drh. Chaidir, MM | Udang di Balik Batu | BERBEKAL rekam jejaknya sebagai hakim yang bijak, burung gagak secara aklamasi tepilih sebagai pimpinan sidang  dalam sesi diskusi pekan kedua sidang mubes perserikatan bangsa-bangsa binatang yang mengambil  tema membangun  koalisi jinak-jinak merpati.

Merpati sendiri tak peduli dengan julukan te
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Udang di Balik Batu

Oleh : drh.chaidir, MM

BERBEKAL rekam jejaknya sebagai hakim yang bijak, burung gagak secara aklamasi tepilih sebagai pimpinan sidang dalam sesi diskusi pekan kedua sidang mubes perserikatan bangsa-bangsa binatang yang mengambil tema membangun koalisi jinak-jinak merpati.

Merpati sendiri tak peduli dengan julukan tersebut, mau dibilang jinak-jinak merpati, mau dibilang kolaisi merpati dua sejoli, tak ambil pusing sebab mereka sudah sepakat berhimpun dalam koalisi burung burung comel bersama tekukur, burung balam, burung punai, dan burung merbah. Burung pergam karena badannya besar mereka angkat sebagai ketua koalisi. Burung murai mereka keluarkan dari koalisi karena terlalu banyak berkicau. Sementara burung tempua dicoret sebagai anggota karena setiap hari sibuk buat sarang.

Diskusi yang panas dalam pekan pertama dengan tema menyamakan persepsi platform politik berhasil diredam oleh burung gagak sehingga adu jotos antara musang dan kancil urung terjadi. Musang bilang, politik kancil itu politik tipu. Tipu kawan tipu kawan. Kancil membela diri, tipu kancil itu bukan tipu tapi kecerdikan, salah buaya mau dikelabui, sementara musang? Musang sangat tidak etis mengelabui ayam dengan pura-pura berbulu ayam. Tidak ada etika sopan santun kebinatangan.

"Burung merak, silahkan, kini giliranmu menyampaikan pandangan bangsamu," pimpinan sidang membuka sesi diskusi.
"Pertama bangsa kami harus menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada gagak," burung merak memulai. "Gagaklah yang telah melukis bulu kami dengan sangat indah seperti ini." Merak mengembangkan sayapnya yang indah. "Sehingga, bangsa kami secara terus menerus memenangkan kontes keindahan bulu sejagad. Keindahan bulu tersebut telah mengangkat derajat bangsa burung. Tidak semua bangsa burung bisa berkoalisi dengan kami. Maafkan kami gagak, bangsa anda tidak bisa masuk dalam koalisi kami."
"Bangsa kami sudah melupakan kesalahan sejarah yang kau buat dengan menumpahkan tinta hitam ke bulu kami." Sela pimpinan sidang agak gusar dengan uraian lebay burung merak.
"Lalu apa pula alasanmu menolak burung onta untuk berkoalisi dengan bangsamu, adakah juga karena faktor bulu?" Pimpinan sidang menggali lebih jauh. "Bukankah kalian sama-sama tidak piawai dalam terbang?"

"Faktor bulu adalah satu hal; hal lain, kami tidak sejalan dengan politik burung unta yang menganggap semuanya seolah-olah tak ada masalah, padahal masalah kita bergudang-gudang. Lihatlah bagaimana kita diburu oleh bangsa manusia, banyak teman-teman kita yang sudah hampir punah. Burung unta selau tidak mau ambil kesulitan dan selalu cari aman."

"Stop." Pimpinan sidang memotong. "Tidak adil bila kita tidak mendengar burung unta."
"Yang mau bergabung dalam koalisi dengan merak hanya 30 persen saja, selebihnya justru kawan-kawan ingin bergabung dengan jerapah dan ular." Jubir burung untak menjelaskan secara matematis.

"Aku bisa paham bila kalian ingin berkoalisi dengan jerapah, faktor leher kan?" Pimpinan sidang minta klarifikasi. "Tapi dengan ular apa argumentasimu?
"Pimpinan sidang, leher ular lebih panjang lagi, dari kepala sampai ke ekor leher semua." Jelas burung unta mantap.

Tak mau kehilangan momen, pimpinan sidang meminta tanggapan ular. "Ular, sudahkah ada lamaran berkoalisi dari burung unta?"
"Mungkin sudah ada, tapi aku belum baca." Ujar ketua delegasi ular.
"Tapi menurutku," ular melanjutkan, "koalisi dengan burung unta sulit terwujud, sebab bangsa kami melata, kami tidak punya kaki, sementara burung unta memiliki sepasang kaki yang besar dan kokoh, kepala kami akan hancur terinjak kaki burung unta. Aku khawatir, burung unta ingin berkoalisi dengan kami, jangan-jangan ada udang di balik batu."

"Interupsi pimpinan!" Udang angkat jepitan. "Jangan libatkan kami. Kami bangsa udang sedang repot menghadapi bangsa bangau yang selalu mengejar-ngejar kami."

"Wah jadi ramai nih." Pimpinan sidang menanggapi udang. " Kita harus minta klarifikasi bangau, mengapa mereka kembali, bukankah mereka sudah terbang tinggi? Jadi, jangan kemana-mana, sidang kita skor."

Pimpinan sidang mengetok palu, tanpa ada kata pasti koalisi, semua masih jinak-jinak merpati.


fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 460 kali
sejak tanggal 20-05-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat