drh. Chaidir, MM | Hari Gajah Sedunia | TAHUKAH pembaca, bahwa hari ini Selasa (12/8) adalah Hari Gajah Sedunia? Tak masalah kalau belum tahu. Bahkan dulu, kita sempat terheran-heran dan tersenyum-senyum menyaksikan acara Jhoni Pantau di sebuah stasiun televisi swasta nasional,  ada Menteri dan politisi-politisi nasional yang ditanya mend
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Hari Gajah Sedunia

Oleh : drh.chaidir, MM

TAHUKAH pembaca, bahwa hari ini Selasa (12/8) adalah Hari Gajah Sedunia? Tak masalah kalau belum tahu. Bahkan dulu, kita sempat terheran-heran dan tersenyum-senyum menyaksikan acara Jhoni Pantau di sebuah stasiun televisi swasta nasional, ada Menteri dan politisi-politisi nasional yang ditanya mendadak dan spontan, tidak hafal Hari Besar Nasional kita.

Proklamasi Hari Gajah Sedunia yang dilakukan pada tahun 2012 lalu dimaksudkan untuk memberi tahu dunia betapa isu tentang pelestarian gajah Asia dan Afrika menjadi isu yang sangat mendesak. Dengan adanya peringatan Hari Gajah Sedunia, masyarakat dunia yang mencintai satwa dan memiliki kepedulian, setiap tahun bisa memperbaharui komitmen dan memberi apresiasi terhadap kampanye pelestarian gajah yang dilakukan di seluruh dunia.

Sama seperti peringatan hari-hari satwa lainnya, seperti Hari Harimau Sedunia, Hari Kucing Sedunia, Hari Kura-kira Internasional, Hari Anjing Sedunia, Hari Hak Binatang Sedunia, dan sebagainya; Hari Gajah Sedunia memang dirancang mengandung misi, meminta perhatian kita sejenak tentang nasib satwa yang malang ini. Kita sejenak diminta membelalakkan mata terhadap nasib yang menimpa mamalia terbesar di daratan itu, yang kini statusnya sudah mulai sangat kritis terancam punah. Perburuan gading dan kejahatan perdagangan serta konflik terhadap manusia terus meningkat baik di Asia maupun di Afrika, dimana satwa tersebut hidup.

Khusus untuk Indonesia, Organisasi The International Union for Conservation of Nature (IUCN), pada Januari 2012, menyebut, karena populasinya terancam punah, gajah sumatera kini masuk dalam daftar merah (red list) atau kritis terancam punah (Critically endangered); kategori gajah di Indonesia menjadi "amat terancam punah". Satu tingkat di bawah kategori "punah". Jumlah gajah di Sumatra memang sudah berkurang separuh dari jumlah 5.000 gajah pada tahun 1985, menjadi antara 2.400 - 2.800 ekor gajah. Para ahli lingkungan memperingatkan, bahwa dalam kurun waktu 30 tahun gajah bisa sama sekali punah bila tidak dilindungi.

Untuk kasus Riau misalnya, Organisasi pemerhati satwa WWF belum lama ini menyatakan, sebanyak 43 kasus pembunuhan gajah Sumatra liar di Provinsi Riau selama tiga tahun terakhir belum kunjung terungkap. Hal ini dikhawatirkan akan makin mempercepat laju berkurangnya populasi satwa dilindungi itu menuju kepunahan. "Dalam tiga tahun terakhir kasus kematian gajah sangat tinggi dan kami takutkan masyarakat akan beranggapan kematian gajah itu adalah biasa, padahal seluruhnya mati akibat diracun," kata Humas WWF Program Riau, Syamsidar di Pekanbaru (Republika, Senin 28/4/2014). Kasus pembunuhan gajah di Riau pada 2013 tercatat 14 kasus (13 kasus kematian gajah terjadi di Taman Nasional Tesso Nilo). Sedangkan, pada 2014 jumlahnya makin meningkat karena pada kurun Januari-Maret saja sudah ditemukan 14 kasus pembunuhan gajah. Lebih jauh Syamsidar mengatakan, populasi gajah berdasarkan estimasi tahun 2009 di Riau mencapai 150-200 ekor. Namun, menurutnya, jumlah itu kemungkinan besar berkurang jauh karena tingginya kasus pembunuhan gajah pada tiga tahun terakhir.

Di Indonesia terdapat dua jenis gajah yaitu gajah kalimantan (elephas maximus borneensis) dan gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) keduanya memiliki postur tubuh yang kecil jika dibandingkan dengan gajah afrika (Loxodonta aricana). Berkurangnya populasi gajah terutama disebabkan karena perusakan habitatnya oleh manusia. Dalam 25 tahun terakhir, 70% habitat gajah hilang akibat pengalihan kawasan menjadi perkebunan kelapa sawit dan kebun hutan tanaman industri.

Kondisinya dilematis. Akibat habitatnya rusak, gajah sering masuk ke kawasan hunian masyarakat untuk mencari makanan. Mereka merusak ladang dan kadang menyerang orang-orang yang menggangunya. Dengan demikian konflik tak terhindarkan. Kasus perburuan gading gajah ikut pula memperkeruh suasana. Gajah-gajah itu dibunuh dengan cara ditembak atau diberi racun; kasus tertinggi adalah karena diracun.

Momentum Hari Gajah Sedunia semustinya tidak hanya sekadar peringatan seremonial belaka, apalagi Sumatera termasuk kawasan penting di dunia yang masih memiliki populasi gajah signifikan. Rasanya wajar saja bila kita menuntut dunia untuk ikut secara aktif menyelamatkan gajah di Indonesia. Barangkali tergantung proposal resolusinya saja. Penyelematan gajah tak hanya melindungi gajah dalam habitatnya, tapi juga membantu kesejahteraan masyarakat yang hidup berdampingan dengan habitat gajah. Dengan demikian konflik manusia-gajah bisa dikurangi, atau setidak-tidaknya gencatan senjata. Selamat Hari Gajah Sedunia.


fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 581 kali
sejak tanggal 12-08-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat