drh. Chaidir, MM | Revolusi Mental | KONFERENSI Tingkat Tinggi bangsa super power itu belangsung seru, dan belum ada tanda-tanda akan segera berakhir. Alotnya perdebatan, bukan karena pertengkaran antara dua kubu super power yang adu kekuatan; kedua kubu justru saling dukung dan saling mengiyakan. Alotnya perdebatan terjadi karena kedu
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Revolusi Mental

Oleh : drh.chaidir, MM

KONFERENSI Tingkat Tinggi bangsa super power itu belangsung seru, dan belum ada tanda-tanda akan segera berakhir. Alotnya perdebatan, bukan karena pertengkaran antara dua kubu super power yang adu kekuatan; kedua kubu justru saling dukung dan saling mengiyakan. Alotnya perdebatan terjadi karena kedua kubu belum menemukan solusi sebagai konklusi.

Dua bangsa itu sengaja melakukan konferensi meja bundar lintas budaya, untuk menjawab agenda revolusi mental yang selama beberapa bulan terakhir ini menjadi pembicaraan aktual di kalangan mereka dan cukup menimbulkan kegalauan. Konferensi diformat dalam bentuk pertemuan meja bundar karena kedua kubu tidak ingin adu kekuatan, kedua kubu justru ingin mencari jawaban dari kegalauan yang mereka rasakan bersama.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Kenapa gading? Kenapa belang? "Karena gading adalah simbol kekuasaan bangsa kami", kata jubir bangsa gajah memberi jawaban. "Sebenarnya ada keunggulan lain yang bisa disebut," sang jubir melanjutkan, "kami bangsa yang berbadan besar, tapi badan besar tak televan dengan kekuasaan."

Senada dengan jubir gajah, jubir bangsa harimau menimpali, "belang adalah simbol kekuasaan bangsa kami; kami punya simbol kekuasaan lain berupa efek audio, yakni auman kami yang menggetarkan makhluk seisi hutan rimba tak terkecuali bangsa manusia sekali pun. Boleh dicoba kalau diizinkan."

"Tidak, tidak perlu, teman kita gajah, sudah biasa mendengar kokokmu," harimau tua memotong sambil bercanda.

"Auman."

"Ya iyalah auman, kamu ayam jago atau harimau?"

"Harimau."

"Ya sudah."

Harimau muda bicara. "Bangsa manusia selalu tak puas dengan kekuasaan yang sudah berada di tangannya. Mereka sebenarnya punya pedang dan bedil sebagai instrumen kekuasaan."

"Maksudmu?"

"Maksudku, kenapa mereka masih ingin memiliki gading dan belang untuk menambah kekuasaannya?" Pemuda harimau berargumentasi.

"Mereka membunuh bangsa gajah, untuk diambil gadingnya, dan mereka memburu bangsa harimau untuk diambil kulitnya."

"Menurutmu untuk apa?"

"Mereka pikir simbol kekuasaan itu akan bisa menambah kekuasaannya."

"Gila."

"Mereka memang gila kekuasaan."

"Baiklah," seekor gajah tua memulai pandangannya dengan suara parau.

"Menjadi bahan renungan bagi kita, mengapa simbol kekuasaan kita itu, gading pada gajah dan belang pada harimau, tak mampu kita gunakan untuk menyelamatkan kaum kita yang dari hari ke hari mati atau terbunuh satu demi satu? Mengapa kita tak mampu menyelamakan hutan habitat kita?"

Suasana hening.

"Mengapa kita mempersoalkan kekuasaan bangsa manusia? Mereka pasti akan saling fitnah dan saling bunuh satu sama lain karena berebut harta dan kekuasaan. Biarkan saja."

Belum ada yang menyela, semua diam.

"Kita sendirilah yang masih teperangkap dalam pola pikir dan perilaku lama. Padahal pola pikir lama, alias logika hari kemarin itu, tak akan mampu menyelesaikan masalah hari ini. Lingkungan sudah berubah. Kita harus berpikir out of the box."

"Lantas gagasanmu apa?" Seekor harimau tua yang usianya sebaya dengan sang gajah, menyela.

"Kita harus melakukan revolusi mental, mengubah pola pikir dan perilaku."

"Seperti apa?"

"Kita harus yakinkan bangsa manusia, musuh mereka bukan bangsa gajah atau bangsa harimau, atau satwa lainnya, musuh mereka adalah bangsa mereka sendiri, manusia lainnya. Manusia itu sendirilah musuh manusia."

Konferensi Tingkat Tinggi itu bubar dengan sebuah resolusi: revolusi mental.

fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 471 kali
sejak tanggal 09-09-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat