drh. Chaidir, MM | Hewan Berpolitik | FILSUF besar Yunani, Aristoteles (384-322 SM),  mengemukakan bahwa manusia adalah hewan yang berakal sehat, yang mampu mengeluarkan pendapatnya, yang berbicara berdasarkan akal-pikirannya. Manusia juga adalah hewan yang berpolitik (zoonpoliticon, political animal), hewan yang membangun masyarakat. M
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Hewan Berpolitik

Oleh : drh.chaidir, MM

FILSUF besar Yunani, Aristoteles (384-322 SM), mengemukakan bahwa manusia adalah hewan yang berakal sehat, yang mampu mengeluarkan pendapatnya, yang berbicara berdasarkan akal-pikirannya. Manusia juga adalah hewan yang berpolitik (zoonpoliticon, political animal), hewan yang membangun masyarakat. Manusia berpolitik karena ia mempunyai bahasa yang memungkinkan ia berkomunikasi dengan yang lain. Dan di dalam masyarakat manusia, dikenal adanya keadilan dan tata tertib yang harus dipatuhi. r/n/r/n/Beda dengan hewan. Masyarakat hewan tak pernah berpikir tentang keadilan, tak pernah berpikir tentang tata-tertib atau aturan main kelompoknya. Hewan memang memiliki naluri melindungi dan menyayangi anak atau kelompoknya. Tapi itu bukan atas dasar pikiran solidaritas atau logika-logika akal sehat.r/n/r/n/Dalam ilmu mantiq (logika) manusia disebut sebagai Al-Insanu hayawanun nathiq (manusia adalah hewan yang berfikir). Nathiq sama dengan berkata-kata dan mengeluarkan pendapatnya berdasarkan pikirannya. Sebagai hewan yang berpikir manusia berbeda dengan hewan. Walau pada dasarnya fungsi tubuh dan fisiologis manusia tidak berbeda dengan hewan. Misalnya secara fisiologis manusia atau hewan sama-sama merasa lapar kalau tidak makan, sama-sama merasa haus kalau tidak minum. Manusia dan hewan juga sama-sama memiliki hormon seksual yang menyebabkan mereka tertarik dengan lawan jenisnya. r/n/r/n/Ernst Haeckel (1834-1919), seorang biolog dan filsuf Jerman menyebut bahwa manusia merupakan hewan, tak disanksikan. Secara struktur biologis, manusia itu sungguh-sungguh binatang beruas tulang belakang, sama seperti hewan yang menyusui, manusia juga menyusui. Artinya, menurut Haeckel, tidak diragukan lagi manusia itu sejajar dengan hewan yang menyusui. Terlalu filsuf Jerman ini.r/n/r/n/Pendapat Ernst Haeckel kelihatannya mendapat penguatan dari Menurut Julien, bahwa manusia tak ada bedanya dengan hewan karena tubuh manusia itu merupakan suatu mesin yang terus bekerja ( de lamittezie). Artinya, semua aktivitas manusia, dimulai bangun tidur sampai ia tidur kembali, manusia tidak berhenti untuk beraktivitas, sama dengan hewan.r/n/r/n/Manusia menyadari bahwa dirinya sangat berbeda dari binatang apapun, secantik apapun binatangnya. Dan seringkali dengan sombong mengatakan mereka adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, apalagi sedang berada di kebun binatang. Manusia baru meratap bila ketahuan berbuat dosa atau tersandung masalah serius yang tak mampu diatasinya. Mereka baru menangis tersedu sedan, mengaku bahwa mereka adalah makhluk lemah, makhluk tak sempurna, sehingga lazim berbuat salah tak luput dari dosa, perumpamaan pun dicari-cari. "Tak ada gading yang tak retak, tak ada kayu yang tak berbongkol", dan sebagainya.r/n/r/n/Tetapi memahami siapa sebenarnya manusia itu bukan persoalan yang mudah. Ini terbukti dari pembahasan manusia tentang dirinya sendiri yang telah berlangsung demikian lama. Barangkali sejak manusia diberi kemampuan berpikir secara sistematik, pertanyaan tentang siapakah dirinya itu mulai timbul. Namun informasi secara tertulis tentang hal ini baru terlacak pada masa Para pemikir kuno Romawi yang konon dimulai dari Thales (abad 6 SM).r/n/r/n/Barangkali karena manusia itu zoon politicon atau dengan istilah lain bolehlah disebut beda-beda tipis dengan hewan, maka politik siapa kuat siapa menang, siapa yang paling besar aumannya dia ditakuti, bukan sesuatu yang aneh dalam panggung politik kita saat ini. Politik agresif suka menyerang, bringas, sangar, licik tak ada bedanya dengan politik hewan. Kalau mau dicari-cari bedanya, hewan yak pernah mencoba-coba berpolitik dengan menjunjung humanisme, sementara manusia adakalanya menerapkan politik animalisme, seperti apa yang diidentifikasi oleh filsuf Thomas Hobbes, sebagai "homo homini lupus". Manusia yang satu menjadi serigala bagi manusia lainnya.

fabel - Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 1316 kali
sejak tanggal 16-12-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat