drh. Chaidir, MM | Kuda dan Sangkur | DEBAT Presiden incumbent Barack Obama dari Partai Demokrat dengan penantangnya Mitt Romney dari Partai Republik pada tanggal 23 Oktober 2012 silam, meninggalkan kesan mendalam. Berhari-hari topik perdebatan tersebut menjadi diskursus pula di tengah komunitas bangsa lain yang tak ada sangkut menyangk
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Kuda dan Sangkur

Oleh : drh.chaidir, MM

DEBAT Presiden incumbent Barack Obama dari Partai Demokrat dengan penantangnya Mitt Romney dari Partai Republik pada tanggal 23 Oktober 2012 silam, meninggalkan kesan mendalam. Berhari-hari topik perdebatan tersebut menjadi diskursus pula di tengah komunitas bangsa lain yang tak ada sangkut menyangkut dan kait mengkait sama sekali dengan kedua kandidat Presiden Amerika tersebut.

Dalam debat televisi yang diselenggarakan di Negara Bagian Florida tersebut, Romney mengkritik kebijakan militer Obama. Capres Partai Republik itu menuding Obama semasa menjabat sebagai Presiden AS dalam periode pertama, memberikan anggaran yang kecil bagi militer AS. Secara spesifik Romney menyerang dengan menyebut, Angkatan Laut AS memiliki jumlah kapal perang yang lebih sedikit dibandingkan dengan puluhan tahun sebelumnya.

Obama langsung menanggapi dengan serangan balik seperti taktik yang banyak dilakukan dalam pertandingan sepakbola. Obama melakukan serangan mematikan dengan mengejek Romney. Intinya, Obama menyebut gagasan kebijakan luar negeri yang dilontarkan Romney sangat ketinggalan zaman. "Anda menyebutkan Angkatan Laut sebagai contoh, dan bahwa kita memiliki jumlah kapal lebih sedikit dari tahun 1916. Baiklah, Gubernur, kita juga memang memiliki kuda dan bayonet yang lebih sedikit, karena sistem militer kita telah berubah," ujar Obama seperti dilansir beberapa Kantor Berita. "Kita memiliki benda yang disebut kapal induk, yang bisa menampung pesawat. Kita memiliki kapal yang bisa menyelam ke dalam air, kapal selam nuklir," lanjut Obama.

Kuda mendadak sontak populer. Kuda dalam angkatan perang memang banyak digunakan oleh militer pada abad ke-16 dan abad-abad sebelumnya. Namun tidak digunakan lagi pada zaman modern, meski beberapa angkatan bersenjata masih menggunakan kuda untuk kepentingan latihan dan acara-acara seremonial. Sedangkan bayonet atau mata sangkur, adalah pisau tajam yang biasa dipasang pada bagian ujung senapan.

Obama yang kemudian terpilih dalam pilpres AS 2012 untuk periode kedua dengan mengalahkan Romney, tidak akan pernah tahu bahwa perumpamaan yang dilontarkannya dalam sebuah debat televisi tersebut, menjadi buah bibir di kalangan bangsa kuda. Bangsa kuda senang alang kepalang karena eksistensi bangsa mereka, disebut-sebut oleh Presiden AS. Artinya, itu sebuah pengakuan bahwa bangsa kuda pernah tercatat dengan tinta emas sebagai alat utama sistem senjata (alutsista) sebuah Angkatan Perang. Pasukan berkuda suatu ketika pada beberapa abad lampau, merupakan pasukan andalan karena mampu bergerak cepat dan sangat lincah.

Ejekan Presiden Obama itu menandakan, di masa mendatang tidak akan pernah ada lagi penggunaan jasa kuda dalam sebuah peperangan. Penggunaan kuda dalam sebuah peperangan adalah tragedi kekudaan yang tak bisa dipahami oleh bangsa kuda itu sendiri. Disebut tragedi kekudaan (atau kemanusiaan?) karena kuda-kuda perang ini tak pernah merasa bermusuhan dengan kuda-kuda perang pihak lawan. Kendati dua pasukan berkuda berhadap-hadapan dalam sebuah peperangan, yang berperang saling bunuh itu sebenarnya adalah serdadu-serdadu yang menunggangi mereka. Tapi yang namanya sebuah pertempuran yang berkecamuk, peluru, pedang, atau anak panah bisa saja mengajar kuda-kuda yang tak tahu menahu tersebut, dan membawa korban nyawa.

Dalam keadaan demikian, kuda-kuda ini menyadari, mereka tak lebih ibarat "Kuda Troya" dalam kegenda Yunani Kuno itu, hanya sebuah kendaraan, alutsista, kemudian ditinggalkan tak berguna setelah tujuan pasukan perang tercapai. Yang diperlukan dari kuda-kuda perang ini hanya tenaga kuda belaka. Tak lebih.

Setelah kuda dan bayonet menjadi trending topic dalam pesta demokrasi di AS, tanpa diduga, bangsa kuda kembali menjadi perbincangan heboh dalam sebuah pesta demokrasi di sebuah negeri antah berantah nun di sana. Dua kandidat petinggi negeri sama-sama menggunakan kuda, bukan sebagai alutsista, tapi sebagai simbol alias pencitraan. Yang satu datang ke tempat acara dengan menunggang kuda gagah, yang lain datang dengan naik kuda pedati. Sama-sama kuda tapi beda nasib. Kedua kuda saling melirik kemudian meringkik.


fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 465 kali
sejak tanggal 24-06-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat