drh. Chaidir, MM | Lagi, Sepakbola Gajah | SEPAKBOLA tidak hanya dimainkan oleh manusia. Pada bulan Desember 2010 silam, pertandingan sepakbola antar gajah ini dimainkan dalam rangkaian festival gajah yang digelar di Taman Nasional Chitwan, Nepal. Setiap tim diisi 4 ekor gajah. Pertandingan ini dimainkan 2X40 menit.

Gajah-gajah ini mencob
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Lagi, Sepakbola Gajah

Oleh : drh.chaidir, MM

SEPAKBOLA tidak hanya dimainkan oleh manusia. Pada bulan Desember 2010 silam, pertandingan sepakbola antar gajah ini dimainkan dalam rangkaian festival gajah yang digelar di Taman Nasional Chitwan, Nepal. Setiap tim diisi 4 ekor gajah. Pertandingan ini dimainkan 2X40 menit.

Gajah-gajah ini mencoba memperlihatkan keahlian bermain bola. Meski demikian, gajah-gajah itu terlihat sulit untuk menggiring bola. Apalagi menceploskan si kulit bundar itu ke gawang. Tim Waiwai pun akhirnya menjadi juara dalam pertandingan ini dengan skor 1-0. Festival gajah kali ini diikuti puluhan gajah yang berasal dari sejumlah negara. Selain 20 gajah lokal, ada juga gajah dari Inggris, Brazil, China, dan Jerman.

Pada bulan Desember 2010 juga, tidak seperti timnas PSSI (pemainnya benar-benar orang) yang sering keok melawan timnas Malaysia, gajah-gajah Indonesia berhasil mengalahkan tim gajah Malaysia dalam pertandingan sepak bola gajah di lapangan Yonif 509, Sukorejo, Jember, Jawa Timur. Apakah gajah-gajah yang mengalahkan timnas gajah Malaysia ini berasal dari Akademi Sepak Bola Gajah (Way Kambas) yang telah suskes dengan sabar mendidik gajah dari usia dini menjadi gajah dewasa dengan skill bola yang mumpuni? Tidak ada berita yang jelas mengenai hal ini.


Tapi yang pasti, sepakbola gajah yang diributkan dewasa ini, bahkan FIFA sampai turun tangan melakukan penyelidikan, bukan tim sepakbola gajah betulan, bukan juga gajah-gajahan. Sepabola gajah yang diributkan itu adalah bentuk praktik sepakbola negative atau sepakbola kotor yang dimainkan oleh PSS Sleman melawan PSIS Semarang, pekan lalu. Kemenangan 3-2 PSS Sleman atas PSIS dalam pertandingan 8 besar Divisi Utama di Sasana Krida Akademi Angkatan Udara, Sleman, Yogyakarta, Minggu (26/10/2014), menjadi pusat perhatian, tidak hanya bagi persepakbolaan tanah air, bahkan juga dunia. Masalahnya, semua gol dalam partai tersebut dihasilkan lewat gol bunuh diri.

Tiga gol PSS merupakan hasil gol bunuh diri dari Komaedi dan Fadli Manan, sedangkan gol PSIS dilesakkan pemain PSS oleh Hermawan Putra Jati dan Agus Setiawan. Perangai yang mencoreng dunia sepakbola Indonesia itu diduga karena kedua tim tak mau bertemu tim kuat Borneo FC, dalam babak semifinal. Kedua tim memainkan jurus menghindar yang sangat kasar dan memalukan. Akibat aksi sepak bola gajah yang diperagakan PSS dan PSIS tersebut, kedua tim didiskualifikasi dari kompetisi Divisi Utama 2014. Padahal, mereka tinggal selangkah menuju Liga Super Indonesia (LSI) karena telah mengantongi tiket ke semifinal.

Persepakbolaan kita memang punya catatan panjang tentang sepakbola gajah. Saat menjuarai Kompetisi Perserikatan pada tahun 1988, Persebaya pernah memainkan pertandingan yang terkenal dengan istilah sepak bola gajah, karena mengalah kepada Persipura Jayapura 0-12, untuk menyingkirkan saingan mereka PSIS Semarang yang pada tahun sebelumnya memupuskan impian Persebaya di final kompetisi perserikatan. Taktik ini setidaknya membawa hasil dan Persebaya berhasil menjadi juara perserikatan tahun 1988 dengan menyingkirkan PSMS 3 - 1

Pada Liga Indonesia 2002, Persebaya melakukan aksi mogok tanding saat menghadapi PKT Bontang dan diskors pengurangan nilai. Kejadian tersebut menjadi salah satu penyebab terdegradasinya Persebaya ke divisi I. Tiga tahun kemudian atau tahun 2005, Persebaya menggemparkan publik sepak bola nasional saat mengundurkan diri pada babak delapan besar sehingga memupuskan harapan PSIS dan PSM untuk lolos ke final. Atas kejadian tersebut Persebaya diskors 16 bulan tidak boleh mengikuti kompetisi Liga Indonesia. Namun, skorsing diubah direvisi menjadi hukuman degradasi ke Divisi I Liga Indonesia.

Masih ingatkah dengan pertandingan Thailand bentrok Indonesia pada Piala Tiger 1998 lalu, yang kemudian merubah nama menjadi AFF 2010? Dalam pertandingan tersebut tim Merah Putih ibarat prajurit yang takut perang, mereka memainkan sepakbola gajah. Kedua tim sama-sama menghindari kemenangan guna menghindari tuan rumah Vietnam yang tampil trengginas di fase penyisihan grup.

Akibat aksi tersebut, Indonesia dan Thailand dikenai denda karena telah merusak semangat sepakbola. Mursyid Effendi yang dengan sengaja memasukkan bola ke gawang Indonesia dihukum tak boleh tampil di event internasional seumur hidup.

Orang yang makan nangka gajah kena getahnya. Kasihan.

fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 507 kali
sejak tanggal 04-11-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat