drh. Chaidir, MM | Jangan Anggap Remeh Keledai | KASIHAN keledai. Namanya identik dengan kebodohan atau kedunguan. Bangsa manusia yang beradab sering membuat perumpamaan,
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Jangan Anggap Remeh Keledai

Oleh : drh.chaidir, MM

KASIHAN keledai. Namanya identik dengan kebodohan atau kedunguan. Bangsa manusia yang beradab sering membuat perumpamaan, "hanya keledai yang terperosok ke dalam lubang yang sama". Artinya, keledai adalah binatang yang bodoh bingit. Demikian bodohnya, sehingga nalurinya pun sering tak jalan, yang membuat keledai tak bisa mengelak dari lubang yang sama, padahal dia pernah terperosok ke dalam lubang tersebut.

Tapi dalam versi lain, ada pula ungkapan, sebodoh-bodohnya keledai, mereka tak akan terperosok pada lubang yang sama. Artinya, keledai pun tak bodoh-bodoh amat. Beda dengan cerita Keledai Buridan Aristoteles yang rela mati karena tidak bisa memutuskan mana di antara dua bal jerami kegemarannya yang harus dimakan terlebih dulu (untuk akhirnya, tak satu pun dari bal jerami tersebut yang dimakan, dan akhirnya sang keledai mati kelaparan), cerita keledai dan sumur tua sedikit memberikan pembelaan kepada keledai.

Dikisahkan, seorang petani tak dapat akal untuk menolong keledainya yang sudah tua terperosok ke dalam sebuah sumur tua yang dalam. Daripada nanti bangkai keledai menimbulkan bau busuk, sang petani minta bantuan tetangganya untuk menimbun sumur tua tersebut, mengubur saja hidup-hidup keledai tua tersebut, toh keledai itu juga tak lagi kuat untuk mengangkut beban. Di dalam sumur keledai ketakutan setengah mati. Dia pikir, dia habis, tamat riwayatnya. Dibiarkan saja dalam sumur tersebut dia akan mati pelan-pelan, apalagi ditimbun. Sang keledai berteriak-teriak dengan suaranya yang serak tak enak didengar (suara keledai adalah sejelek-jelek suara), mencoba minta tolong, tapi penimbunan itu terus berlangsung.

Tiba-tiba sang keledai merasakan sesuatu keanehan. Secara reflek digoyang-goyangkannya badannya untuk menjatuhkan tanah dan sampah yang menumpuk di punggungnya. Sedikit demi sedikit dia naik ke permukaan sumur. Semakin petani dan kawan-kawan menambah tanah ke dalam sumur semakin cepat keledai itu naik. Untuk akhirnya kemudian petani dan teman-temannya terkesima, keledai itu melompat ke luar sumur selamat dari penguburan hidup-hidup.

Keledai baru kena batunya ketika dia mencioba menipu tuannya. Suatu kali karena beban garam yang terlalu berat di punggungnya, sambil minum dalam perjalanan, keledai terjatuh berguling-guling di sungai. Aneh bebannya makin lama dirasakannya makin ringan (ya iyalah, garamnya kan mencair, larut dalam air). Lama-kelamaan hanya tinggal karung garam saja di pundak keledai. Menyadari apa yang terjadi, keledai menggunakan taktik yang sama, sekali sukses, dua kali sukses. Tapi tuannya sadar, maka kemudian keledai diberinya beban karung yang sangat besar tapi ringan karena berisi kapas. Seberat apapun bebannya, keledai tak khawatir, dia masih bisa menggunakan jurus yang sama, pikir keledai. Sampai di sungai dia berguling-guling membasahkan bebannya. Apa yang terjadi? Bebannya bertambah berat sekali karena kapas tersebut tidak larut, tapi menyerap air.

Keledai adalah salah satu binatang yang disebut dalam kitab suci Al Quran. Salah satu ayat menyebutkan, kaum yahudi yang tidak mau mengamalkan Taurat, mereka tak ubahnya seperti keledai yang mengangkut kitab-kitab di punggungnya. Kitab-kitab itu sama sekali tidak bermanfaat baginya selain membuatnya kepayahan.

Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah menerangkan bahwa keledai mampu melihat jin. Beliau memerintahkan umatnya untuk memohon perlindungan kepada Allah bila mendengar ringkikan keledai di malam hari, karena sejatinya keledai sedang melihat jin. Dari penelitian terungkap bahwa keledai dapat melihat dengan sinar inframerah, sementara bangsa jin diciptakan Allah dari api. Artinya, jin termasuk dalam lingkup inframerah. Karena itulah keledai dapat melihat jin. Bila dianalogkan, ringkikan kuda di malam hari mungkin karena kuda melihat jin. Bukankah kuda sejenis dengan keledai? Bagi yang senang pelihara kuda, perhatikan baik-baik perangai kudanya di malam hari..hahaha…

Hal unik lainnya dari keledai adalah air susunya ternyata memiliki kualitas lebih baik dari susu sapi. Kandungan protein di dalam susu keledai dua kali lipat dari susu sapi. Bahkan di Eropa, susu keledai dijadikan untuk masker yang bermanfaat untuk membersihkan dan melembutkan kulit. Yang mencengangkan, olahan keju dari susu keledai adalah yang termahal di dunia, mengalahkan keju yang berasal dari susu sapi.

Maka jangan anggap remeh binatang, bangsa itu sama dengan manusia, sama-sama ciptaan Tuhan Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Masing-masing diciptakan ada kelebihan, kekurangannya, dan ada tujuannya. Bacalah. Selamat berpuasa Ramadan.

fabel - Koran Riau 23 Juni 2015
Tulisan ini sudah di baca 588 kali
sejak tanggal 23-06-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat