drh. Chaidir, MM | Hewan Kurban | SEKALI setahun, pada Hari Raya Kurban, umat Islam yang memiliki kemampuan ekonomi menyembelih hewan kurban berupa kambing, domba, sapi atau kerbau, juga unta, ternak yang umum dipelihara di negeri Arab. Penyembelihan hewan kurban ini merupakan ibadah yang dikaitkan sebagai bentuk keikhlasan, pengorb
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Hewan Kurban

Oleh : drh.chaidir, MM

SEKALI setahun, pada Hari Raya Kurban, umat Islam yang memiliki kemampuan ekonomi menyembelih hewan kurban berupa kambing, domba, sapi atau kerbau, juga unta, ternak yang umum dipelihara di negeri Arab. Penyembelihan hewan kurban ini merupakan ibadah yang dikaitkan sebagai bentuk keikhlasan, pengorbanan dan kesabaran Nabi Ibrahim alaihissalaam dan anaknya, Nabi Ismail alaihissalaam atas ujian maha dahsyat yang diberikan oleh Allah SWT, Sang Maha Pencipta alam semesta.

Umat Islam meyakini ibadah kurban itu sebagai bagian dari warisan Nabi Ibrahim alaihissalaam. Kepada Ibrahim Tuhan mengajarkan kesediaan untuk berkorban. Kemudian ajaran itu diabadikan oleh Tuhan melalui Nabi-Nabi yang datang kemudian. Setiap mahluk yang tunduk kepada Tuhannya tentu akan dengan senang hati menjalani perintah-Nya. Termasuklah hewan-hewan ternak itu.

Berpuluh-puluh abad kemudian penyembelihan hewan kurban ini dimaknai sebagai simbol, tidak hanya simbol keihklasan beribadah semata, simbol pengorbanan atau kesabaran, tetapi juga sebagai simbol perlawanan terhadap nafsu kebinatangan yang ada dalam diri manusia dan menyebar dalam masyarakat. Penyembelihan hewan kurban kemudian juga merupakan simbol solidaritas kaum muslimin. Setiap tahun berton-ton daging hewan kurban dibagikan kepada kelompok masyarakat kurang mampu. Negeri-negeri Arab yang kaya bahkan mengirim daging-daging kurban ini ke negeri-negeri miskin di Afrika.

Penyembelihan hewan kurban juga dimaknai sebagai penyembelihan terhadap nafsu kebinatangan yang ada dalam diri manusia di tengah masyarakat. Oleh karena itulah dalam pemahaman transcendental, hewan-hewan kurban tersebut adalah hewan-hewan yang beruntung karena terpilih sebagai hewan kurban dari kelompoknya yang banyak. Mereka adalah hewan-hewan yang disayang oleh Allah SWT dan pasti masuk surga, dan di sana kelak, di padang mahsyar akan menolong memberi kesaksian yang menguntungkan bagi umat yang memilihnya sebagai hewan kurban.

"Hei, mengapa kau menangis, bukankah kita terpilih menjadi makhluk yang disayang?" Tanya seekor domba kepada temannya disela-sela gema takbir yang terdengar bertalu-talu.
"Aku khawatir, kita akan mati sia-sia, Bro."
"Lho..lho..kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Aku dengar banyak gosip, kita dibeli sebagai hewan kurban dari uang kantor. Padahal mestinya kan dari uang yang berasal dari kantong sendiri, hasil usaha sendiri.Uang kantor kan bukan milik pribadi."
"Itu tanggung jawab mereka, mereka yang tanggung dosa. Nggak usah dipikirin. Pokoknya kita disembelih sebagai hewan kurban."
"Masih agak galaw, Bro."
"Ikhlas saja Bro, ikhlas. Tuhan itu tidak tidur."

Kegalauan domba yang galau mungkin beralasan, sebab nafsu kebinatangan di dunia itu tak pernah habis-habisnya kendati ribuan ekor hewan kurban telah disembelih setiap tahun sejak berabad-abad lampau. Dan mestinya upaya pembunuhan nafsu kebinatangan itu sudah dilakukan setiap tahun juga sejak berabad-abad lampau. Tapi kenyataannya manusia tetap saja dipengaruhi oleh nafsu kebinatangan, wujudnya terlihat dalam perilaku menghalalkan segala macam cara untuk meraih kekuasaan dan kekayaan.

Barangkali memang nafsu kebinatangan itu tak mati-mati, atau nafsu kebinatangan itu sebenarnya mati bersama hewan kurban, tapi bukankah setiap kali manusia lahir, setiap kali pula dalam diri manusia itu ada nafsu yang sebagian diantaranya adalah nafsu kebinatangan? Dengan demikian nafsu kebinatangan itu sama tuanya dengan sejarah manusia itu sendiri. Maka sebaiknya manusia itu sering becermin, kata orang bijak perlu untuk komunikasi intrapersonal, melihat diri sendiri, apakah selama ini dipengaruhi oleh nafsu baik atau nafsu kebinatangan.

fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 661 kali
sejak tanggal 07-10-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat