drh. Chaidir, MM | Hari Harimau Sedunia | BARANGKALI tidak banyak orang yang tahu bahwa tanggal 29 Juli beberapa hari lalu adalah Hari Harimau Sedunia (Global Tiger Day). Tak masalah. Dapat dipahami karena, pertama, momen tersebut berhimpitan dengan Hari Raya Idul Fitri; kedua, Hari Harimau Sedunia belum tersosialisasi; dan ketiga, khusus b
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Hari Harimau Sedunia

Oleh : drh.chaidir, MM

BARANGKALI tidak banyak orang yang tahu bahwa tanggal 29 Juli beberapa hari lalu adalah Hari Harimau Sedunia (Global Tiger Day). Tak masalah. Dapat dipahami karena, pertama, momen tersebut berhimpitan dengan Hari Raya Idul Fitri; kedua, Hari Harimau Sedunia belum tersosialisasi; dan ketiga, khusus bagi Indonesia, tahun ini, pemberitaan seputar Hari Harimau Sedunia sangat minim, kalah prioritas dengan berita seputar pilpres dan heboh berita tradisi mudik lebaran.

Di atas semua itu, peringatan Hari Harimau Sedunia memang tidak begitu penting bagi masyarakat kita pada umumnya, kecuali bagi kalangan yang sangat peduli terhadap pelestarian satwa dilindungi tersebut. Masalah pemenuhan kebutuhan dasar pangan, sandang dan papan jauh lebih mendesak untuk mendapatkan perhatian, apalagi dengan semakin meningkatnya kebutuhan dan semakin terbatasnya sumber daya.

Memang dilematis, harimau membutuhkan sumber daya alam dan manusia juga membutuhkan sumber daya alam yang sama, maka pasti akan terjadi konflik antar kedua komunitas tersebut. Kalau konflik satu lawan satu tanpa senjata, harimau lebih berpeluang menang, tapi kalau pakai senjata atau keroyokan, selalu manusia lebih unggul. Dan inilah yang terjadi, sehingga sumber daya alam dikuasai oleh manusia, harimau terdesak. Namun jika prioritas perlindungan diberikan kepada harimau, berarti manusia harus dikalahkan, bila prioritas perlindungan kepada manusia semata, maka harimau akan punah.

Tapi bagi aktivis dan kelompok masyarakat yang peduli terhadap lingkungan hidup dan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem, Hari Harimau Sedunia ini penting untuk diapresiasi. Keseimbangan ekosistem planet bumi kita ini, disadari, sudah sejak lama terganggu dengan punahnya berbagai satwa. Sebagian kita, dengan pengetahuan dan akal budi, bisa membaca tanda-tanda alam akibat terganggunya keseimbangan tersebut, tapi selebihnya masih misteri.

Hari Harimau Sedunia digagas pertama kali dalam "International Tiger Summit" di St Petersburg, Rusia, pada November 2010 silam. Hadir, 13 negara yang memiliki spesies harimau, termasuk Indonesia. Tujuan dari perayaan ini adalah untuk mempromosikan sistem global untuk melindungi habitat alami harimau dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu konservasi harimau.

Saat ini, diperkirakan, populasi harimau sedunia tersisa antara 3000 4000 ekor di alam liar. Jauh menurun dari populasi di awal abad 20, dimana mencapai 100.000 ekor. Penurunan populasi ini diakibatkan oleh perburuan besar-besaran serta hilangnya 93 persen hutan sebagai tempat hidup harimau. Kedua ancaman ini masih terus berlangsung sampai sekarang.

"Summit" juga membuat komitmen, pada tahun 2022 yang akan datang populasi harimau harus meningkat dua kali lipat melalui program Global Tiger Recovery Program atau biasa disebut GTRP. Dokumen ini berisi upaya bersama untuk menyelamatkan populasi harimau dari kepunahan.

Di Indonesia, dari tiga subspesies harimau yang semula dimiliki, kini tinggal harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang masih hidup. Sedangkan kedua subspesies lainnya, yakni harimau jawa (Panthera tigris sondaica) dan harimau bali (Panthera tigris balica) telah dinyatakan punah. Meskipun banyak ahli di Indonesia meyakini, bahwa harimau jawa belum punah.

Populasi harimau di India, Nepal dan Rusia sudah terdata melalui survei berkala. Sementara jumlah populasi di Butan, Bangladesh dan Tiongkok, sedang dalam proses survei; di Malaysia, Indonesia, Thailand, Myanmar, Laos, Kamboja, dan Vietnam, masih belum diketahui atau belum diperbarui.

Bagi beberapa negeri, harimau tidak hanya dipandang sebagai salah satu jenis satwa buas, tapi juga jadi mitos yang hidup di tengah masyarakat, oleh karena itu mereka menjadikan harimau sebagai lambang atau satwa negara. Sebut saja misalnya, di Tiongkok, Banglades, India, Nepal, Malaysia, Korea Selatan, Korea Utara. Pada tingkat lokal kita, masyarakat bangga dengan julukan harimau, ada julukan Harimau Balige, Harimau Rokan, Harimau Kampar, dan Harimau Rawa. Harimau identik dengan simbol kekuatan dan kekuasaan.

Selamat Hari Harimau Sedunia, jaga kelestarian Sang Raja Rimba. Auuummm...


fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 530 kali
sejak tanggal 05-08-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat