayap dan memiliki sengat, manusia tidak. Lebah menghasilkan madu, manusia menghasilkan residu yang mencemari lingkungan. Dari segi perilakunya apalagi. Lebah terpuji tanpa kecuali, filsafat hidupnya hebat bak malaikat. Sedang manusia si makhluk pemikir, sebanyak yang hebat sebanyak yang jahat. Sebanyak yang baik hati sebanyak yang dengki.

Manusia sibuk melakukan revolusi mental, mengubah mindset (pola pikir) agar tetap eksis dalam kehidupan masa depan yang penuh persaingan, lebah tak terpengaruh sama sekali. Lebah bergeming, mereka tenang-tenang saja. Lebah juga tak risau dengan budaya asing, tak khawatir terjadi dekadensi moral pada remaja-remajanya. Lebah tak memerlukan perubahan dalam budaya hidup. Adagium, "tak ada yang berubah di muka bumi ini kecuali perubahan itu sendiri", tak berlaku dalam masyarakat lebah.

Sejak jutaan tahun lalu, sejak mereka diperintah oleh Yang Maha Pencipta tunduk kepada Nabi Adam, mereka hidup patuh dan taat, seperti apa dulu mereka hidup bermasyarakat, seperti itu juga sekarang. Tak ada yang berubah. Lebah senantiasa profesional dalam berorganisasi dan membangun wadah organisasi, dan selalu taat SOP. Filosofi hidup tak pernah berubah: mengambil yang baik dari tempat yang baik dan menghasilkan yang terbaik. Lebah tidak merugikan lingkungan atau menimbulkan kerusakan, sebaliknya mereka justru memberi kontribusi positif terhadap lingkungan. Mereka adalah pekerja keras. Tapi bila mereka diganggu, maka mereka akan mempertahankan harga diri hingga mati

Lihatlah bagaimana lebah membangun organisasi. Dalam suatu koloni lebah madu selalu terdiri atas tiga jenis, yang masing-masing memiliki fungsi dan tugas spesifik yaitu lebah ratu, lebah pejantan, dan lebah pekerja. Lebah ratu berfungsi sebagai pimpinan koloni (setiap koloni hanya ada satu lebah ratu). Lebah pekerja berfungsi sebagai penyedia makanan bagi seluruh koloni serta menjaga koloni dari serangan musuh, sedangkan lebah pejantan berfungsi sebagai pasangan kawin bagi lebah ratu dan langsung mati setelah kawin dengan ratu.

Keunggulan Lebah madu juga ditunjukkan dengan bagaimana mereka membangun sarang. Sarang berfungsi sebagai tempat hidup koloni dengan bentuk segi enam (heksagonal) sempurna dengan ukuran yang sama. Berdasarkan penelitian, bentuk heksagonal adalah bentuk terbaik dan teroptimal dalam pemanfataan ruang dibandingkan bentuk lainnya. Sarang tersebut dibuat dari zat lilin (hasil sekresi tubuhnya) dan difungsikan untuk menjamin kelangsungan hidup koloni yaitu sebagai tempat yang aman dan nyaman bagi pertumbuhan larva lebah serta tempat penyimpanan makanan koloni.

Lebah madu hanya mengumpulkan makanan berupa nektar, pollen, royal jelly dari bunga lalu menghasilkan makanan yang tidak hanya bermanfaat bagi koloni namun juga bermanfaat bagi manusia. Lebah madu tidak pernah mengumpulkan makanan dari tempat sampah atau tempat jorok lainnya, sehingga hasil produksi lebah madu akan selalu sehat dan menyehatkan. Tidak hanya menghasilkan madu, propolis, dan royal jelly, namun lebah madu juga membantu penyerbukan bunga yang dihinggapinya. Hebatnya, ketika lebah madu mengumpulkan makanan hinggap di pelbagai bunga dan ranting, tidak ada satu pun bunga yang rusak atau ranting yang patah, bahkan tidak ada sampah yang ditinggalkan olehnya.

Lebah pekerja memulai pekerjaannya sebelum matahari terbit dan mengakhirinya sebelum matahari terbenam, mereka mampu menempuh perjalanan hingga beberapa kilometer dalam mengumpulkan makanan. Dari semua lebah pekerja yang mengumpulkan makanan tidak ada satupun yang mangkir dari tugasnya serta tidak ada yang korupsi, semua makanan yang didapat dikumpulkan di sarang untuk kemudian dibagi berdasarkan pembagian yang adil.

Hampir semua agama di dunia telah menyebutkan madu lebah sebagai sesuatu yang baik bagi manusia, bahkan ajaran Islam telah menggunakan lebah madu sebagai penggambaran karakter para pengikutnya. Bahkan nama lebah madu pun diabadikan sebagai nama salah satu surah di dalam kitab suci Al-Qur’an (Surah A-Nahl).

Filosofi hidup lebah banyak diuraikan dalam berbagai tausyiah Ramadan. Perilaku hidup lebah seakan tak ada celanya sama sekali. Lebah madu sering digunakan manusia sebagai acuan dalam berperilaku. Memang, tidak seperti lebah, kehidupan manusia itu dinamis selalu ada tantangan, peradaban berkembang cepat zaman berzaman. Namun perilaku hidup bermasyarakat lebah perlu ditiru oleh manusia, karena, sebaik-baik manusia adalah manusia yang mampu memberikan manfaat yang sebanyak-banyaknya bagi manusia lain dan lingkungannya. Persis seperti lebah.


fabel - Koran Riau 7 Juli 2015
Tulisan ini sudah di baca 444 kali
sejak tanggal 07-07-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat