drh. Chaidir, MM | Masyarakat Cinta Musang | ADAGIUM politik
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Masyarakat Cinta Musang

Oleh : drh.chaidir, MM

ADAGIUM politik "Tak ada kawan dan lawan abadi" kini dibuktikan oleh bangsa musang. Senyum tersungging dimana-mana. Mereka bisa bernafas lega. Kini bangsa musang bisa berjalan menegakkan kepala. Padahal mereka tidak melakukan pencitraan berlebihan. Berlebihan? Tidak, mereka bahkan tidak tahu apakah mereka pernah melakukan pencitraan. Waktu jualah agaknya yang berperan terhadap perubahan itu.

Harus diakui, gara-gara segelintir bangsa manusia yang "muna" dengan tebar pesona, pura-pura baik, bangsa musanglah yang jadi kambing hitam. Orang jahat yang pura-pura baik ini disindir dalam peribahasa "ibarat musang berbulu ayam." Padahal, swear, musang sendiri tidak pernah melakukan perbuatan bejat tersebut.

"Jujur, kami suka makan ayam hidup yang kami tangkap sendiri. Tapi bangsa kami tak pernah mengelabui ayam. Kami merasa tak pernah menggunakan jaket berbulu ayam. Kami tak mau berbohong. Sekali musang tetap musang," ujar narasumber dari bangsa musang berapi-api dalam sebuah seminar antar bangsa hewan malam.

"Tapi bangsa kalian, hewan malam kan?" Potong narasumber kelelawar, sesama hewan malam (nocturnal) yang lain. "Kalau kalian bukan hewan malam, akan kami usir dari seminar ini."
"Ya iyalah, begitu kan Bro, Burung Hantu?" Musang mencari penguatan.
"Ya ya...aku tau." Burung hantu yang juga nocturnal, terlihat memutar-mutar kepala tanda setuju.

Lantas kenapa bangsa musang akhir-akhir ini kelihatan berbunga-bunga? Usut punya usut, diusut-usut, ternyata, di kalangan bangsa manusia yang selama ini membuat stigma jelek bangsa musang dengan peribahasa ibarat musang berbulu ayam itu, muncul suatu gaya hidup baru atau kesadaran baru: Musang bisa membangun kemitraan dengan bangsa manusia.
"Contohnya?" Tanya burung hantu.
"Kotoran kami saja bisa menjadi kopi luwak, kopi nomor satu di dunia. Opo ora hebat?" Jadi nama bangsa musang menjadi komersial."
"Kenapa bisa begitu?"
"Itulah keunggulan komparatif bangsa kami yang tidak dimiliki oleh bangsa lain." Ujar musang bersemangat. "Biji-biji kopi pilihan yang kami makan akan keluar utuh berupa biji kopi, dan kata bangsa manusia penggemar kopi, kopi yang berasal dari kotoran musang itu luar biasa nikmatnya. Kamu mau coba?"
"No no no....bangsa kami tidak makan biji kopi."
Tidak menyia-nyiakan peluang, narasumber musang melanjutkan pasang aksi. "Bangsa kami juga akan mendapatkan anugerah kalpataru." Katanya.
"Wah apa lagi nih." Burung hantu heran
"Bangsa musang dianggap berjasa menjaga kelestarian lingkungan dengan ikut serta menyebarkan biji-bijian tanaman."
"Bangsa kami juga ikut menyebarkan biji-bijian," kelelawar memotong..
"Kalau kami, ikut menjaga lingkungan dengan memangsa tikus yang merusak lumbung padi." Burung hantu pede.
"Tapi kan tetap saja musang dianggap hama oleh manusia?" Argumentasi kelelawar.
"Hama? itu paradigma lama, sekarang musang jadi hewan peliharaan. Manusia dan musang sudah berkawan" Tangkis musang membusungkan dada.
"Ooo..gitu?"
"Ya tak selamanya kami dianggap hama, mungkin karena kami tak ikut-ikutan berpolitik atau ikut-ikutan pro-kontra KMP atau KIH." Musang mantap.

Bangsa musang dewasa ini memang sudah banyak dipelihara oleh manusia sebagai hewan peliharaan . Tak bisa dimungkiri, musang semakin digemari sebagai hewan kesayangan. Hewan liar ini punya daya tarik sendiri untuk dijadikan binatang peliharaan. Para pencinta musang ini membuat beberapa perkumpulan pencinta musang, seperti Djaringan Musang Lovers (Djamal). Komunitas Optimus (Owner Pecinta Musang), dan lain-lain. Kalau musang memang tak pernah berbulu ayam, mungkin para pemelihara musang tersebut ingin belajar bagaimana menjadi makhluk malam. Ahaai..

fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 990 kali
sejak tanggal 14-10-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat