drh. Chaidir, MM | Tanda Pagar Savekeledai | KASIHAN keledai. Percuma saja melakukan pencitraan dengan seribu baliho sekalipun, atau merekayasa polling agar bisa disebut binatang yang paling populer dan paling hebat sejagad, brand image atau merek dagang sudah terlanjur terbangun, bangsa mereka bodoh, dungu dan keras kepala.

Pencitraan itu
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Tanda Pagar Savekeledai

Oleh : drh.chaidir, MM

KASIHAN keledai. Percuma saja melakukan pencitraan dengan seribu baliho sekalipun, atau merekayasa polling agar bisa disebut binatang yang paling populer dan paling hebat sejagad, brand image atau merek dagang sudah terlanjur terbangun, bangsa mereka bodoh, dungu dan keras kepala.

Pencitraan itu sudah lama terbentuk, bahkan sudah gencar tersosialisasi dalam masyarakat Yunani kuno. Sehingga masyarakat percaya, keledai memang binatang yang keras kepala, dungu dan bodoh. Gambaran itu diperkuat oleh filsuf Yunani, Aristoteles, murid Plato melalui ceritanya "Keledai Buridan". Keledai Buridan, tulis Aristoteles menghadapi dilemma yang hebat luar biasa: sang keledai bingung memilih yang mana satu dari dua bal jerami yang harus dimakan terlebih dulu. Kedua bal jerami diyakini oleh keledai masing-masing lebih nikmat dan lezatnya.

Ketika dia berada di depan jerami yang pertama, keledai berpikir, bal jerami yang lain pasti lebih lezat. Maka dia berbalik menuju ke bal jerami yang kedua. Di depan bal jerami yang kedua, keledai ragu, bal jerami yang pertama pasti lebih lezat, maka bal yang kedua dia tinggalkan berbalik kembali menuju bal jerami pertama. Tapi keraguan itu terus menggoda sehingga tak ada bal jerami yang amat disukainya ia makan, tidak bal pertama dan tidak juga bal kedua. Sang keledai akhirnya kepayahan, kelaparan dan mati.

Pemojokan keledai sebagai binatang yang bodoh dan keras kepala tak hanya dilakukan oleh filsuf Aristoteles, penulis Yunani kuno lainnya, Homer dan Aesop juga ikut berkomplot dengan menyebut, bahwa keledai dihubungkan dengan perilaku bodoh dan keras kepala, jauh Sebelum Masehi.

Maka dalam berbagai film animasi, karakter ketololan keledai itu digambarkan dengan sempurna sebagai sosok yang bodoh dan keras kepala pula. Kepercayaan itulah yang melahirkan peribahasa, "Hanya keledai yang jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya." Peribahasa itu dimaksudkan sebagai sebuah sindiran untuk orang, kelompok, atau bangsa yang bodoh; kalau mereka melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya berarti mereka sama dengan keledai.

Dalam film atau cerita rakyat, keledai memang diidentikkan dengan binatang yang malas dan bodoh. Konon, sifat keras kepala keledai disebabkan oleh insting melindungi diri yang sangat kuat. Tetapi pada kenyataannya keledai termasuk binatang yang lumayan cerdas, waspada, ramah, dan bisa dilatih. Ketika seorang manusia sudah berhasil bersahabat dengan seekor keledai, maka si keledai akan jadi penurut. Dari catatan sejarah, keledai (Equus africanus asinus) sudah digunakan sebagai binatang pekerja sejak sekitar 5000 tahun yang silam. Keledai bisa patuh menuruti keinginan tuannya sebagai pengangkut beban.

Ke depan keledai agaknya boleh lega, sebab sekelompok peneliti Inggris membantah kepercayaan bahwa keledai itu keras kepala dan bodoh. Dalam seminar yang diselenggarakan di beberapa universitas terkemuka di Inggris disebutkan, kepercayaan masyarakat Yunani kuno tentang keledai itu salah besar. "Itu kesalahpahaman," komentar Ben Hart, pakar keledai, seperti dikutip dailymail.co.uk dan dicatat tuan Google. Keledai tak seburuk yang disangka.

Mungkin benar juga sebuah anggapan, keledai saja tak pernah jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Artinya, seperti kata Ben Hart, keledai taklah bodoh-bodoh amat. Sebodoh-bodoh keledai, mereka ingat lubang dimana mereka pernah terperosok. Artinya, kalau ada orang yang kejeblos lubang sama untuk kedua kalinya berarti lebih bodoh dari keledai. Ini bisa runyam, sebab disebut bodoh seperti keledai saja biasanya orang akan naik pitam, apalagi dicap lebih bodoh dari keledai. Tanda pagar #savekeledai.

fabel - Koran Riau 24 Maret 2015
Tulisan ini sudah di baca 401 kali
sejak tanggal 24-03-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat