drh. Chaidir, MM | Hewan Bermasyarakat | HEWAN bermasyarakat adalah istilah yang digunakan oleh filsuf Yunani, Aristoteles untuk menggambarkan bahwa manusia itu adalah makhluk sosial. Persisnya dia menyebut Zoon Politicon. Kalau diartikan kata demi kata,
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Hewan Bermasyarakat

Oleh : drh.chaidir, MM

HEWAN bermasyarakat adalah istilah yang digunakan oleh filsuf Yunani, Aristoteles untuk menggambarkan bahwa manusia itu adalah makhluk sosial. Persisnya dia menyebut Zoon Politicon. Kalau diartikan kata demi kata, "zoon" berarti hewan; "politicon" berarti bermasyarakat. Maka Zoon Politicon berarti hewan bermasyarakat.r/n/r/n/Manusia sebagai makhluk sosial bermakna, dia tidak dapat hidup sendiri, manusia membutuhkan manusia lain untuk secara bersama-sama mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup. Manusia baru terasa eksistensinya bila ada manusia lain. Kalau tidak ada manusia lain, maka sehebat apapun seseorang, tak akan ada artinya sama sekali.r/n/r/n/Tapi apa hubungannya dengan hewan? Mengapa pula filsuf Aristoteles menyebut manusia itu sebagai zoon politicon, alias hewan bermasyarakat. Alur pikirnya barangkali karena manusia dan hewan sama-sama makhluk hidup. Manusia punya akal dan instink, hewan hanya punya instink. Kalau persamaannya ditulis: manusia = hewan = makhluk, maka mungkin boleh disimpulkan, manusia adalah hewan tingkat tinggi, hewan adalah manusia tingkat rendah.r/n/r/n/Yang lebih cocok kelihatannya adalah ungkapan Adam Smith, "Homo Homini Socius", manusia yang satu menjadi sahabat bagi manusia lainnya. Adam Smith lebih jauh menyebut manusia itu adalah makhluk ekonomi (Homo Economicus). Manusia adalah makhluk yang cenderung tidak pernah merasa puas tentang apa yang telah diperolehnya dan selalu berusaha secara terus menerus untuk memenuhi kebutuhannya. Punya mobil satu, ingin dua. Punya rumah satu, ingin dua, dan seterusnya, pokoknya tak pernah merasa puas.r/n/r/n/Mungkin karena tak pernah merasa puas, maka manusia itu senantiasa menjadi makhluk yang gelisah dan selalu bermasalah dalam hidupnya. Berangkat dari sifat tersebut, seorang filsuf Jerman, Max Scheller menyebut makhluk manusia itu sebagai "Das Kranke Tier (hewan yang sakit). Alamak, Tuan filsuf ini terlalu. Tapi tunggu fulu, analogi Max Scheller jangan-jangan ada benarnya.r/n/r/n/Hewan yang sehat tidak pernah merasa resah gelisah. Asal terpenuhi saja makanan, minuman dan kebutuhan seksualnya, kebebasannya tidak terganggu (tidak diikat, dirantai atau dikandangkan), maka masalahnya selesai, mereka akan tidur bermalas-malasan. Beruang kutub bahkan akan tidur panjang (hibernasi). Tapi kalau kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, apalagi habitatnya terganggu, tak ada pasangan untuk kawin ketika birahi (siklus hormonal alami), maka hewan akan gelisah, reaktif, agresif, mengeluarkan suara marah melengking-lengking.r/n/r/n/Kondisi tersebut hampir sama dengan sifat manusia, kalau kebutuhan dasar mereka tak terpenuhi, seperti kebutuhan pangan, sandang, papan, atau tak merasa aman dengan kebutuhan dasar yang ada, orang akan gelisah bahkan marah. Apalagi bila dorongan kebutuhan biologis juga tak terpenuhi. r/n/r/n/Beberapa jenis hewan hidup soliter ( bersendirian), tapi beberapa jenis diantaranya hidup dalam gerombolan (bermasyarakat), yang terkenal adalah lebah, semut, laba-laba dan beberapa jenis burung. Lebah dan semut dari kajian para ahli bahkan memiliki susunan hirarki dalam organisasinya.r/n/r/n/Apalagi makhluk yang bernama manusia. Secara kodrati, manusia adalah makhluk yang memiliki kecenderungan untuk hidup dalam kebersamaan dengan yang lain. Manusia adalah makhluk yang mencari kesempurnaan dirinya dalam tata hidup bersama. Manusia lahir, tumbuh dan menjadi insan dewasa karena dan bersama manusia lain. r/n/r/n/Manusia sebagai makhluk sosial memiliki naluri untuk saling tolong menolong, setia kawan dan toleransi serta simpati dan empati terhadap sesamanya. Manusia memerlukan mitra untuk mengembangkan kehidupan yang layak dan lebih baik. Dorongan inilah yang dapat mewujudkan terbentuknya masyarakat yang ideal, masyarakat yang harmonis dan rukun, hingga timbullah norma, etika dan sopan santun.r/n/r/n/Manusia adalah makhluk sosial yang memiliki kecerdasan akal budi, oleh karena itu manusia sangat menyadari keniscayaan kehidupan bermasyarakat. Keberhasilan untuk meraih kehidupan yang lebih baik tak mungkin dicapai secara sendiri-sendiri. Kesadaran tersebut menjadi modal dalam pendekatan manajemen modern dewasa ini, bahwa permasalahan kehidupan yang semakin kompleks memerlukan pendekatan team work dalam penyelesaiannya. Pendekatan one man show hanya akan menghasilkan superman, tapi pendekatan team akan menghasilkan super team, seperti lebah.

fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 496 kali
sejak tanggal 13-01-2015

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat