drh. Chaidir, MM | Fenomena Cicak vs Buaya | PERSETERUAN dua makhluk serumpun ini kelihatannya akan menjadi dendam sejarah yang tak akan pernah habis selama dunia terkembang, atau setidak-tidaknya baru akan berakhir sehari sebelum dunia kiamat. Bentuk rupa yang hampir sama telah menimbulkan sentimen turun temurun. Buaya memandang remeh kepada
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Fenomena Cicak vs Buaya

Oleh : drh.chaidir, MM

PERSETERUAN dua makhluk serumpun ini kelihatannya akan menjadi dendam sejarah yang tak akan pernah habis selama dunia terkembang, atau setidak-tidaknya baru akan berakhir sehari sebelum dunia kiamat. Bentuk rupa yang hampir sama telah menimbulkan sentimen turun temurun. Buaya memandang remeh kepada cicak karena cicak adalah makhluk yang sangat kecil dan lemah, serta tak berguna. Sementara cicak menghina buaya, untuk apa badan besar kalau hobinya makan bangkai.

Padahal kedua makhluk ini sesungguhnya kerabat dekat. Buaya adalah cicak ukuran monster, sementara cicak adalah buaya ukuran supermini. Tapi kenyataannya mereka berseteru tak habis-habis; kisah perseteruannya ibarat buku komik, ada jilid 1, jilid 2, jilid 3 dan seterusnya. Masing-masing cari kelemahan lawan.

Aneh bin ajaib, barangkali karena dua makhluk ini moyangnya sama, setelah melalui diskusi berhari-hari, mereka sampai pada kesimpulan. Secara terpisah masing-masing, tentu secara diam-diam dan rahasia, membuat rumusan kesimpulan. Cicak merumuskan, kelemahan buaya terletak pada ekornya. Buaya pula merumuskan, kelemahan cicak terletak pada ekornya. Argumentasinya, konon, secara redaksional berbeda tapi substansinya, alias maknanya sama, eksistensi musuh terletak pada ekornya. Putus ekornya, maka tamatlah riwayatnya, buaya akan jadi buaya tak jelas, cicak akan jadi cicak tak jelas.

"Buaya tak lagi disebut binatang kalau tak ada ekornya, maka ekornya harus kita gigit sampai buntung." ujar pemuka cicak.

Ajaib bin aneh, secara terpisah (sekali lagi rahasia), pemuka buaya secara filosofis juga menyebut: "Cicak tak lagi disebut binatang kalau tak ada ekornya, maka ekornya kita gigit dan kita makan habis."

Ketika perseteruan semakin genting, ketika emosi membakar ubun-ubun sampai berasap-asap, ketika adrenalin muncrat dari ujung rambut kepala, perang saudara pun tak terelakkan. Urusan harus diselesaikan secara jantan tanpa senapan. Masing-masing memilih lawan, duel satu lawan satu. Masing-masing secara rahasia (sekali lagi) mempunyai target yang jelas: hancurkan ekor musuh!

Maka, perang saudara satu lawan satu itu pun menampakkan pemandangan unik. Ada ratusan lingkaran yang berputar-putar, buaya mengejar ekor cicak, cicak pula mengejar ekor buaya. Saling gigit ekor tak terhindarkan. Tak berapa lama, pertempuran mulai tidak seimbang dan kemudian terjadilah apa yang terjadi. Tak ada buaya yang kehilangan ekor, sementara semua cicak kehilangan ekornya. Buaya bersorak-sorai kembali dari medan perang melakukan berbagai selebrasi merayakan kemenangannya.

"Inilah buaya, binatang paling ganas di dunia." Teriak pasukan buaya. "Buaya dilawan." Teriak buaya yang lain. "Ekor cicak rupanya enak sebagai cemilan." Buaya bersenda gurau dalam pesta pora kemenangan.

Cicak kalah telak. Pasukan kalah perang itu pulang dengan menanggung malu. Mereka sekarang menjadi cicak tak jelas karena semua ekor mereka sudah buntung. Seekor cicak menangis, "sakitnya tuh bukan di ekor, sakitnya tuh di sini," isaknya sambil menunjuk dadanya.

Di kampung cicak, di tengah suasana mendung pasukan cicak yang kalah perang dan menanggung malu karena pulang tak berekor, seekor cicak paling tua yang tak ikut ke medan pertempuran karena uzur, berkata pelan.

"Kenapa kalian bersedih?"

"Kita kalah dan menaggung malu."

"Tidak anak-anakku yang gagah perkasa. Kalian tak perlu malu, kita memiliki senjata autotomi yang tak dimiliki oleh buaya."

"Haah..senjata apa itu?"

"Autotomi itu kemampuan bangsa kita, bangsa cicak untuk memutus ekornya, dan kemudian ekor tersebut akan kembali tumbuh. Tunggu saja beberapa hari, ekor kalian akan kembali normal, dan kalian bisa kembali ke medan pertempuran melawan buaya."

Benar. Cicak memiliki kemampuan autotomi. Seratus kali ekornya putus, seratus kali pula ekor itu akan kembali tumbuh, tak peduli berapa jilid pun peperangannya.

fabel - Koran Riau 27 Januari 2015
Tulisan ini sudah di baca 796 kali
sejak tanggal 27-01-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat