drh. Chaidir, MM | Kampret Terbang Siang | TIDAK ada kaitan antara film
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Kampret Terbang Siang

Oleh : drh.chaidir, MM

TIDAK ada kaitan antara film "Guru Bangsa Tjokroaminoto" dengan kelelawar, apalagi kelelawar terbang siang. Bukankah kelelawar dikenal secara umum terbangnya malam? Film sejarah yang disutradarai oleh Garin Nugroho, sutradara kondang di Tanah Air itu, tidak bercerita tentang kelelawar terbang siang mau pun malam.

Lantas? Memberi sambutan dalam acara pemutaran perdana film tersebut, beberapa hari lalu, di Jakarta (Kompas 4/4), Garin menyengat (tentu membuat merah telinga) dengan menyebut, saat ini di Indonesia, euforia politik sedang marak sekali. Politik menjadi gaya hidup. Banyak artis jadi politisi atau jadi birokrat (sebagian kecil berdekatan dengan lingkaran istana). Banyak pula politisi terjun dalam dunia artis. "Tanpa membaca sejarah secara cerdas, politisi masa kini bisa nyak-nyakan (tubruk sana dan sini), atau seperti kampret terbang siang (terbang dan menari dalam buta)."

Nah itu dia. Kampret itu kelelawar, kelelawar itu ya kampret. Ada apa dengan kelelawar? Kelelawar memang hewan unik. Umumnya kelelawar termasuk dalam jenis hewan nocturnal (hewan malam), sama seperti burung hantu. Kelelawar terbang dan mencari makan di malam hari yang gelap, siang hari mereka tidur bergelantungan terbalik kaki di atas kepala di bawah, di gua-gua, di dahan-dahan pohon atau di balik dedaunan.

Kelelawar menyesalkan ada perputaran bumi pada sumbunya sehingga ada siang ada malam. Tidakkah boleh setiap hari hanya ada hari malam sehingga bangsa mereka bisa bebas terbang kemana saja tanpa harus berkejar-kejaran menghindari fajar? Begitulah pinta kelelawar sepanjang masa, yang tak pernah dikabulkan oleh Sang Pencipta. Tapi Sang Pencipta itu maha adil dengan memberi instrumen khusus pada indera penglihatan dan pendengaran kelelawar, sejenis instrumen yang tak dimiliki makhluk lain.

Kelelawar memang sangat piawai terbang di kegelapan malam, mereka bisa terbang dengan sangat cepat tanpa menabrak segala sesuatu yang ada di depannya. Kelelawar bisa demikian karena menggunakan teknologi yang dikenal dengan istilah Echolocation (Ekolokasi). Instrumen canggih ini bukan buatan professor di Jepang, Amerika atau Jerman, tapi teknologi yang build in (sudah dari sononya), merupakan transmisi gelombang suara untuk mencari benda, makanan dan untuk mendeteksi rintangan. Suara yang berfrekuensi tinggi ini di luar jangkauan pendengaran manusia.

Saat terbang kelelawar sangat mengandalkan indra pendengarannya. Kelelawar mampu mengeluarkan bunyi ultrasonik yang dikeluarkan dengan tempo teratur melalui mulut dan hidungnya. Saat bunyi ultrasonik ini mengenai benda-benda yang ada di sekelilingnya, gelombang ini akan dipantulkan menjadi gema (echo) yang diterima kembali oleh kelelawar sehingga memberi gambaran benda-benda tersebut bagi kelelawar. Dengan dibantu oleh telinganya, maka kelelawar tidak akan menabrak saat gelap

Pantulan tersebut menjadi semacam radar penentu arah. Istilah echolocation diperkenalkan oleh Donald Griffin pada tahun 1944. Para ahli bionik kemudian meneliti lebih mendalam teknik ekolokasi kelelawar tersebut untuk ditiru dan dikembangkan bagi kepentingan manusia. Industri otomotif misalnya, kini mengembangkan semacam perangkat echolocation, untuk meningkatkan keselamatan sewaktu mengendarai mobil. Pada mobil yang bergerak mundur, sonar mobil akan bunyi secara otomatis bila bagian belakang mobil sudah dekat dengan benda lain.

Umumnya penglihatan kelelawar tak berfungsi dengan baik pada siang hari. Menurut para ilmuwan dari Max Planck Institute (Jerman), ini masalah sel fotoreseptor yang ada di mata kelelawar. Sel ini mempunyai sensitivitas yang sangat tinggi pada cahaya, dan hanya bisa bekerja dengan baik di malam hari yang gelap. Tapi ternyata kemudian, tidak semua kelelawar tidak bisa terbang siang, ilmuwan menemukan jenis kelelawar buah leluasa terbang di siang hari.

Jadi, tidak hanya politisi dan birokrat, kita orang umum pun bila tidak mau belajar membaca dengan cerdas, bisa nabrak sana sini seperti umumnya kelelawar terbang siang. Tanda pagar #savekelelawar!!

fabel - Koran Riau 7 April 2015
Tulisan ini sudah di baca 918 kali
sejak tanggal 07-04-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat