drh. Chaidir, MM | Politik Bunglon | 
TIDAK ada keraguan sama sekali tentang reputasi bunglon. Siapa tak kenal bunglon, dunia mengakuinya. Si Bung ini (bunglon) punya jurus meloloskan diri dari keadaan bahaya, dan melalui taktik penyamarannya dia seringkali menjebak mangsanya dengan presisi yang tinggi. Tapi si bung bukan tak pernah g
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Politik Bunglon

Oleh : drh.chaidir, MM


TIDAK ada keraguan sama sekali tentang reputasi bunglon. Siapa tak kenal bunglon, dunia mengakuinya. Si Bung ini (bunglon) punya jurus meloloskan diri dari keadaan bahaya, dan melalui taktik penyamarannya dia seringkali menjebak mangsanya dengan presisi yang tinggi. Tapi si bung bukan tak pernah gagal. Kendati ahli dalam memanjat dan melompat, si bung tak ubahnya seperti tupai, sepandai-pandai melompat sekali-sekali jatuh juga.Tapi jatuh bagi si bung, nggak ngaruh, secepat kilat dia akan kembali memanjat.

Bunglon memiliki nama ilmiah Bronchocela jubata. Dalam bahasa lain, dikenal dengan nama londok atau lunduk, atau green crested lizards. Tapi nama lain bunglon dalam bahasa Inggris cukup mengerikan dan menyesatkan: bloodsuckers (penghisap darah), karena pada kenyataannya kadal ini tidak pernah menghisap darah, bermimpi menghisap darah pun mereka tak pernah.

Bunglon memangsa berbagai macam serangga yang dijumpainya, seperti kupu-kupu, ngengat, capung, lalat dan lain-lain. Untuk menipu mangsanya, bunglon ini kerap berdiam diri di pucuk pepohonan atau bergoyang-goyang pelan seolah tertiup angin. Tapi begitu mangsanya berada dalam jangkauan lidahnya, secepat kilat mangsanya dibekuk.

Dalam ilmu biologi sekolah dasar, bunglon dikenal memiliki jurus mangkus dalam mengelabui predator. Jurus penyelamatan diri ala bunglon disebut mimikri. Ketika merasa terancam ia akan mengubah warna kulitnya menjadi serupa dengan warna lingkungan sekitarnya, sehingga keberadaannya tersamarkan. Perubahan itu ada yang bersifat otomatis, tapi ada pula karena kesengajaan sang bunglon itu sendiri. Mimikri berbeda dengan kamuflase yakni penyamaran bentuk atau warna hewan yang menyerupai makhluk hidup lain.

Menurut para ahli, mimikri dimungkinkan karena adanya pigmen (sel-sel warna) unik pada lapisan kulit bunglon. Pigmen tersebut memberi kemampuan bunglon untuk mengubah warna. Mengutip penjelasan National Geographic, ternyata penyebab bunglon berubah warna disebabkan sinar matahari, suhu udara dan mood. Ketika bunglon yang aslinya berwarna coklat berjemur di bawah sinar matahari, maka bunglon akan mengubah warna kulitnya menjadi hijau untuk memaksimalkan refleksi sinar matahari yang didapat. Ketika suhu dingin, kulit bunglon akan berubah berwarna lebih gelap untuk memaksimalkan penyerapan panas. Ketika bunglon jantan ditantang kelahi oleh bunglon lain, maka warnanya akan berubah menjadi warna menjadi merah kekuningan. Atau ketika si bung 'fall in love', warnanya akan berubah berwarrna-warni, ungu, biru dan kemerahan, maksudnya, apalagi kalau bukan cari perhatian pujaan hati. Ternyata bunglon sama saja dengan si bung bangsa lain, kalau sudah ada yang mengena di hati langsung ambil jurus "carper".

Tentang teori pigmen itu diperkuat oleh ilmuwan dari University of Geneva, Swiss. Ilmuwan ini menjawab rasa penasaran yang sudah lama mereka pendam, bagaimana caranya bunglon mengubah warnanya. Mereka berhasil menjawab pertanyaan tersebut melalui serangkaian penelitian yang dilakukan. Ternyata, bunglon mengubah warna kulitnya dengan cara menyesuaikan lapisan sel-sel khusus yang terdapat di kulit mereka (Tempo.co 14/3/2015). Untuk menyelidiki proses perubahan warna hewan reptil ini para peneliti mempelajari lima bunglon jantan dewasa, empat bunglon betina, dan empat bunglon panther (Furcifer pardalis) remaja--sejenis bunglon yang hidup di Madagaskar. Para ilmuwan mendapati bunglon memiliki dua lapisan tebal sel penghasil pigmen dan bertugas untuk memantulkan cahaya.

Bunglon sesungguhnya diperlakukan tidak adil oleh bangsa manusia. Merek dagang bunglon itu cemar. Bangsa manusia akan marah besar bila dijuluki bunglon. Padahal politik bunglon yang memiliki sifat mimikri bukanlah sesuatu yang buruk, sekurang-kurangnya mimikri hanya mereka lakukan untuk melidungi diri dari predator atau untuk mencari makan, bukan untuk menipu atau memerdayai teman sendiri. Perangai politik manusia yang suka memainkan politik dua kaki, atau kiri kanan ok, atau tak berpendirian, atau biasa menutupi keburukannya dengan pakaian parlente, tidaklah tepat disebut politik bunglon. Tunggulah saatnya, bangsa bunglon akan menuntut manusia atas kasus pencemaran nama baik.

fabel - Koran Riau 21 April 2015
Tulisan ini sudah di baca 791 kali
sejak tanggal 21-04-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat