drh. Chaidir, MM | Teganya Manusia | MANUSIA memang kek gitu perangainya.  Sebanyak yang baik sebanyak itu pula yang tidak baik kelakuannya. Bahkan kadang-kadang orang yang dikenal baik pun, tiba-tiba kelihatan belangnya, atau orang yang sebenarnya baik , mendadak bikin blunder (langkah bodoh dalam permainan catur), sehingga jadi konyo
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Teganya Manusia

Oleh : drh.chaidir, MM

MANUSIA memang kek gitu perangainya. Sebanyak yang baik sebanyak itu pula yang tidak baik kelakuannya. Bahkan kadang-kadang orang yang dikenal baik pun, tiba-tiba kelihatan belangnya, atau orang yang sebenarnya baik , mendadak bikin blunder (langkah bodoh dalam permainan catur), sehingga jadi konyol. Ada pula yang pengsiun sebagai si buruk laku berubah menjadi si baik laku (mengalami revolusi mental barangkali).

Tapi begitulah. Manusia selalu punya kata-kata ampuh untuk memaafkan ketololannya: "Tak ada gading yang tak retak", tak ada manusia yang luput dari kesalahan, katanya. Dalil itulah agaknya yang tepat disandangkan pada pasangan suami istri Utomo Purnomo, 45 tahun, dan Nurindria Sari, 42 tahun. Keduanya kini terpaksa berurusan dengan aparat penegak hukum dalam kasus dugaan penelantaran lima orang anak kandungnya sendiri, sebagaimana heboh diberitakan di berbagai media masa konvensional dan media sosial.

Perangai pasutri tersebut membuat masyarakat mengurut dada, miris. Betapa tidak, mereka menelantarkan lima orang anak kandung buah cinta mereka. Anak-anak tersebut tentu bukan lahir akibat kawin paksa, sebab kalau kawin paksa tak mungkin sampai lima. Anak-anak itu, seperti bahasa sinetron, tak pernah minta dilahirkan. Bahkan satu-satunya anak laki-laki (berumur 8 tahun) dari lima orang bersaudara dibiarkan sebulan tak boleh masuk rumah. Anak itu tidur di pos jaga perumahan Citra Gran Cibubur, Bekasi. dan bertahan hidup berkat belas kasihan para tetangganya.

Utomo Purnomo dan Nurindria Sari bakal dijerat dengan Pasal 76, Pasal 77b dan c, serta Pasal 80 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Juga Pasal 44 dan Pasal 45 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Ancamannya adalah hukuman penjara maksimal 15 tahun atau minimal 5 tahun. Nah kalau mereka dipenjara, keadaan tentu menjadi dilematis, siapa yang bertanggung jawab membesarkan mendidik lima orang anaknya?
Gerangan setan apakah yang bersemayam dalam diri pasutri itu? Dari berita, ditemukan sabu di rumah mereka. Itukah biangnya? Barangkali ya, tapi juga tak menjawab rasa penasaran. Sebab, ketika tidak sedang nyabu atau tidak sedang sakaw, tentu naluri sayang anak mereka akan kembali normal. Bukankah mereka tidak sakaw setiap saat? Bukankah sang suami adalah seorang dosen?

Berbagai komentar muncul terutama di jejaring media sosial. Bila nanti kelakuan pasutri tega itu terbukti benar, maka bolehlah mereka dicap sebagai orang tua durhaka. Ternyata, tidak hanya anak yang bisa durhaka pada orang tuanya, orang tua pun bisa durhaka pada anak-anaknya. Dunia sudah terbalik-balik, mungkin kiamat sudah dekat.

Kita termenung. Setiap kali ada berita tentang orang tua yang menelantarkan anaknya, atau orang tua yang menyiksa anaknya sampai ada yang tewas, atau seorang ibu membuang orok yang baru dilahirkannya, setiap kali pula orang membandingkan kelakuan manusia makhluk berakal itu dengan makhluk lain yang bernama hewan. Hewan jelas tidak punya akal, tapi hewan punya naluri sayang anak.

Sebuas-buas seekor singa misalnya, dia tidak memangsa anaknya sendiri, demikian pula harimau, beruang, serigala, dan lain-lain. Semua hewan memiliki naluri menyayangi dan melindungi anaknya yang baru dilahirkan atau baru ditetaskan. Anak-anak hewan itu dijaga Bahkan seekor induk hewan menjadi sangat agresif terhadap pihak lain yang dianggap mengganggu anak-anaknya. Seekor induk ayam yang baru menetaskan telurnya dengan gagah berani akan menyerang orang yang mendekat.

Ikan Toman yang tergolong ikan buas, memiliki kebiasaan ‘mengasuh’ anak-anaknya. Induk toman seringkali didapati berenang di sekitar kelompok anak-anak toman yang masih kecil-kecil. Induk toman tidak segan-segan menyerang orang yang berenang terlalu dekat, yang dikhawatirkan akan mengganggu anak-anaknya.

Anak-anak manusia dan bahkan juga anak-anak hewan sama-sama berhak mendapatkan kasih sayang dari orang tua dan dari induknya. Manusia harusnya lebih, kalau tidak maka manusia berbohong dengan peribahasanya, kasih orang tua sepanjang masa.

fabel - Koran Riau 19 Mei 2015
Tulisan ini sudah di baca 388 kali
sejak tanggal 19-05-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat