drh. Chaidir, MM | Muka Beruk Terancam | BANYAK muka perkara muka, tapi muka beruk paling sengsara. Seperti sifat muka yang bisa berubah-ubah sesuai suasana hati, muka memiliki banyak julukan, di samping muka beruk ada pula muka badak, maksudnya orang tak tahu malu. Muka tak berdosa, maksudnya wajah yang polos, lugu. Julukan muka talam dit
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Muka Beruk Terancam

Oleh : drh.chaidir, MM

BANYAK muka perkara muka, tapi muka beruk paling sengsara. Seperti sifat muka yang bisa berubah-ubah sesuai suasana hati, muka memiliki banyak julukan, di samping muka beruk ada pula muka badak, maksudnya orang tak tahu malu. Muka tak berdosa, maksudnya wajah yang polos, lugu. Julukan muka talam ditujukan untuk orang yang wajah lebar.

Istilah orang bermuka dua biasanya ditujukan untuk mata-mata alias double agent atau juga untuk orang yang berkhianat; sedangkan istilah dasa muka diberikan untuk menggambarkan orang yang memiliki banyak peran atau bisa juga seperti baling-baling di atas bukit sesuai arah angin. Tercoreng arang di muka biasanya ditujukan terhadap seseorang yang mendapat malu; perumpamaan yang berkaitan dengan arang dimuka, adalah membasuh arang di muka (maksudnya membersihkan dosa/kesalahan).

Juga berkaitan dengan muka, misalnya setor muka yang dimaksudkan untuk sekedar memperlihatkan kehadiran dalam suatu moment tertentu. Yang biasanya dipandang sinis adalah seseorang yang cari muka atau ambil muka. Orang yang cari muka atau ambil muka bukanlah orang yang sungguh-sungguh berperan, tapi ingin terlihat berperan dan mendapatkan penghargaan. Orang yang seperti ini bila tidak digubris biasanya disebut terambil muka beruk.

Sesungguhnya tak ada masalah dengan muka beruk. Muka beruk ya seperti itu dari dulu sampai sekarang, Mulai ketika manusia berada dalam peradaban batu sampai peradaban modern sekarang muka beruk tak berubah, berbulu, hidung pesek, dan rongga mata agak terbenam. Muka beruk betina dan anak-anaknya terlihat sedikit lebih unyu daripada sang jantan dewasa yang terkesan lebih sangar.

Pada bangsa manusia, hanya orang yang terlahir kembar saja yang wajahnya hampir serupa. Beruk beda. Kendati tidak kembar siam pun, tetap sulit membedakan satu dengan lainnya. Semua terlihat seragam seperti barang cetakan atau juga seperti kotoran kambing. Sebenarnya bangsa beruk tak pernah mempersoalkan muka mereka. Bahkan mereka dengan mudah mengenali pasangannya dalam kerumunan yang biasanya cukup banyak anggotanya. Tak masalah.

Tapi manusia suka meremehkan muka beruk, sehingga suka memberi merek dagang kepada orang yang suka ambil muka terhadap atasan atau seseorang yang sedang berkuasa sebagai mengambil muka beruk; orang tersebut adalah orang yang suka menonjol-nonjolkan kehebatannya, atau membuat laporan ABS. Maka, nasihat orang-orang tua, “Jangan suka ambil muka nanti terambil muka beruk.” Sang atasan atau seseorang yang baru berkuasa, adakalanya terperdaya dengan jurus orang-orang yang bermuka beruk ini.

Di jajaran pemerintahan, musim muka beruk biasanya tiba ketika terjadi pergantian kepemimpinan, dan pemimpin yang baru akan menyusun tim kerja atau kabinetnya. Namun era ketika muka beruk merajalela dan memperoleh kenyamanan, kelihatannya akan segera berakhir. Atasan atau pimpinan sebuah instansi publik (utamanya instansi pemerintah) tak lagi sepenuh bisa menentukan tim kerjanya diisi dengan orang-orang kepercayaannya yang lebih banyak penentuannya bernuansa suka atau tidak suka (like and dislike). Era balas jasa apalagi era politik dinasti akan segera berakhir dengan adanya Undang-Undang Aparatur Sipil Negara. Dengan UU ASN tersebut pengisian jabatan eselon I dan II (pejabat-pejabat teras di instansi pemerintah) dilakukan secara terbuka melalui suatu test kompetensi dan integritas.

Calon-calon yang memenuhi syarat dan mendaftar, diuji kompetensinya melalui suatu assessment (diberi tugas-tugas tertulis, kemudian dinilai melalui wawancara oleh sebuah tim independen). Dengan assessment tersebut akan terlihat calon-calon yang memiliki kapasitas dan kapabilitas. Sistem rekrutmen pejabat memang semakin baik, maka semakin tertutuplah peluang bagi yang bermental muka beruk. Kecian...

fabel - Koran Riau 10 Maret 2015
Tulisan ini sudah di baca 466 kali
sejak tanggal 10-03-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat