drh. Chaidir, MM | Merpati PSSI | MENPORA Imam Nahrawi mungkin tak pernah  mendengar jargon Pergadaian negeri kita:
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Merpati PSSI

Oleh : drh.chaidir, MM

MENPORA Imam Nahrawi mungkin tak pernah mendengar jargon Pergadaian negeri kita: "Menyelesaikan masalah tanpa masalah". Sehingga, keputusan yang diambilnya, yang katanya untuk menyelesaikan masalah, menimbulkan masalah. Buktinya, pembekuan pengurus PSSI dan pelarangan semua kegiatan PSSI di seluruh wilayah Republik Indonesia menimbulkan masalah bahkan masalah besar bagi persepakbolaan Indonesia.

Dalam kacamata Menpora Imam Nahrawi dan kawan-kawan, PSSI sarat dengan masalah. Apa yang dilakukan PSSI salah semua; dalam tubuh PSSI ada mafia, dan berbagai daftar dosa lainnya. Casus belli-nya, dua klub anggota ISL yang sudah memulai kompetisi dalam liga tertinggi kasta sepakbola Indonesia, yang disponsori oleh sponsor bergengsi Qatar National Bank (QNB), yakni Persebaya dan Arema dituduh memiliki kepengurusan ganda dan tersangkut dalam masalah perpajakan, dilarang ikut liga.

Akibatnya, jumlah klub yang bertanding dalam QNB ISL yang dikelola PT Liga Indonesia (LI), yang semula 18 klub tinggal 16 klub. Dan QNB ISL yang berada di bawah naungan organisasi sepakbola dunia FIFA tidak bisa dilanjutkan karena tidak memenuhi jumlah minimal (18) klub yang berlaga dalam kasta tertinggi liga di sebuah Negara, di belahan dunia manapun. Disamping itu, PT LI tidak bisa menyelenggarakan QNB ISL karena PT LI berinduk ke PSSI.

Larangan terhadap pertandingan-pertandingan QNB ISL dan Liga Utama PSSI (level kedua setelah ISL), telah melumpuhkan sepakbola Indonesia. Masalahnya kemudian menjadi efek bola salju (snow ball), menggelinding makin lama makin besar dan siap menggilas siapapun dan apapun. Penghentian semua agenda PSSI dan pertandingan liga, tidak hanya membuat kecewa para pencandu sepakbola di seluruh Indonesia, lebih dari itu, telah menghentikan asap dapur insan-insan sepakbola, seperti para pemain, pelatih, wasit, petugas pertandingan, pengurus klub masing-masing beserta keluarganya. Dan tidak kalah pentingnya, telah menghentikan roda perekonomian ribuan para pedagang asongan rakyat kecil yang sangat tertolong dengan adanya keramaian pertandingan di setiap stadion dimana pun. Para pedagang asongan ini kini gigit jari, entah dengan apa mereka akan beri makan anak istrinya.

Sepakbola di era modern sekarang sudah menjadi industri yang melibatkan entitas bisnis global. Sebagai industri, sepakbola terikat dalam ketentuan-ketentuan, dan kaidah-kaidah serta budaya baru sepakbola masyarakat dunia. Budaya sepakbola dunia yang tumbuh berkembang dengan segala konsekuensi bisnisnya. Sepakbola tak lagi bisa dipisahkan dengan bisnis, industri olahraga, industri media, sponsorship, bahkan dunia entertain.

Oleh karena itu kelihatannya sederhana, dengan kekuasaan dan kewenangan yang ada di tangan, Menpora bisa dengan mudah membekukan PSSI dan PT LI, ambil alih, dan bentuk Tim Transisi. Tapi masalah pengakuan FIFA adalah masalah lain yang tak mudah. Sebab di sana ada statuta, code of conduct yang tidak bisa diterabas begitu saja, bahkan oleh Presiden FIFA sekali pun.

Orang-orang tua kita dulu, memberi nasihat, hati-hati, jangan membunuh seekor tikus dengan membakar lumbung. Itu namanya menyelesaikan masalah dengan masalah. Tapi kesalahan itu tak hanya terjadi di sini, di Inggris pun kesalahan senada pernah terjadi, tapi bukan dalam dunia sepakbola.

Ceritanya, para pengelola tournament akbar tenis grandslam Wimbledon yang terkenal itu, risau karena pertandingan tenis Wimbledon sering diganggu oleh burung merpati yang berterbangan di Trafalgar Square, stadion tenis tersebut. Mungkin burung-burung merpati ini tak mau ketinggalan, ikut nonton.

Pada tahun 2000, All England Club mempekerjakan elang yang disebut Hamish untuk mengusir merpati, bahkan melengkapi burung pemangsa tersebut kartu pass yang dilaminating agar bebas masuk turnamen. Tapi di tahun 2008 patroli elang itu terbukti tidak cukup, dan sebuah tim penembak jitu (sniper) disewa untuk menembak burung-burung merpati pengganggu. Merpati pun satu persatu jatuh ke bumi dihajar peluru sniper, dan sang sniper pun menikmati permainan tersebut.

Wimbledon kemudian memang bebas dari merpati, tapi mengundang masalah lain, pengelola tournamen dan sniper harus berhadapan dengan protes keras kelompok pencinta hewan. Rasain lu.

fabel - Koran Riau 26 Mei 2015
Tulisan ini sudah di baca 348 kali
sejak tanggal 26-05-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat