drh. Chaidir, MM | Singa vs Kaki Kursi | TIDAK ada yang menyangsikan, singa (Panthera leo) adalah raja rimba. Aumannya keras menggetarkan, saking membahananya, auman itu terdengar dalam radius delapan kilometer. Auman tersebut penanda, kawasan itu ada penunggunya, bukan tak bertuan. Yang tak mau berurusan, mendingan minggir saja menjauh da
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Singa vs Kaki Kursi

Oleh : drh.chaidir, MM

TIDAK ada yang menyangsikan, singa (Panthera leo) adalah raja rimba. Aumannya keras menggetarkan, saking membahananya, auman itu terdengar dalam radius delapan kilometer. Auman tersebut penanda, kawasan itu ada penunggunya, bukan tak bertuan. Yang tak mau berurusan, mendingan minggir saja menjauh dari teritorial sang raja rimba.

Sang raja rimba juga menandai kawasan teritorialnya dengan air seninya. Kelompok lain yang mencium aroma air seni tersebut segera memahami, bahwa mereka telah memasuki tertorial kelompok lain. Mereka harus meningkatkan kewaspadaan, segera menghindar, atau siap-siap perang suadara.

Di samping aumannya yang menggetarkan itu, dan air seni sebagai penanda teritorialnya, singa hidup dalam kelompok untuk mempertahankan territorial dan eksistensi kelompoknya. Singa jantan yang paling besar dan memiliki karisma adalah pemimpin kelompok. Demikian besarnya karisma kepemimpinan sang boss, dia tidak perlu ikut berburu mangsa. Berburu mangsa itu urusan singat-singa betina dan singa-singa jantan yang masih muda. Sang pemimpin cukup mengawasi saja dari jauh dan kemudian mengeksekusi mangsa pada saat yang tepat. Mangsa hasil buruan tersebut dibawa ke kelompok untuk kemudian anak-anak singa diberi kesempatan pertama menikmatinya, baru kemudian disusul singa-singa dewasa. Prinsip yang berlaku dalam komunitas singa, mereka berburu bersama dan menikmati hasil buruannya secara bersama-sama. Singa tidak serakah seperti serigala, hyena, babi hutan atau buaya.

Jika sang boss berkeliling mengawasi wilayah teritorialnya, maka binatang-binatang lain akan memperhatikannya gerak-geriknya dari jauh. Tidak ada yang berani mendekat, karena biasanya sang boss dalam jarak tertentu dikelilingi oleh para pengawalnya, boss kendati sangat kuat tak pilih tanding, tetap selalu dilindungi oleh kelompoknya pada ring satu, dua dan seterusnya. Begitulah kelompok singa mengamankan boss dan teritorialnya.

Singa memang termasuk salah satu binatang yang memiliki ikatan cosa nostra yang kokoh. Sang boss berada di puncak hirarki kekuasaan dalam kelompok tersebut yang dipatuhi oleh singa-singa lain di bawahnya. Jika ada perkelahian dalam kelompok misalnya akibat pembagian makanan yang terasa tidak adil atau berebut singa betina pujaan, maka aturan mainnya jelas, sang pecundang harus angkat kaki keluar dari kelompok.

Betapapun gagah perkasa dan karismatisnya sang raja rimba, singa tetaplah binatang yang punya kelemahan. Padahal hampir tidak ada kekuatan makhluk lain yang bisa menandinginya di rimba belantara, jangankan adu kekuatan, mendengarkan aumannya saja seekor kera bisa jatuh demikian saja dari dahan pohon karena tungkainya gemetaran lunglai tak bertenaga. Singa tetap punya kelemahan, seperti halnya gajah yang parno terhadap kerumunan semut, atau kucing yang takut air, atau ular kobra yang takut pada luwak madu.

Entah siapa yang menemukan rahasia kelemahan singa tersebut, tak ada catatan yang jelas. Mungkin berangkat dari pengalaman berabad-abad, seorang pawang singa di arena sirkus, menemukan sebuah senjata pamungkas dengan menggunakan sebuah kursi ringan untuk menakut-nakuti singa. Dengan hanya sebuah kursi ringan berkaki empat, singa tidak perlu disakiti untuk menundukkannya.

Singa di sirkus tidak takut dengan cemeti yang berada di tangan sang pawang, sekali terkam, pawang dan cemetinya habis dilumat, tapi singa justru takut dengan keempat kaki kursi yang diacungkan kepadanya. Singa pilih menghindar daripada berurusan dengan empat kaki kursi tersebut.

Mengapa? Usut punya usut, diusut-usut, para ahli ilmu tingkah laku hewan (etologi) menyimpulkan, ketika singa dihadapkan dengan empat kaki kursi, mereka menjadi bingung (confused) karena dikira ada empat obyek di sana yang harus mereka hadapi. Singa kehilangan fokus, sehingga kebingungan dan menjadi tak bertenaga.

Pelajaran bagi para pemimpin penguasa, bila takut kekuasannya tumbang karena people power, ciptakanlah setidak-tidaknya "empat kaki kursi" sehingga perhatian rakyat tidak fokus. Sang rakyat pula (yang jelas dan tak jelas...kekekekek), jangan terpancing dengan banyaknya isu, itu hanya taktik empat kaki kursi.

fabel - Koran Riau 3 Maret 2015
Tulisan ini sudah di baca 563 kali
sejak tanggal 03-03-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat