drh. Chaidir, MM | Masyarakat Kura-kura | TIDAK ada sesuatu yang istimewa pada kura-kura. Lambat, tidak tangkas, unyu, bahkan juga terkesan dungu. Tapi makhluk ini memberi banyak pelajaran yang berguna bagi makhluk lain. Hewan yang cerdik dan lincah seperti kancil pun mereka kalahkan dalam lomba lari. Tukang tipu tertipu, itulah sebabnya ka
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Masyarakat Kura-kura

Oleh : drh.chaidir, MM

TIDAK ada sesuatu yang istimewa pada kura-kura. Lambat, tidak tangkas, unyu, bahkan juga terkesan dungu. Tapi makhluk ini memberi banyak pelajaran yang berguna bagi makhluk lain. Hewan yang cerdik dan lincah seperti kancil pun mereka kalahkan dalam lomba lari. Tukang tipu tertipu, itulah sebabnya kancil kalah dalam lomba lari tersebut.

Suatu hari, merasa sangat 'pede', kancil menantang kura-kura lomba lari.
"Aku pasti kalah." Kura-kura merendah.
"Jangan menyerah dulu, Bro." Kancil memotivasi sambil anggap remeh.
"Aku jelas kalah."
"Kuberi kamu voor 50 meter di depan, bagaimana?"
"Koq kamu ngotot amat? Ayolah kalau begitu." Kura-kura pasrah.

Lomba lari 500M itu pun dimulai. Maksudnya, 500 meter. Kura-kura mengambil posisi 50 meter di depan, dalam semak-belukar di pinggir sebuah sungai, sesuai kehendak kancil. Setelah mengambil posisi, kura-kura kemudian berteriak memberi aba-aba.

"Aku siap."
"Satu...dua...tiga..." Kancil berteriak kemudian melesat.
Dalam sekejap kancil melewati titik 50 meter, tapi tidak ada kura-kura.
"Kura-kura, kamu dimana?"
"Aku di sini."
Merasa tertinggal, kancil kembali berlari kencang.

Seratus meter berlalu, tak ada kura-kura.
"Kura-kura, kamu dimana?"
"Aku di sini."
Kancil heran, dia tertinggal, maka tanpa melihat kiri-kanan, kancil tancap gas. Dua ratus meter berlalu, tiga ratus meter, tapi tak terlihat kura-kura. Kancil mulai jengkel.
"Hei kura-kura, dimana lu?"
"Gue di sini."

Demikian seterusnya. Setiap kali kancil bertanya, "kamu dimana?" kura-kura selalu menjawab "aku di sini" sampai pada titik lima ratus meter. Ketika kancil tiba dengan nafas tersengal sengal, dia melihat kura-kura sudah berada di sana, tenang-tenang sambil makan daun muda kegemarannya. Kancil ngaku kalah. Kenapa?

Kejadian yang sesungguhnya (tapi pembaca jangan cerita-cerita sama kancil ya...janji ya..), kura-kura tak pernah ikut berlari. Kura-kura tidak kemana-mana tapi ada dimana-mana. Hanya kura-kura pertama saja yang tahu mereka sedang berlomba. Kura-kura pertama bersembunyi pada jarak 50 meter tersebut. Kura-kura lain tidak tahu ada perlombaan. Ketika kancil tak menemukan kura-kura di 50 meter pertama, kancil mengira kura-kura sudah berada di depan. Lalu, kura-kura selanjutnya? Mereka memang ada, tersebar di tepi sungai tersebut. Karena kancil bertanya, "Kura-kura kamu dimana?" tentu saja kura-kura menjawab, "aku di sini." Kura-kura tersebut (kecuali yang pertama) sesungguhnya tak ikut berlomba dengan kancil bahkan sama sekali tidak tahu kalau ada perlombaan.

Kejadian itu dicatat sejarah dunia perhewanan. Secerdik apapun kancil, mereka tidak menang lawan kura-kura. Mungkin karena itu, maka ada kura-kura ninja yang sangat handal. Sayangnya, para ninja ini tidak pernah minta izin pada kura-kura untuk penggunaan nama kura-kura, apalagi bayar royalti. Tapi masyarakat kura-kura tak pernah ambil pusing. Untungnya, para ninja sawit tak menggunakan cover kura-kura pada punggungnya.

Yang membuat masyarakat kura-kura ini agak tidak enak hati adalah ketika mereka dituding sebagai kambing hitam untuk manajemen yang lambat sebagai manajemen kura-kura. Kura-kura juga merasa dilecehkan dengan menyebut mereka hanya berani menaiki pohon kelapa yang sudah tumbang. Ketika pohon kelapa sudah tumbang, kura-kura baru berani mengerayangi pucuknya; coba lakukan itu ketika pohon kelapa masih tegak berdiri. Tapi terhadap yang disebut terakhir ini, kura-kura membela diri, mereka menyarankan, kalau tak mau dinaiki dan digerayangi kura-kura, sebaiknya pohon kelapa jangan pernah tumbang. Selebihnya, kura-kura cuek bebek, kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu.

fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 440 kali
sejak tanggal 30-09-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat