drh. Chaidir, MM | Nasib Katak di Bawah Tempurung | KESIMPULANNYA, tak semua katak berada di bawah tempurung. Ada memang beberapa ekor katak yang merusak pencitraan, ibarat bidal bangsa manusia, makhluk tetangga mereka, akibat nila setitik rusak susu sebelanga. Akibat ulah beberapa ekor katak, citra katak rusak dan bangsa katak menanggung malu. Sesun
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Nasib Katak di Bawah Tempurung

Oleh : drh.chaidir, MM

KESIMPULANNYA, tak semua katak berada di bawah tempurung. Ada memang beberapa ekor katak yang merusak pencitraan, ibarat bidal bangsa manusia, makhluk tetangga mereka, akibat nila setitik rusak susu sebelanga. Akibat ulah beberapa ekor katak, citra katak rusak dan bangsa katak menanggung malu. Sesungguhnya hanya beberapa ekor katak saja yang menetas jadi berudu dan terperangkap di bawah tempurung sehingga tumbuh menjadi besar di bawah tempurung. Katak inilah yang membentuk kredo, katak itu dibesarkan di bawah tempurung.
"Dasar tempurung makhluk itu." Pemuda katak yang lebih muda mengumpat.
"Siapa yang kau maksud?"
"Siapa lagi kalau bukan tuan besarmu, yang suka berpantun, berpuisi, mengaku makhluk paling sempurna."
"Ooh...si cukong itu, mereka kan manusia.." Jawab pemuda yang lebih tua, tenang.
"Memang manusia boleh ngomong sesuka hatinya?"
"Ah nggak usah dipikirin, lagi pula yang salah bangsa kita juga, ngapain kurang kerjaan masuk ke bawah tempurung itu."
"Tapi kan ada ribuan katak lain yang tidak dibesar di bawah tempurung," sang pemuda yang lebih muda masih penasaran.
"Kelompok mayoritas ini, lebih layak mewakili perilaku katak daripada teman kita yang di bawah tempurung itu," lanjutnya.
"Ini bukan masalah representative atau bukan, layak atau bukan, ini masalah mulut."
"Kok masalah mulut, apa hubungannya?"
"Iya, namanya juga manusia, mulutnya bisa ngomong macam-macam, hari ini lain besok lain. Hari ini bilang katak di bawah tempurung, esok hari bukan main bangganya dengan pasukan katak."
"Ha ha ha...kamu kira pasukan katak itu katak beneran? Itu pasukan angkatan laut, hebat itu mereka bisa hidup di darat dan menyelam seperti katak di laut. Kalau katak di bawah tempurung, itu benar-benar katak."
"Oh begitu."
"Makanya jangan sok jadi filsuf kamu."

Kedua katak itu masih terlibat dalam debat kusir. Beberapa petinggi bangsa katak sebelumnya memang mengadakan pertemuan untuk membahas peribahasa: "seperti katak di bawah tempurung." Bidal tersebut makin lama makin terasa mengganggu.

Peribahasa itu bermakna sebuah sindiran terhadap orang yang berpengetahuan sempit, yang tidak bersedia menerima kemajuan. Ungkapan tersebut juga bisa dikait-kaitkan dengan berbagai kondisi, lingkungan, suasana, dimana seseorang sangat menonjolkan egonya, seseorang yang sering disebut "pantang tak hebat".

Dalam metamorfosa kecebong menjadi katak, memang banyak hal sangat menarik dan fenomenal yang terjadi pada kehidupan seekor katak. Pada saat terlur menetas jadi kecebong, kecebong ini mereka berenang seperti seekor ikan, tapi tak lama kemudian, pada tubuh kecebong perlahan-lahan dua pasang empat kaki. Ekornya terputus, dan insang berubah insang menjadi paru-paru.

Mungkin kegirangan dengan bentuk tubuhnya yang baru, katak kecil itu melompat kian-kemari, dan tanpa peduli, ada yang melompat ke tumpukan tempurung, dan beberapa ekor katak kecil itu tertutup dibawah tempurung. Maka katak kecil itu hidup dalam kegelapan di bawah tempurung dan tumbuh menjadi besar karena ada semut-semut, nyamuk, dan cacing yang menjadi mangsanya. Lama kelamaan tubuh katak tumbuh menjadi besar dan punggungnya menyentuh cekungan tempurung paling atas. Sang katak kemudian menganggap dirinya sudah sampai di langit karena punggungnya sudah menyentuh langit, maka diapun menjadi pongah.

Tapi katak tak boleh marah, sebab pepatah "Seperti katak di bawah tempurung" itu bahkan juga sudah dikenal di negeri barat sana, mereka menyebut "Like frog underneath coconut shell." Artinya menurut mereka, "A frog which leaves under a cocunut shell will think that the shell is the world." (Seekor katak yang hidup di bawah tempurung kelapa, akan berpikir bahwa tempurung itulah dunia). Nasib.

fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 522 kali
sejak tanggal 23-09-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat