drh. Chaidir, MM | Keledai dan Sumur | KELEDAI tak sama dengan kancil. Ya iyalah. Siapa juga yang bilang sama. Kendati kedua makhluk ini berkaki empat dan sama-sama memiliki ekor sebagai identitas kehewanannya, keledai dan kancil beda bak bumi dan langit dalam hal pencitraan. Padahal mereka tak pernah  tebar pesona.

Siapa yang membant
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Keledai dan Sumur

Oleh : drh.chaidir, MM

KELEDAI tak sama dengan kancil. Ya iyalah. Siapa juga yang bilang sama. Kendati kedua makhluk ini berkaki empat dan sama-sama memiliki ekor sebagai identitas kehewanannya, keledai dan kancil beda bak bumi dan langit dalam hal pencitraan. Padahal mereka tak pernah tebar pesona.

Siapa yang membantu pencitraan itu? Siapa lagi kalau bukan manusia. Bangsa manusialah yang membantu menyebarluaskan merek dagang binatang-binatang ini; bahwa si kancil itu hewan yang cerdik; kecil tapi banyak akal; dengan kecerdikannya sang kancil memiliki kreatifitas tinggi, kreatif dalam menyelamatkan diri bila perlu dengan tipu daya dan adakalanya usil. Dan keledai? Kasihan binatang ini. Keledai diberi merek dagang binatang yang bodoh dan tolol.

Filsuf Yunani kuno, Aristoteles, murid Plato, barangkali patut dipersalahkan karena dengan cerita Keledai Buridan yang dikarangnya, sampai sekarang keledai dicap sebagai hewan yang bodoh, pandir dan keras kepala. Keledai Buridan, sebagaimana ditulis Aristoteles, memiliki dua bal jerami makanan favoritnya. Keledai itu harus memilih dua bal jerami yang sama-sama diinginkannya dan terletak sama jauhnya. Keledai itu lantas mondar-mandir diantara kedua bal jerami, tak bisa mengambil keputusan karena tidak ada alasan untuk lebih menyukai bal jerami yang satu daripada yang lainnya. Keledai itu kemudian mati kelaparan.

Karena kebodohannya itu, ada ungkapan, "hanya keledai yang terperosok ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya." Atau ada pula ungkapan lain, "sebodoh-bodohnya keledai, mereka tak pernah terperosok ke dalam lubang yang sama." Dibolak-balik, tetap saja, keledai dihakimi sebagai binatang yang derajat kebodohannya sampai pada tingkat dewa.

Tapi sebodoh-bodohnya keledai, mereka punya naluri menyelamatkan diri. Alkisah, pada suatu hari, seekor keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Binatang itu meraung-raung memilukan minta pertolongan. Berjam-jam keledai itu menangisi nasib, dia putus asa dan memutuskan nenggak baygon, tapi dalam sumur tua begitu mana ada baygon? Akhirnya hara-kiri pun batal. Sementara si petani, sang pemilik, mencoba memikirkan apa yang harus dilakukannya terhadap keledai malang tersebut.

Tak menemukan jalan keluar, petani pun putus asa. Sang petani akhirnya memutuskan bahwa keledai itu sudah tua dan sumur tua itu juga perlu ditimbun, ditutup saja. Kalau tidak ditimbun, sumur tersebut bisa membahayakan, lagi pula keledai yang bakal mati di bawah sana bangkainya akan menimbulkan bau busuk. Jadi, tidak ada gunanya menolong si keledai. Vonis pun dijatuhkan: keledai dan sumur ditimbun. Dan untuk melaksanakan eksekusi, sang petani mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya.

Para tetangga datang membawa cangkul dan sekop, dan mulai menyekop menimbunkan tanah ke dalam sumur. Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Nasibnya tamat sudah, ia akan mati terkubur hidup-hidup. Sebodoh-bodohnya keledai mulai dari zaman nenek moyangnya belum pernah ada sejarah leluhur keledai dikubur hidup-hidup. Mengerikan sekali. Eksekusi pun dimulai. Beberapa saat kemudian, tak lagi terdengar tangisan keledai, semua mengira keledai tersebut sudah tertimbun. Petani dan para tetangganya terus menyekop tanah dan menuangkannya ke dalam sumur. Namun sesuatu yang menakjubkan terjadi. Si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang menyaksikan apa yang dilihatnya.

Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah, si keledai melakukan sesuatu yang mengagumkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu. Tangisnya hilang berubah menjadi rasa senang. Si keledai tanpa diduga menemukan cara menyelamatkan diri dari persoalan besar yang dihadapinya.

Di bibir sumur, si petani dan tetangga-tetangganya terus menuangkan tanah ke dalam sumur, mengenai punggung sang keledai. Dan sang keledai pun dengan senang hati terus mengguncang-gungcangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri.

Sebagai homo sapiens (makhluk yang berpikir), manusia sepatutnya menangkap makna pesan yang terkandung dalam kisah keledai ini. Dalam kedunguannya keledai menemukan jalan keluar dari sebuah permasalahan hidup-mati. Jangan pernah menyerah.

fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 515 kali
sejak tanggal 28-10-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat