drh. Chaidir, MM | Nasib Aura dan Agustin | DEWI Fortuna berpihak pada Aura dan Agustin. Keduanya menjadi bagian dari sejarah penobatan Presiden Ketujuh Bangsa Indonesia, Jokowi, kemarin pagi (20/10/2014). Tak semua memperoleh kesempatan amat langka tersebut, walau sesungguhnya keduanya tak asing bagi Jokowi. Mereka sudah akrab satu sama lain
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Nasib Aura dan Agustin

Oleh : drh.chaidir, MM

DEWI Fortuna berpihak pada Aura dan Agustin. Keduanya menjadi bagian dari sejarah penobatan Presiden Ketujuh Bangsa Indonesia, Jokowi, kemarin pagi (20/10/2014). Tak semua memperoleh kesempatan amat langka tersebut, walau sesungguhnya keduanya tak asing bagi Jokowi. Mereka sudah akrab satu sama lain ketika Sang Presiden masih berstatus sebagai Walikota Solo. Sehingga tak heran keduanya diajak ikut ambil peran penting saat inaugurasi Presiden Jokowi di Jakarta.

"Mimpi apa kau semalam?" Aura membuka percakapan setelah keduanya menikmati telur campur madu asli yang dibawa dari Solo, plus jamu sebagai suplemen tambah tenaga. Maklum, mereka tak mau malu-maluin di depan presiden. Tenaga harus kuat dan badan harus segar dengan aroma jejamuan. Oleh karena itu mereka pun tak keberatan dimandikan dengan air kembang.

"Eh..eaa…aku? Agustin terperanjat dari lamunannya.
"Iyo kowe..sopo maneh?"
"Aku mimpi memetik rembulan."
"Ngarang kowe."
"Lho piye ta, dikasih tau nggak percoyo, yo wis." Agustin senyam senyum. "Kalau kamu Aura, mimpi apa?"
"Aku mimpi terbang di atas awan."
"Wah niru…ora orisinil"
"Nggak orisinil ya ora opo-opo." Aura meniru frasa Romo yang terkenal di masa kampanye itu.

Kedua sahabat ini larut dalam canda. Mereka sebetulnya tidak berdua, ada Srikandi dan Soleka di kamar sebelah yang juga diperlakukan istimewa. Tapi, sementara Aura dan Agustin bertugas melayani Presiden Jokowi, Srikandi dan Soleka bertugas melayani Wapres JK. Aura dan Agustin tidak tahu apa yang sedang diperbincangkan dengan berbisik-bisik oleh Srikandi dan Soleka. Mungkin mereka juga hanyut dalam perasaan bahagia. Bukankah melayani sang Wapres juga tidak kalah terhormatnya. Sebab Jokowi-JK adalah dwi-tunggal ibarat dua sisi koin uang logam, keduanya bisa dibedakan tapi tak bisa dipisahkan.

"Sebetulnya ya….." Aura menggantung kata.
"Sebetulnya apa?" Agustin penasaran.
"Kasih tau nggak ya.."
"Kasih tau donk, opo sih?"
"Sssst…tapi tangan kasih tau Romo ya.."
"Swear..salam dua jari."
"Kamu kayak kampanye aja…tapi jangan bilang-bilang ya…janji?"
"Janji."

Sambil mendekatkan mulutnya ke telinga Agustin, Aura membisikkan, "Sebetulnya aku mengharapkan Palomo dan Lusitano datang pada acara penobatan Presiden ini, jadi aku bisa jumpa."

"Edan kowe."
"Sejak aku lihat foto mereka yang sangat gagah ketika kampanye Pak Prabowo dulu, aku langsung ngefans berat, suatu saat aku harus jumpa dengan mereka."
"Tapi mereka datang nggak?" Agustin ikut antusias.
"Itu dia masalahnya."
"Wah aku jadi berdebar-debar, harap-harap cemas. Aku dengar Presiden Jokowi sudah jumpa dengan Pak Prabowo dan mengharapkan Pak Prabowo hadir." Agustin menambahkan.
Aura langsung berbunga-bunga.
"Bener?"
"Kita nggak bisa cek kebenarannya."

Acara penobatan Presiden Jokowi dan Wapres JK sudah berlangsung kemarin pagi. Dan sangat istimewa karena Prabowo juga hadir dan memberi hormat kepada Jokowi. Kehadiran Prabowo mendapat apresiasi yang luar biasa dari publik. Semua menyambutnya dengan gembira. Inilah bentuk sikap kenegarawanan baik Prabowo maupun Jokowi.

Namun kehadiran Prabowo tersebut disesalkan oleh Aura dan Agustin, dua ekor kuda betina yang menghela Kereta Kencana Presiden Jokowi, sebab Prabowo tidak datang dengan kuda jantan gagah kesayangannya, Palomo yang berasal dari Argentina dan Lusitano yang berasal dari Portugal. Sia-sialah mimpi Aura dan Agustin untuk bertemu dengan "cowok" kebanggaannya. Meleset.

fabel - Koran Riau Pos
Tulisan ini sudah di baca 547 kali
sejak tanggal 21-10-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat