drh. Chaidir, MM | Membangunkan Harimau Tidur | SECARA sederhana, umum diketahui, harimau merupakan hewan pemakan daging (karnivora). Harimau adalah jenis kucing terbesar dari spesiesnya, bahkan lebih besar dari singa. Harimau juga adalah kucing tercepat kedua dalam berlari, setelah citah. Dalam keseluruhan karnivora, harimau adalah kucing karniv
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Membangunkan Harimau Tidur

Oleh : drh.chaidir, MM

SECARA sederhana, umum diketahui, harimau merupakan hewan pemakan daging (karnivora). Harimau adalah jenis kucing terbesar dari spesiesnya, bahkan lebih besar dari singa. Harimau juga adalah kucing tercepat kedua dalam berlari, setelah citah. Dalam keseluruhan karnivora, harimau adalah kucing karnivora terbesar dan karnivora terbesar ketiga setelah beruang kutub dan beruang coklat.Harimau termasuk jenis satwa yang dilindungi.

Tapi harimau ternyata juga sebagai mitos. Dalam sudut pandang mitos, harimau itu adalah makhluk jadi-jadian. Manusia Cinaku seperti yang sering kita dengar dalam cerita rakyat adalah manusia harimau. Sang manusia bisa berubah menjadi harimau demikian sebaliknya. Dalam mitos tersebut manusia memiliki hubungan batin dengan harimau. Bahkan ada yang memiliki keyakinan, nenek moyang kita adalah harimau. Sebagai mitos, harimau memiliki peran penting sebagai penjaga kampung dan penjaga hutan rimba dari penjarah penebang hutan. Bila orang kampung berbuat sesuatu yang menyalah, maka harimau akan mengamuk.

Harimau juga bisa sebagai simbol sifat baik dan sifat buruk dalam diri seseorang. Uniknya, harimau sebagai simbol senantiasa tidur lelap dalam diri seseorang tak pernah merasa haus dan lapar, mereka kenyang makan dan minum dalam mimpi. Harimau itu bukan pura-pura tidur, tapi memang tidur pulas. Kalau tak dibangunkan dia tak akan bangun-bangun. Kita manusia memang tidak sadar bahwa dalam diri kita ada "harimau".

Sebagai simbol sifat baik, harimau dalam diri kita itu bisa dibangunkan, dia kemudian berubah wujud berupa motivasi yang sangat luar biasa yang bisa mengubah perilaku yang tidak produktif menjadi produktif. Sifat malas menjadi rajin, sifat boros menjadi hemat, sifat tidak menghargai waktu menjadi menghargai waktu. Kalau kita bisa mengubah mindset lama (pola pikir lama) menjadi mindset baru, kalau kita tidak terbius dalam zona nyaman, maka itu berarti kita sudah bisa membangunkan harimau tidur dalam diri kita. Kita tidak lagi mengeluh tapi optimis dan bergairah.

Susahkah membangunkan sifat baik dalam bentuk harimau tidur dalam kita? Tidak. Semua tergantung diri kita sendiri. Hari ini kita nyatakan berhenti merokok misalnya, maka hari ini juga kita bisa melakukannya. Tidak ada istilah berhenti pelan-pelan. Hari ini kita tidak akan buang sampah sembarangan, maka hari ini juga bisa kita lakukan. Hari ini ditekadkan acara dimulai tidak molor, hari juga bisa kita lakukan. Yang diperlukan hanya sebuah great commitment (komitmen yang hebat) lebih dari sekedar komitmen biasa seperti komitmen "sambal lado". Mau atau tidak kita membangunkan potensi dahsyat harimau tidur dalam diri kita. Bila kita berhasil membangunkannya, maka kita akan segera melihat rangkaian perubahan yang terjadi.

Namun dalam kehidupan sehari-hari, ungkapan "membangunkan harimau tidur" lebih umum dipakai untuk menggambarkan sebuah perbuatan yang menimbulkan masalah besar, padahal bila perbuatan itu tidak dilakukan, keadaan tenang-tenang saja. Ada berbagai masalah yang tersimpan dalam "kotak Pandora" yang sebenarnya sudah menjadi rahasia umum. Masalahnya banyak dan berat-berat. Kotak tersebut dibiarkan tertutup dengan alasan, pertama, orang sudah letih dengan berbagai masalah, tak lagi mau cari gara-gara atau cari kerjaan; kedua, orang sudah mulai lupa.

Kasus Novel Baswedan misalnya, diibaratkan oleh masyarakat seperti membangunkan harimau tidur. Itu kisah lama dalam episode "Cicak vs Buaya" jilid dua. Dalam tugasnya selaku penyidik KPK, Novel harus memeriksa seorang perwira tinggi POLRI, Letjen Djoko Susilo yang tersangkut kasus proyek pengadaan simulator SIM. Novel sukses, sang perwira tinggi tersebut terbukti bersalah di pengadilan. Masalahnya, Novel adalah seorang perwira menengah kepolisian yang ditugaskan sebagai salah seorang dari puluhan penyidik di KPK. Banyak yang kemudian kebakaran jenggot.

Maka kriminalisasi terhadap Novel pun tak terhindarkan. Namun ketika itu Presiden SBY mengambil sikap tegas, megakasus tersebut menjadi kewenangan KPK, maka masalah Novel Baswedan dianggap selesai. Tapi beberapa hari lalu kasus Novel Baswedan kembali diusik. Dan ini boleh jadi seperti membangunkan harimau tidur yang lain, kasus-kasus yang tersimpan dalam kotak Pandora itu berpeluang berhamburan keluar, disaat sebagian besar publik sebenarnya sudah mulai jenuh dan melupakannya. Masih buaskah harimau itu, atau sudah nyaman bermalas-malasan.

fabel - Koran Riau 5 Mei 2015
Tulisan ini sudah di baca 617 kali
sejak tanggal 05-05-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat