drh. Chaidir, MM | Hari Kura-kura | TANGGAL 23 Mei beberapa hari lalu, masyarakat pecinta kura-kura di seluruh dunia merayakan Hari Kura-kura Internasional. Tentu tidak ada panggung glamour dengan sederetan artis papan atas dunia seperti Adele, Rihanna, Lady Gaga, Beyonce atau Agnes Monica, atau Anggun. Tidak. Tidak ada. Yang ada hany
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Hari Kura-kura

Oleh : drh.chaidir, MM

TANGGAL 23 Mei beberapa hari lalu, masyarakat pecinta kura-kura di seluruh dunia merayakan Hari Kura-kura Internasional. Tentu tidak ada panggung glamour dengan sederetan artis papan atas dunia seperti Adele, Rihanna, Lady Gaga, Beyonce atau Agnes Monica, atau Anggun. Tidak. Tidak ada. Yang ada hanyalah bentuk kepedulian tehadap satwa yang dilindungi tersebut.

Kura-kura beruntung memperoleh apresiasi dunia. Tapi sebenarnya tidak hanya kura-kura, ada juga beberapa satwa lain yang juga dapat anugerah seperti itu. Misalnya, ada Hari Kucing Sedunia tanggal 8 Agustus, Hari Harimau Sedunia 29 Juli, Hari Anjing Sedunia 27 September, Hari Gajah Sedunia 12 Agustus, dan Hari Konvensi Ikan Paus 2 Desember. Tanggal 2 Okober dikenal pula sebagai Hari Ternak Sedunia.

"Hari Kebangsaan" hewan seluruh dunia jatuh pada tanggal 4 Oktober. Tanggal 4 Oktober ini dipilih sebagai Hari Binatang Sedunia karena pada tanggal itu, tahun 1931 silam diadakan pesta perjamuan oleh Francis Di Assisi, seorang Italiano pecinta alam dan pelindung binatang dan lingkungan, di Fiorentina Italia. Yang terasa sangat aneh bagi masyarakat yang tidak begitu peduli terhadap binatang agaknya adalah ditetapkannya secara internasional Hari Hak Asasi Binatang (Animal Rights) pada tanggal 15 0ktober. Tanggal tersebut dipilih karena hari itu pada tahun 1978, untuk pertama kalinya diproklamirkan naskah "The Universal Declaration of Animal Rights" (Deklarasi Dunia Hak Asasi Binatang) bertempat di markas badan PBB, UNESCO di Paris.

Ditetapkannya Hari Kura-kura internasional, mestinya bukan kerjaan iseng orang-orang iseng. Hari kura-kura diperingati untuk mengingatkan manusia bahwa kura-kura itu hewan yang dilindungi. Ulah manusia telah menurunkan banyak populasi kura-kura ke tingkat yang sangat mengkhawatirkan. Apalagi kebanyakan habitat alaminya di sungai-sungai, rawa dan hutan juga telah turut rusak akibat aktivitas manusia.

Sebenarnya hampir semua jenis kura-kura (kura-kura, labi-labi dan penyu) telah dilindungi oleh undang-undang. Bahkan banyak pantai peneluran penyu yang telah dimasukkan ke dalam kawasan yang dilindungi, seperti misalnya Pantai Sukamade di Jawa Timur dan Pantai Jamursba-Medi di Papua. Tapi penangkapan secara berlebihan tetap belangsung, baik untuk diawetkan, diambil sisiknyanyang indah, maupun untuk menu hidangan di restoran.

Kura-kura secara tradisional merupakan hewan yang akrab dengan manusia. Dalam mitologi Hindu disebutkan, bumi ini disangga oleh empat ekor kura-kura. Labi-labi juga menjadi hewan yang disucikan, sehingga kerap dipelihara di kolam-kolam kuil Hindu atau tempat suci lainnya. Karena itu, lukisan kura-kura kadang-kadang muncul pada relief candi atau makam Hindu.

Filosofi kura-kura juga merupakan kearifan alam terkembang yang banyak ditiru manusia. Kura-kura memang jalannya pelan, tapi mereka melangkah dengan pasti. Tradisi menabung misalnya, sering dikaitkan dengan manajemen kura-kura, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Keberhasilan itu bisa diraih dengan usaha pelan-pelan tetapi pasti.

Kura-kura juga memberi kontribusi dalam politik. Bila banyak masalah di luar sana, bila keadaan tidak nyaman, masuklah ke rumah berteduh di rumah. Begitulah politik kura-kura, bila ada bahaya di luar, kepalanya ditarik masuk ke dalam untuk bersembunyi di bawah tempurung (karapas) punggungnya. Rumahnya adalah tempat persembunyiannya. Home sweet home. Kura-kura juga menghasilkan telur yang banyak. Kebiasaan ini banyak diinterpretasikan, bahwa kura-kura tidak bepikir kekayaannya hanya untuk diri sendiri, tetapi juga dibagikan kepada orang lain.

Satu hal kelihatannya pasti, dalil sejarawan Inggris Arnold J. Toynbee "setiap orang ada masanya setiap masa ada orangnya" tak berlaku bagi dunia kura-kura. Kura-kura dari dulu sampai sekarang tak pernah ada perubahan (kura-kura kek gitu orangnya...ha ha ha). Mereka tak pernah bisa berlari cepat (latihan seabad sekalipun). Dan kura-kura tak pernah bisa memanjat pohon kelapa kecuali pohon kelapa yang sudah tumbang.

Selamat Hari Kura-kura Internasional.


fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 460 kali
sejak tanggal 26-05-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat