drh. Chaidir, MM | Jangan Tatap Matanya | PERILAKU manusiakah  yang ditiru kera atau perilaku kera yang ditiru manusia? Atau karena kedua makhluk ini mirip satu sama lain, maka keduanya pun saling tiru-meniru. Tempo-tempo kera meniru manusia, tempo-tempo manusia meniru kera. Bedanya hanya satu, berekor dan tak berekor, selebihnya
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Jangan Tatap Matanya

Oleh : drh.chaidir, MM

PERILAKU manusiakah yang ditiru kera atau perilaku kera yang ditiru manusia? Atau karena kedua makhluk ini mirip satu sama lain, maka keduanya pun saling tiru-meniru. Tempo-tempo kera meniru manusia, tempo-tempo manusia meniru kera. Bedanya hanya satu, berekor dan tak berekor, selebihnya "beti".r/n/r/n/Kera menyukai pisang, manusia juga menyukai pisang. Kera suka menjarah buah-buahan milik petani, menusia juga suka menjarah milik orang lain. Kera adalah makhluk yang terikat dalam suatu ikatan sosial dengan kelompoknya, yang satu menyerang yang lain ikut menyerang, persis seperti manusia. Secara biologis kera juga berkembang biak atau beranak pinak seperti manusia. Kera juga memiliki nafsu birahi yang lebih kurang sama dengan manusia, atau nafsu birahi manusia lebih kurang sama dengan kera.r/n/r/n/Satu hal yang agak berlebihan, kera pasti marah bila matanya ditatap. Manusia juga begitu, tapi tak selalu demikian, tergantung mood-nya. Kalau kebetulan sedang tak enak hati, maka saling menatap bisa berujung perkelahian. Tapi kalau sedang saling jatuh cinta, maka saling menatap penuh asmara, bisa berakhir di KUA.r/n/r/n/Dari ilmu tingkah laku hewan, kera memang tak senang matanya ditatap oleh manusia. Menatap mata kera berarti dianggap menantang, dan sang kera biasanya langsung menyerang, tak peduli walaupun orang yang menatap sebesar pesumo Jepang sekali pun. Bahkan kera yang sudah akrab dengan manusia, dalam arti tidak takut dengan manusia, seperti yang bermukim di cagar alam Sangeh dan Ubud di Bali atau di Desa Ngujang, Kecamatan Ngantru, Tulung Agung, Jawa Timur dan di beberapa cagar alam lainnya, tak senang matanya ditatap. Oleh karena itu penjaga taman biasanya mengingatkan pengunjung untuk tidak menatap mata kera (keterlaluan kera ini).r/n/r/n/Masalah tatap menatap ini ternyata bisa bikin runyam, tak kera tak manusia sama saja. Seperti ramai diberitakan di media cetak dan elektronik, bentrok yang terjadi di Batam antara TNI dan Brimob, bermula dari saling tatap antara personil TNI dan Brimob yang berpapasan di jalan. Tak puas saling tatap, mereka melanjutkannya dengan pertengkaran, dan ujungnya berakhir dengan bentrokan bersenjata, tembak-menembak yang meminta korban. Akar masalah bentrokan masih terus dikaji dan didalami oleh petinggi kedua belah pihak setelah mereka berdamai, tapi jelas, akar masalahnya bukan pada saling tatap tersebut. Saling tatap hanya sekedar casus belli (pencetusnya) dari sebuah gunung es permasalahan.r/n/r/n/Entahlah, mana yang benar. Manusia dan kera agaknya ibarat ayam dan telur. Atau barangkali, kedekatan sifat-sifat itu, disebabkan karena manusia moyangnya berasal dari kera, seperti teori Darwin (belum pernah diseruduk sapi kali nih, Darwin, sembarangan). Namun kelihatannya, salah satu dari opsi tiru meniru tersebut pastilah mendekati benar. Atau sebaliknya, kedua opsi tak ada yang benar; artinya, manusia dan kera tak saling tiru meniru. Manusia ya manusia, kera ya kera. Bukankah makhluk yang satunya adalah manusia, yang satunya lagi adalah binatang, alias hewan? Tak ada hubungan sanak family satu sama lain.r/n/r/n/Tapi filsuf Aristoteteles mengatakan, manusia itu hewan tingkat tinggi. Ucapan Aristoteles itu sesungguhnya bisa diartikan, bahwa manusia itu sebenarnya hewan. Disebut tingkat tinggi karena manusia itu adalah hewan yang bisa berpikir (lebih kurang sama saja dengan Darwin, pelecehan). Jadi biasa saja, banyak sifat manusia yang ditiru hewan, dan banyak sifat hewan yang ditiru manusia. Hanya satu yang tak ditiru oleh hewan, yakni belum pernah terdengar kasus sodomi alias pelecehan seksual pada dunia hewan, termasuk kera. Tapi jangan tatap matanya.

fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 492 kali
sejak tanggal 25-11-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat