drh. Chaidir, MM | Dendam Sang Kucing | TIKUS tidak takut pada buaya. Alasannya, badan buaya terlalu besar. Buaya tidak lincah sehingga tidak mampu mengejar tikus sampai ke lorong-lorong kecil. Buaya tidak pintar bersembunyi sehingga keberadaannya mudah diketahui oleh tikus. Alasan lain yang paling masuk akal adalah, habitat kedua makhluk
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Dendam Sang Kucing

Oleh : drh.chaidir, MM

TIKUS tidak takut pada buaya. Alasannya, badan buaya terlalu besar. Buaya tidak lincah sehingga tidak mampu mengejar tikus sampai ke lorong-lorong kecil. Buaya tidak pintar bersembunyi sehingga keberadaannya mudah diketahui oleh tikus. Alasan lain yang paling masuk akal adalah, habitat kedua makhluk tersebut beda.

Tikus berkeliaran di sekitar lumbung padi, dan di pemukiman penduduk, sedangkan buaya habitatnya di sungai atau di rawa-rawa. Dengan demikian buaya bukan ancaman bagi tikus. Walaupun jumlah buaya banyak, misalnya, tikus tetap merasa nyaman menggerogoti lumbung padi, mereka tak terganggu.

Bagaimana dengan kucing? Kucing adalah predator nomor wahid di dunia yang paling ditakuti oleh bangsa tikus. Kualifikasi kucing adalah pelatih, lebih hebat dari pemain. Demikian piawainya bangsa kucing dalam berburu, maka bangsa harimau pun berguru kepada kucing. Kucing menurunkan semua ilmunya kepada harimau, kecuali satu jurus memanjat pohon. Untuk ilmu ini tida diberikan kucing sehingga selamatlah kucing dari kejaran harimau yang durhaka kepada gurunya.

Survey membuktikan (wah kayak Tukul saja), populasi tikus sangat dipengaruhi oleh populasi kucing. Dengan kata lain, populasi kucing berpengaruh secara signifikan teradap populasi tikus. Penelitian pada tahun 1997 di Inggris mengungkapkan, seekor kucing rumahan rata-rata membawa pulang 11 ekor hewan mati tikus, burung, katak, dan ssebagainya dalam waktu enam bulan. Itu berarti 9 juta kucing di Inggris membunuh hampir 200 juta binatang liar per tahun. Sedangkan di Selandia Baru, sebuah penelitian tahun 1979 menemukan fakta bahwa ketika kucing di sana hampir punah, populasi tikus meningkat cepat sebesar empat kali lipat.

Ada efek samping lain. Di Selandia Baru, jika populasi tikus meningkat (karena tak ada kucing) maka populasi burung laut ikut menurun drastis. Sebabnya, tikus ternyata suka memakan telur burung laut. Jadi populasi kucing ikut pula mempengaruhi populasi burung laut.

Masalahnya, ada apa antara kucing dan tikus? Bangsa kucing kelihatannya memiliki dendam kesumat keturunan terhadap bangsa tikus sehingga tikus sangat ketakutan bila berjumpa dengan kucing. Ceritanya bermula dari daratan Tiongkok. Dalam astrologi bangsa Tionghoa, terdapat zodiak dengan siklus 12 tahun dan masing-masing zodiak memiliki simbol (shio) hewan, yang jumlahnya juga 12, yaitu tikus, kerbau, macan, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing, dan babi. Lalu kenapa kucing tidak termasuk dalam Shio tersebut? Bukankah kucing lebih pantas masuk daripada ular, tikus, anjing atau babi, misalnya? Apalagi masing-masing Shio dikaitkan dengan karakter tertentu.

Di sinilah tragedi sejarah itu bermula. Konon, sang tikus ditugaskan menjemput bangsa-bangsa hewan untuk menghadap kepada kepada baginda raja guna menghadiri acara jamuan makan dalam rangka peresmian bintang zodiak. Masing-masing tahun zodiak akan diberi simbol hewan. Tikus kemudian menghubungi hewan-hewan yang diundang termasuk sahabat karibnya, kucing. Namun, tikus mendapat bocoran, namanya tidak termasuk dalam 12 nominasi Shio, dan dia tidak rela. Apa akal? Tikus kemudian memberi informasi yang salah kepada kucing tentang jamuan tersebut.

Merasa masih banyak waktu, kucing meneruskan kebiasaannya tidur dan bermalas-malasan. Sesuai waktu yang diinformasikan oleh tikus, kucing datang dengan tenang, namun apa daya perjamuan telah selesai sehari sebelumnya. Raja telah memutuskan nama kucing dalam daftar Shio digantikan dengan tikus pada urutan pertama. Menyadari cerita yang sesungguhnya, bangsa kucing marah besar, tapi apa daya nasi sudah jadi bubur, maka sejak saat itu kucing bersumpah menjadikan tikus sebagai musuh nomor satu sepanjang masa.

Penguasa Tiongkok modern, Deng Xiaoping memanfaatkan dengan baik dendam bangsa kucing ini untuk membasmi tikus-tikus yang merusak tanaman padi mereka. Deng bertitah, tak perlu kucing itu berwarna putih atau hitam yang penting dia gesit menangkap tikus. Yakin tak meleset.

fabel - Koran Riau 17 Februari 2015
Tulisan ini sudah di baca 832 kali
sejak tanggal 17-02-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat