drh. Chaidir, MM | Satu Bangsa Beda Suara | MATAHARI belum sepenggalah. Tapi sinarnya sudah menerangi rimbunan belukar. Di sebuah ranting, seekor murai batu asyik berkicau menyapa teman-temannya. Di bawah, seekor burung tempua mengambil sehelai ilalang, dengan paruhnya ilalang tersebut dibawanya terbang. Tak lama kemudian tempua kembali menga
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Satu Bangsa Beda Suara

Oleh : drh.chaidir, MM

MATAHARI belum sepenggalah. Tapi sinarnya sudah menerangi rimbunan belukar. Di sebuah ranting, seekor murai batu asyik berkicau menyapa teman-temannya. Di bawah, seekor burung tempua mengambil sehelai ilalang, dengan paruhnya ilalang tersebut dibawanya terbang. Tak lama kemudian tempua kembali mengambil helai yang lain.

"Sedang apa kamu tempua?" Tanya sang murai.
"Aku sedang menikmati suaramu, merdu sekali."
"Haa..sejak dulu begitu....maksudku, untuk apa daun ilalang itu?" Murai mengulangi pertanyaannya.
"Untuk buat sarang."
"Buat sarang?"
"Memang kenapa?"
"Boleh aku ke sarangmu?
"Tentu boleh Bro, tapi dengan syarat kau tak boleh ganggu aku kerja."

Dua makhluk bangsa passeriformis alias burung kicau itu terbang berdampingan menuju sebatang pohon yang tinggi tempat burung tempua menggantungkan sarangnya yang sudah hampir rampung.

"Wah bagus sekali, sejak kapan kau belajar buat sarang seperti ini? Tanya murai.
"Sejak zaman nenek moyang, sejak kuda masih makan besi...ha ha ha.."
"Sok tau kamu, kapan pulak kuda makan besi?"
"Nenek moyang yang bilang.."
"Berapa lama kau mengerjakannya?" Murai penasaran.
"Aku membutuhkan waktu beberapa minggu, sampai finishingnya sempurna."
"Maksudmu?"
"Aku harus menganyamnya dengan teliti supaya terlihat indah dan fungsional."
"Maksudmu?"
"Kalau hujan tidak kehujanan kalau panas tidak kepanasan. Pokoknya anak-anakku nyaman di dalam." Tempua menjelaskan.
"Perfect. Aku tak pandai buat sarang seperti kamu."
"Sebaliknya aku tidak memiliki suara merdu seperti kamu. Kita satu bangsa tapi beda suara. Masing-masing kita kelihatannya memiliki kelebihan dan kekurangan. Kami burung tempua dibekali kepiawaian membuat rancang-bangun, mencari dan memilih material bangunan, serta memiliki bakat menganyam sarang. Sedang kamu punya kelebihan pada suaramu."
"Kelebihan itu membuat kami diburu oleh manusia, mereka tak puas mendengar kami berkicau dari atas pohon, mereka ingin mengurung kami di rumahnya".
"Serupa tapi tak sama," tempua menimpali, "bangsa manusia itu juga selalu mencoba untuk mengambil sarang kami. Manusia selalu terdorong oleh nafsu primitif ingin memiliki sarang kami, entah untuk apa. Padahal sarang burung tempua itu jelas terlalu kecil bagi manusia bila manusia itu ingin masuk ke dalam sarang dan kemudian tidur sambil berayun-ayun. Tapi kami punya jurus untuk mengamankan sarang kami."
"Caranya?"
"Caranya, kami akan pilih pohon yang tinggi atau berduri dan ada sarang tawonnya. Terlalu nekat kalau manusia masih coba ingin ambil sarang kami. Tawon akan jaga sarang kami, dan tawon tak pernah bisa disogok atau diajak kolusi oleh manusia."
"Luar biasa."
"Aku pernah dengar," burung tempua melanjutkan, "manusia itu menganggap kita ini seniman, kamu disebut biduan karena suaramu merdu, kami disebut arsitek seniman karena pandai membuat sarang yang indah, penggemar kita katanya banyak."
"Wah...tahu begitu harusnya kau maju saja kemarin sebagai caleg..ha ha ha... Murai menggoda.
"Untung kita nggak maju Bro, tuh lihat artis-artis pada berguguran."

Dua makhluk sebangsa dan setanah air itu hanyut dalam obrolan utara-selatan. Sambil ngobrol, tempua terus tekun menganyam sarang, sementara sang murai berkicau dengan suara emasnya. Mereka tidak menyadari, nun di sana dalam suatu pertemuan bangsa manusia, seorang pembicara membuat sebuah perumpamaan bercermin dari perilaku mereka. Jadilah burung tempua, walau tak pandai berkicau tapi pintar membuat sarang, jangan seperti burung murai, asyik berkicau tapi lupa buat sarang.


fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 419 kali
sejak tanggal 06-05-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat