drh. Chaidir, MM | Perseteruan Anjing dan Kucing | BAGAIKAN anjing dan kucing. Peribahasa itu umum dan sering kita dengar di tengah masyarakat untuk menggambarkan dua orang atau dua pihak atau dua kelompok yang selalu bertikai. Pertikaian antar dua pihak itu seakan tak pernah berakhir atau tak pernah terdamaikan. Adagium, tak ada persoalan yang tak
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Perseteruan Anjing dan Kucing

Oleh : drh.chaidir, MM

BAGAIKAN anjing dan kucing. Peribahasa itu umum dan sering kita dengar di tengah masyarakat untuk menggambarkan dua orang atau dua pihak atau dua kelompok yang selalu bertikai. Pertikaian antar dua pihak itu seakan tak pernah berakhir atau tak pernah terdamaikan. Adagium, tak ada persoalan yang tak bisa diselesaikan, tak berlaku antara anjing dan kucing.

Adagium yang sangat cantik itu hanya ada dalam dunia makhluk yang bernama manusia. Itu pun konon kabarnya, sudah mulai mengalami erosi. Contohnya, dalam dunia manusia dikenal istilah musuh bebuyutan. Maknanya, sejak berbuyut-buyut silam dan sampai kelak ke buyut-buyut, sampai tujuh keturunan, para pihak tersebut tetap bermusuhan. Maknanya lagi, berarti ada persoalan yang tak bisa diselesaikan. Artinya, bila bangsa manusia tak bisa menyelesaikan persoalan antar sesama, sama saja dengan bangsa anjing dan kucing.

Kenapa itu terjadi dalam dunia manusia? Filsuf Thomas Hobbes memberi mantra, "Bellum omnium contra omnes" (manusia itu cenderung bersaing antara satu dengan lainnya) dan "homo homini lupus" (manusia yang satu menjadi serigala bagi manusia lainnya). Manusia cenderung bersaing atau manusia yang satu menjadi serigala bagi manusia lainnya, disebabkan karena kepentingan. Mereka seiring sejalan bila kepentingannya sama, sebaliknya mereka akan saling terkam bila kepentingannya berbeda. Karena kepentingan, manusia akan saling serang, saling fitnah, saling tipu menipu satu sama lain.

Tapi kenapa terjadi hubungan yang sangat sulit antara anjing dan kucing? Hasil kajian ilmu tingkah laku hewan (etologi), berdasarkan pengamatan lapangan, permusuhan dua bangsa itu banyak dipengaruhi oleh faktor kecemburuan. Pertama, kedua hewan tersebut berebut kasih sayang dari tuannya. Anjing menyebut merekalah piaraan yang paling setia, sementara kucing tak mau kalah, merekalah yang paling disayang bahkan boleh tidur di pangkuan tuannya.

Kedua, masalah keterampilan. Kucing mahir memanjat, sementara anjing tak bisa memanjat. Kucing dalam keadaan berlari kencang pun langsung bisa memanjat pohon, apalagi bila sedang dikejar anjing. Anjing sering frustrasi karena tak bisa mengejar kucing sampai tuntas. Persoalan kucing kemudian ditertawain anjing karena kucing hanya bisa memanjat tapi kesulitan untuk turun, itu masalah lain.

Ketiga, anjing lebih dipercaya oleh tuannya untuk menjaga rumah. Tidak seperti anjing yang mampu mengusir pencuri yang menyusup ke rumah ketika tuannya tidak ditempat, kucing tak punya nyali mengusir sang penyusup. Kucing hanya diam saja melihat koleksi batu akik tuannya digondol tamu tak diundang. Jangan coba-coba bila penjaganya adalah anjing.

Keempat, kucing iri hati ketika kepolisian berlaku diskriminatif terhadap mereka. Buktinya, kepolisian di seluruh dunia, umumnya, memiliki unit anjing pelacak. Anjing-anjing pelacak ini disitimewakan, dilatih dan diberi makanan yang baik secara teratur. Dari data yang dihimpun oleh bangsa kucing, tidak ada satu pun kesatuan kepolisian di seluruh dunia yang memiliki unit kucing pelacak. Padahal kucing merasa memiliki keunggulan taring, kucu yang tajam and indera penciuman yang sangat peka. Kucing lupa, penyakit keturunan mereka yang tak pernah tahan untuk tidak mencuri ikan goreng atau ayam goreng di dapur, menyebabkan bangsa nmereka gagal dalam fit and proper test. Kucing gugur karena faktor integritas.

Kelima, kendati mereka tak pernah lulus fit and proper test, kucing mengaku mereka lebih terhormat dari bangsa anjing. Anjing selalu dipandang oleh kucing sebagai bangsa yang lebih rendah derajatnya. "Kalau tak percaya," kata kucing, "dengarlah ketika tuan kita memaki, mereka selalu menghardik dengan menyebut namamu, berarti namamu sampah." Anjing geram alang kepalang, Anjing tidak menyalahkan tuannya, kucinglah yang tak paham. "Kucing tak pernah ngerti gonggongan kami."

Faktor keenam (bilang nggak yaa?), yang membuat anjing selalu jengkel terhadap kucing adalah anjing sentiasa terpijak kotoran kucing. Kucing memiliki kebiasaan menutup kotorannya dengan tanah (sebetulnya sih sopan). Tapi anjing menganggap itu dalih kucing untuk menipu mereka.

Betapapun abadinya perseteruan dua banga ini, mereka tak pernah melakukan kriminalisasi satu sama lain. Ciyus...!!

fabel - Koran Riau 3 Februari 2015
Tulisan ini sudah di baca 587 kali
sejak tanggal 03-02-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat