drh. Chaidir, MM | Politik Jambu Monyet | PARADIGMA politik baru. Itulah tema musyawarah besar sejagad yang sedang berlangsung. Tema ini dirasa mendesak, karena pola lama yang mengandalkan politik kekuasaan dianggap tak lagi mampu menjawab tantangan baru kehidupan yang makin lama makin terdesak. Namun merumuskan politik dengan paradigma bar
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Politik Jambu Monyet

Oleh : drh.chaidir, MM

PARADIGMA politik baru. Itulah tema musyawarah besar sejagad yang sedang berlangsung. Tema ini dirasa mendesak, karena pola lama yang mengandalkan politik kekuasaan dianggap tak lagi mampu menjawab tantangan baru kehidupan yang makin lama makin terdesak. Namun merumuskan politik dengan paradigma baru itu tidak semudah membalik telapak tangan. Sebab masing-masing memiliki platform politik yang sejak zaman nenek masih makan keluang sudah berbeda satu sama lain, walaupun basisnya adalah kekuasaan.

"Politik itu harus licin," ujar belut, "sehingga tak mudah terpegang."
"Tapi belut mudah telihat, padahal politik itu harus tidak mudah terbaca, lihatlah politik bunglon, di daun hijau kami hijau, di bunga merah kami merah, di dedaunan yang mati kami berwarna coklat, di awan kami berwarna biru," urai bunglon tenang. "Tapi domain kalian kan di atas tanah, tetap saja mudah terlihat musuh. Kalau mau tak terlihat, mainkanlah politik cacing, selalu bergerak under ground alias di baeah tanah." Cacing menimpali.

"Itu terlalu repot," ujar kelelawar. "Kalau kalian takut telihat musuh, bergeraklah di malam hari, di tengah malam kelam, kalian akan lebih aman, susah terlihat. Kalau mau, kalian semua bisa berguru pada kami bangsa kelelawar atau kepada burung hantu." Burung hantu yang sedari tadi asyik memutar kepalanya, mengangguk mengiyakan pendapat kelelawar, teman sesama hewan malam.

Buaya menanggapi dengan tenang, "Tak usah banyak cakap, jadilah politik buaya saja, ke darat oke ke laut oke, daging segar sesuai, bangkai tak ditolak."
Tapi politik buaya tersebut nampaknya tak disetujui ular. "Jangan terlalu vulgar," ujar juru bicara ular, "jangan terlalu kasar, lebih baik melata saja, tapi pada saat yang tepat melakukan gigitan mematikan dan telan mangsanya bulat-bulat.

"Politik itu harus pandai mengelabui mangsa, maka jadilah seperti politik bangsa kami, bangsa musang. Kami menggunakan politik musang berbulu ayam."
"Tapi jurus tipu seperti musang itu, tak ada etika. Politik itu harus cerdik. Jangan takut dengan buaya, jangan takut dengan harimau, akal harus panjang," kancil menyela.
"Dan harus lincah melompat dari satu dahan ke dahan lain," tupai menukas.

Burung gagak yang yang terpilih jadi moderator berkat pengalaman sejarah mereka yang sukses sebagai hakim yang adil, mencoba mencairkan susana.
"Hadirin, jangan telalu egois dengan platform masing-masing, nama kami dicatut oleh seorang penyanyi rock Amerika keturunan Italia itu, Lady Gagak, kami gak keberatan," ujar sang moderator.
"Interupsi." Butung beo bersuara.
"Apa?"
"Saya kira itu Lady Gaga, bukan Lady Gagak, warnanya saja beda. Lady Gaga kulitnya putih bersih, sementara gagak berwarna hitam."
"Baik kalau begitu, sang beo, pandangan politikmu seperti apa?"
Burung beo menjawab sekenanya, "tiru saja apa yang diucapkan orang, mereka bernyanyi, kita bernyanyi, mereka memuji kita memuji, mereka memaki kita memaki, gitu aja koq repot."

Sang moderator kemudian mempesilahkan kerbau bicara.
"Biarlah kepala berlumpur, asal tanduk mengena." Itu filosofi bangsa kami ujar seekor kerbau tua.
"Kami mengajari orang pidato, maka ada istilah singa podium."
"Itu bukan filosofi," sang moderator memotong. "Dan kamu kera, kamu mengacungkan tangan."
"Politik kami, politik jambu monyet, kalian semua bijinya di dalam, bangsa kami sendiri yang bijinya di luar."
Moderator mengetok palu, sesi hari itu berakhir tanpa rumusan paradigma politik baru. Kacau.


fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 455 kali
sejak tanggal 13-05-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat