drh. Chaidir, MM | Kambing dan Burung Hantu | ISU yang paling hangat dalam sepekan terakhir ini adalah pembentukan koalisi. Masing-masing pihak sibuk melakukan pendekatan sana-sini. Lobi kiri-kanan, atas-bawah, hiruk pikuk, mengaum, melengking, berkokok sejadi-jadinya. Ada yang menggunakan pendekatan palaebiologi (asal usul fosil hewan dan tumb
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Kambing dan Burung Hantu

Oleh : drh.chaidir, MM

ISU yang paling hangat dalam sepekan terakhir ini adalah pembentukan koalisi. Masing-masing pihak sibuk melakukan pendekatan sana-sini. Lobi kiri-kanan, atas-bawah, hiruk pikuk, mengaum, melengking, berkokok sejadi-jadinya. Ada yang menggunakan pendekatan palaebiologi (asal usul fosil hewan dan tumbuhan) dan ada pula yang menggunakan pendekatan etologis (ilmu tingkah laku hewan).

Ide dasar kebangsaan dibicarakan secara mendalam. Mengapa proses evolusi terjadi dari semula berkaki empat menjadi berkaki dua atau sebaliknya? Mengapa ada yang mengalami evolusi sempurna, ada yang setengah-setengah? Koalisi Binatang Berekor dianggap terlalu luas dan longgar, karena semua binatang berekor. Mungkin lebih spesifik Koalisi Binatang Berekor Pendek atau Binatang Berekor Panjang. Beberapa koalisi pun digagas. Ada Koalisi Satwa Bertanduk, ada Koalisi Ayam Kampung, ada Koalisi Bunglon, dan sebagainya.

Bangsa kelelawar bersikeras ingin bergabung dalam koalisi apa yang dinamakan oleh bangsa burung sebagai Koalisi Satwa Bersayap, tapi bangsa burung menolak dengan halus. Sebab secara internal bangsa burung pernah membahas kemiripan sayap mereka dengan sayap bangsa kelelawar, namun mereka ngeri melihat mulut kelelawar yang hampir sama dengan mulut serigala. Pada bagian lain bangsa serigala tak keberatan bergabung dalam koalisi bersama bangsa kelelawar atas dasar kesamaan morfologi mulut.

Burung hantu adalah satu-satunya anggota bangsa burung yang justru bersikeras ingin agar kelelawar diterima dalam Koalisi Bersayap. Burung hantu memiliki pertimbangan tersendiri karena ada kedekatan emosional dengan bangsa kelelawar. Pasalnya, mereka adalah sesama anggota klub hewan malam. Bangsa kelelawar adalah bangsa yang terikat dengan sumpah leluhurnya, seumur hidup tidak boleh mencari makan di siang hari. Bangsa kelelawar hanya boleh mencari makan di malam hari.

Burung hantu adalah juga anggota klub hewan malam tapi dengan alasan yang berbeda. Karena bentuk dan rupa yang menakutkan, burung hantu hanya boleh muncul di malam hari. Burung hantu memiliki tubuh yang kokoh, membulat dengan kepala dan kaki besar, tapi berbulu lembut. Kepalanya bisa berputar 180 derajat. Sama seperti hantu sungguhan, burung hantu sulit dilihat, mungkin karena seluruh tubuhnya cocok untuk kehidupan malam. Burung hantu juga bisa melihat dalam kegelapan, sama seperti kelelawar. Burung hantu bahkan punya keunggulan, penglihatannya bisa fokus untuk jarak yang cukup jauh, sehingga kalau menemukan mangsa di kegelapan malam, hampir bisa dipastikan calon mangsa tak akan bisa lolos. Burung hantu juga dapat membuka pupil matanya hingga sangat lebar. Karena itu burung hantu bisa memanfaatkan semua cahaya di malam hari.

Uniknya, burung hantu berada dalam suatu ikatan koalisi dengan kambing. Koalisi bangsa kambing dan burung hantu ini oleh para ahli disebut Simbiosis Netralisme. Simbiosis merupakan interaksi antara dua organisme yang hidup berdampingan. Simbiosis Netralisme merupakan interaksi kedua pihak yang tidak saling diuntungkan maupun dirugikan. Kedua pihak sungguh-sungguh berada pada posisi netral satu sama lain. Berbeda misalnya dengan Simbiosis Mutualisme (interaksi antara dua makhluk yang saling menguntungkan) seperti kerbau dan burung jalak, atau seperti lebah dan bunga, atau seperti buaya dan burung plover. Berbeda pula dengan Simbiosis Parasitisme, yang satu untung yang lain dirugikan seperti misalnya benalu di pohon.

Interaksi antara kambing dan burung hantu tidak menyebabkan keuntungan maupun kerugian bagi keduanya. Hubungan mereka adalah hubungan dalam diam yang tak saling mempengaruhi, meskipun mereka hidup pada habitat yang sama. Masing-masing tidak saling mengganggu. Kambing makan rumput di siang hari, sedangkan burung hantu makan tikus dan serangga lainnya di malam hari.

Kambing dan burung hantu sepakat berkoalisi secara permanen seumur hidup dalam Simbiosis Netralisme, tak peduli menang atau kalah dalam pemilu bangsa binatang. Bahkan mereka tak merasa perlu saling kenal atau saling bertegur sapa satu sama lain. Ya iyalah, yang satu berkaki empat keluyuran di siang hari, yang satunya lagi bersayap dan keluyuran di malam hari.


fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 1170 kali
sejak tanggal 15-04-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat