drh. Chaidir, MM | Kungfu Panda | SAMBIL mengunyah daun-daun bamboo kegemarannya, dan bergolek-golek di bawah sinar matahari yang dingin, dua sahabat itu terlibat dalam percakapan akrab.
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Kungfu Panda

Oleh : drh.chaidir, MM

SAMBIL mengunyah daun-daun bamboo kegemarannya, dan bergolek-golek di bawah sinar matahari yang dingin, dua sahabat itu terlibat dalam percakapan akrab.

"Kamu sudah nonton film Kung Fu Panda?"

"Sudah, rugi kalau belum nonton. Setelah nonton, aku merasa.....I feel free...."

"Ah, kek Syahrini aja kamu."

"Ha ha ha...iya aku merasa diriku adalah Po. Alangkah senangnya kalau kita bisa jago kung fu seperti Po itu, ya.."

"Iya, tapi itu kan khayalan bangsa manusia, bertolak belakang dengan kenyataan yang sebenarnya."

"Memang sih...bangsa kita hampir punah karena bangsa kita terkenal sebagai bangsa yang tak punya kemampuan bela diri, sehingga demikian mudah dimangsa predator."

Film Kung Fu Panda yang dibahas dua sahabat beruang panda tersebut adalah sebuah film animasi yang diproduksi tahun 2008 oleh Paramount Pictures, di Amerika Serikat, bercerita tentang kehebatan beruang Panda yang bernama Po, di zaman Tiongkok kuno.

Suatu hari, mentor Shifu memiliki firasat bahwa mantan muridnya sekaligus anak angkatnya, yang desersi, Tai Lung, akan melarikan diri dari penjara dan kembali ke Valley of Peace untuk membalas dendam. Ini tentu saja mengkhawatirkannya.

Dalam keputus asaan, Shifu menyuruh Po dan Furious Five untuk mengevakuasi lembah. Po kembali ke istana untuk menghadapi Tai Lung, yang telah mencapai Istana dan hampir membunuh Shifu. Po, yang sebelumnya menjadi murid bebal karena tak pandai-pandai diajari kung fu, terbukti menjadi tantangan berat bagi Tai Lung. Po akhirnya mengalahkan Tai Lung dengan menggunakan Wuxi Finger Hold. Po dipuji oleh penduduk Valley of Peace dan mendapatkan rasa hormat dan mengakui sepenuhnya Po sebagai master kung fu sejati.

"Kalau kita tak bisa garang seperti beruang, kenapa kita diberi nama beruang panda?"


"Mungkin karena secara anatomi kita mirip beruang kutub."

"Tapi beruang kutub kan ganas."

"Iya..harusnya nama kita jangan pakai beruang, tapi panda saja. Kalau kita dikumpulkan sesame beruang habislah kita."

"Eh..ngomong-ngomong kamu tau nggak?"

"Apa?"

"Bangsa Tionghoa itu belajar kung fu dari bangsa kita, beruang panda."

"Maksudmu dari Po, di film Kung Fu Panda itu?"

"Bukan..bukan...ini sungguhan.."

"Helloooo...kamu sedang demam ya?" Sang teman menggoda.

"Tidak..aku baik-baik saja. Hanya sedikit mau merenung."

"Sok jadi filsuf kamu."

"Begini Bro. Sun Tzu, jenderal filsuf yang misterius itu, kan telah dikenal dunia sebagai maha guru seni berperang. Seorang jenderal yang memproteksi para prajuritnya seperti bayi, akan membimbing mereka ke jurang terdalam. Sun Tzu juga memberi nasihat, kenali musuhmu dan kenali dirimu. Bila beruang panda itu dihadapkan dengan musuh-musuhnya, dalam tempo singkat beruang panda itu akan habis. Nah belajar dari ketidak berdayaan beruang panda, seseorang harus lebih kuat dari musuhnya bila tak mau dijadikan kwaci."

"Jadi?"

"Mereka tak mau lemah seperti beruang panda yang mereka lindungi."

"Jadi?"

"Jadi mereka belajar kung fu. Tidak ada yang kebetulan, seperti diucapkan beberapakali oleh Master Oogway kepada Shifu dalam film Kung Fu Panda itu, menurutnya hidup terlalu sederhana kalau disebut kebetulan. Orang Tionghoa itu melihat tantangan besar dalam perubahan cepat yang terjadi di luar kehidupannya. Baru kemudian mereka menyesuaikan kompetensinya dengan tantangan tersebut."

"Super sekali, Bro."

Dua sahabat itu kemudian lari terbirit-birit dikejar anjing yang sengaja dilatih manusia untuk melatih beruang panda tersebut menyelamatkan diri. Manusia panjang akalnya.

fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 580 kali
sejak tanggal 16-09-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat