drh. Chaidir, MM | Parlemen Badak | SIDANG parlemen badak gaduh. Tak bisa dihindari sidang terbelah dalam dua kelompok badak, yakni badak bercula satu dan badak bercula dua. Yang menjadi perdebatan sengit antara kedua kubu adalah penentuan kelompok mana yang menjadi icon badak di dunia, bercula satukah atau bercula dua. Masing-masing
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Parlemen Badak

Oleh : drh.chaidir, MM

SIDANG parlemen badak gaduh. Tak bisa dihindari sidang terbelah dalam dua kelompok badak, yakni badak bercula satu dan badak bercula dua. Yang menjadi perdebatan sengit antara kedua kubu adalah penentuan kelompok mana yang menjadi icon badak di dunia, bercula satukah atau bercula dua. Masing-masing kelompok ngotot dengan argumentasinya sehingga belum menemukan jalan kompromi.

Badak bercula dua yang menjadi ciri khas Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) beralasan, Walaupun mereka memiliki ukuran badan lebih kecil dibandingkan dengan semua badak lain di dunia, tapi jumlah mereka lebih banyak. Populasi badak sumatera di alam saat ini diperkirakan sekitar 300 ekor. Bandingkan dengan badak bercula satu yang hanya sekitar 40-50 ekor, atau seratus ekor menurut versi optimis. Oleh karena itu wajar kalau mereka yang menjadi icon badak sedunia.

"Persoalan distribusi geografis, kita sama saja", ujar juru bicara badak bercula dua. "Kita sama tersebar di Sumatera, Kalimantan, Myanmar, Laos, Kamboja, India, Sabah, Malaysia, Thailand, Vietnam dan seterusnya." Lanjutnya bersemangat. "Kita juga sama-sama berada dalam daftar merah lembaga konservasi dunia, bedanya kami masuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah, sementara kalian yang bercula satu, klasifikasinya satwa kritis yang sangat terancam punah." Jubir cula dua meyakinkan.

Badak bercula dua juga mengungkapkan, tidak ada tempat yang berpotensi untuk berkembang biak bagi badak bercula satu, sementara untuk badak bercula dua, beberapa cagar alam di Sumatera masih memungkinkan untuk berkembang biak. Dengan demikian, diperkirakan dalam tempo yang tidak terlalu lama, badak bercula satu akan punah. Kelak bangsa manusia hanya akan kenal dengan badak bercula dua.

Badak bercula satu alias Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) tidak mau kalah bersilat lidah. Jumlah mereka memang lebih sedikit dibanding badak bercula dua, tapi dengan ukuran badan yang jauh lebih besar, badak bercula satu terlihat jauh lebih gagah dan mengesankan. "Baju baja yang sama-sama kita gunakan, jauh lebih pas untuk kami yang bercula satu, karena badan kami lebih besar, dan itu membanggakan seisi jagad raya." Argumentasi badak bercula satu. "Justru karena kami satwa kritis yang sangat terancam punah, maka kami berhak sebagai icon badak di muka bumi. Dan satu lagi, kendati hanya dengan satu cula, cula kami bernilai jauh lebih mahal." Cula satu tak kalah argumentasi.

Ambisi badak bercula satu dan badak bercula dua untuk menjadi icon badak dunia telah menimbulkan perdebatan yang tak berujung dalam sidang parlemen badak tersebut, sehingga mereka mengabaikan agenda pertama dan agenda kedua yang sebelumnya telah disepakati. Agenda pertama sebenarnya, parlemen gajah ingin ikut berikhtiar menyelamatkan anak cucu mereka dari ancaman kepunahan. Mereka ingin mencari titik temu dengan bangsa manusia yang telah bersusah payah memberikan perlindungan kepada bangsa badak. Entah untuk kepentingan apa bangsa manusia bersikeras mempertahankan eksistensi badak. Padahal bangsa manusia sendiri sering jengkel dengan mencemooh temannya yang bodoh dan keras kepala sebagai orang yang bermuka badak.

Agenda kedua, sebenarnya, mereka ingin memberikan sumbangan pemikiran pada upaya penguatan nilai kebinatangan yang adil dan beradab, tidak berlaku zalim dan aniaya, tidak hanya kepada bangsa badak tetapi terhadap binatang secara keseluruhan. Dua agenda terakhir ini sebenarnya lebih mendasar dan lebih bernilai masa depan daripada berdebat tak tentu arah untuk kepentingan ego cula satu atau cula dua. Tapi apa daya sidang terlanjur kehilangan arah karena ulah beberapa anggota parlemen badak yang bermuka badak.

fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 437 kali
sejak tanggal 04-11-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat