drh. Chaidir, MM | Tabir Manusia dan Hewan | MANUSIA dan hewan sesungguhnya sama; sama-sama makhluk bernyawa di muka bumi yang diciptakan oleh Yang Maha Pencipta. Satu sama lain bisa dibilang dekat bisa dibilang jauh. Dibilang dekat, karena sama-sama penghuni planet bumi; dibilang jauh, karena yang satu dianugerahi akal budi, yang lainnya hany
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Tabir Manusia dan Hewan

Oleh : drh.chaidir, MM

MANUSIA dan hewan sesungguhnya sama; sama-sama makhluk bernyawa di muka bumi yang diciptakan oleh Yang Maha Pencipta. Satu sama lain bisa dibilang dekat bisa dibilang jauh. Dibilang dekat, karena sama-sama penghuni planet bumi; dibilang jauh, karena yang satu dianugerahi akal budi, yang lainnya hanya dibekali instink. Modal dasar itu ternyata membawa konsekuensi perbedaan bak bumi dan langit atau bak siang dan malam. Yang satu bisa menepuk dada, merekalah makhluk ciptaan Tuhan paling sempurna.

Makhluk hewan, rumusnya hidup hanya untuk makan, sedangkan bagi manusia makan untuk hidup; maknanya, bagi manusia, makan bukan segalanya, hanya sekedar untuk bertahan hidup. Bahkan adakalanya karena kesibukan untuk meraih keuntungan yang luar biasa, manusia seringkali bilang, makan bisa nanti saja. Hal seperti itu tak akan terjadi dalam dunia hewan; selama masih ada makanan, mereka akan habiskan sekaligus. Mereka tak pernah berpikir menyimpan makanan untuk esok hari. Logika itu hanya milik manusia yang berakal.

Demikian terhormatnya manusia, mereka bahkan berpuasa di bulan tertentu sesuai tuntunan agama. Makanan milik sendiri, hasil pencaharian sendiri, di rumah sendiri, dilarang untuk dimakan selama berpuasa dan hebatnya, manusia dengan ikhlas mematuhinya. Ular berpuasa selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan bukan karena perintah berpuasa, tapi karena mereka tak lagi mampu bergerak setelah makan dengan porsi yang sangat besar, biasanya setelah menelan seekor babi besar, rusa atau kambing. Demikian pula hewan-hewan tertentu terpaksa hibernasi karena faktor iklim; mereka tidak makan tapi bukan karena perintah berpuasa.

Tetapi, di samping kesamaan sebagai sesama makhluk bernyawa di muka bumi, antara manusia dan hewan sesungguhnya dipisahkan oleh membran yang tembus pandang. Tapi tak ada seorang pun yang bisa mengukur tebal-tipisnya tabir tersebut; setipis sutrakah atau setebal seratus tahun cahayakah, tak ada bisa menduga. Namun tabir tersebut transparan, atau lebih tepatnya, tak terlihat dan tak bisa pula diraba. Tabir itu bernama takdir. Siapa yang bisa menduga takdir? Takdir itu milik Sang Maha Pencipta. Mutlak.

Takdirlah sesungguhnya yang memisahkan manusia dan hewan, kedua makhluk yang diciptakan dan sangat disayangi oleh Sang Penciptanya. Tapi bukankah yang satu berakal sedangkan lainnya tidak? Ternyata dalam berbagai riwayat, berakal atau tak berakal nggak ngaruh di mata Sang Pencipta. Manusia yang berakal sekalipun, bila akalnya suka digunakan untuk mengakal-akali manusia lainnya sehingga merugikan pihak lain, bersiap-siaplah mendapat ganjaran neraka.

Makhluk yang tak berakal jangan diperlakukan sewenang-wenang oleh makhluk yang berakal. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW pernah bersabda, "suatu ketika seorang lelaki yang melakukan perjalanan sangat kehausan. ia turun ke sebuah sumur, lalu minum air dari situ. Pada saat ia keluar dari tempat itu, ia melihat seekor anjing menjilati lumpur karena rasa haus yang menyengat. laki-laki itu berkata, (anjing) ini sengsara karena persoalan yang sama denganku", lalu ia (turun kembali ke dalam sumur), mengisi sepatunya dengan air, menggigitnya dengan giginya, dan memanjat dinding sumur, kemudian memberinya minum dengan air itu. Allah berterima kasih atas perbuatan (baiknya) dan memaafkannya".

Dalam hadis lain diriwayatkan, "Seorang wanita disiksa karena ia mengurung seekor kucing hingga mati dan wanita itu pun masuk neraka; wanita tersebut tidak memberi kucing itu makan dan minum saat dia mengurungnya dan tidak membiarkannya untuk memakan buruannya."

Para sahabat bertanya, wahai Rasulullah, apakah kita akan mendapat pahala jika menolong hewan? Rasul bersabda, "Kebaikan kepada setiap yang punya hati (makhluk hidup) ada pahalanya". Allah SWT bisa memasukkan seseorang ke dalam surga karena kebaikannya kepada mahluk hidup lain, sebaliknya bisa memasukkan seseorang ke dalam neraka hanya karena perbuatan buruknya pada mahluk hidup yang lainnya juga.

Setiap ciptaan Tuhan Yang Maha Pencipta tidak ada yang sia-sia, masing-masing memiliki peran. Semua sedang menjalankan tadir. Manusia ditakdirkan memiliki akal sehat. Dan puasa Ramadan seyogianya menumbuhkan kesadaran untuk memaknai takdir tersebut. Mumpung takdirnya belum dibalik.

fabel - Koran Riau 30 Juni 2015
Tulisan ini sudah di baca 361 kali
sejak tanggal 30-06-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat