drh. Chaidir, MM | Mitos Harimau Penunggu | ADA dua berita dibuang sayang dari cerita tentang kebakaran lahan dan hutan Riau episode 2014; pertama, titik api berhasil dikendalikan; kedua, tim bersua harimau. Tidak hanya sekali, tapi dua kali. Wow... Kesempatan pertama, tim bepapasan dengan seekor induk harimau yang sedang menggandeng  anaknya
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Mitos Harimau Penunggu

Oleh : drh.chaidir, MM

ADA dua berita dibuang sayang dari cerita tentang kebakaran lahan dan hutan Riau episode 2014; pertama, titik api berhasil dikendalikan; kedua, tim bersua harimau. Tidak hanya sekali, tapi dua kali. Wow... Kesempatan pertama, tim bepapasan dengan seekor induk harimau yang sedang menggandeng anaknya di Kecamatan Bukit Batu. Kesempatan kedua, tim berpapasan dengan dua ekor harimau dewasa di Sembilang. Kedua lokasi termasuk wilayah Bengkalis (detikcom, 3/3/2014).

Harimau tersebut tentulah jenis harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang dilindungi. Habitat aslinya memang di pulau Sumatera. Harimau sumatera merupakan satu dari enam subspesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini dan termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered) dalam daftar merah spesies terancam punah yang dirilis Lembaga Konservasi Dunia IUCN. Populasi liar diperkirakan antara 400-500 ekor, terutama hidup di taman-taman nasional di Sumatera.

Berita menggembirakan juga datang dari London awal Maret 2014 lalu, ketika Melati, harimau sumatera betina melahirkan tiga anak sekaligus di kebun binatang tersebut. Sampai saat ini perilaku keempat anak-beranak tersebut dimonitor 24 jam oleh petugas kebun binatang melalui layar tersembunyi.

Kabar juga datang dari lereng kaki Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Masyarakat di kaki gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut sekali-sekali masih berpapasan dengan Mbah Loreng, harimau penunggu Gunung Semeru. Mbah Loreng mestilah jenis harimau jawa (Panthera tigris javanicus) yang pada 1980-an sudah dinyatakan punah. Ternyata harimau jawa masih eksis. Beda dengan Melati yang beruntung memperoleh fasilitas VIP di kebun binatang London, Mbah Loreng memperoleh status pemimpin yang disegani sebagai Harimau Penunggu Semeru.

Harimau Penunggu adalah mitos. Tidak bisa dinalar. Tapi di sementara kalangan masyarakat yang masih memegang nilai-nilai tradisional, cerita tentang harimau penunggu alias Datuk Belang tersebut disampaikan dari mulut ke mulut turun temurun hingga kemudian diyakini kebenarannya. Ada harimau biasa, ada harimau dengan kualifikasi penunggu. Harimau penunggu kampung tidak akan mencederai penduduk, kecuali penduduk yang berbuat salah, berbuat tidak senonoh, atau orang yang merusak alam. Di kampung, dimana harimau dianggap sebagai mitos, percaya atau tidak, orang-orang kampung yang berani masuk hutan pada hari raya idul fitri atau idul adha, akan diganggu oleh sang Datuk Belang. Oleh karena itu pada dua hari raya tersebut penduduk tidak berani ke ladang atau menyadap karet.

Sebuah kisah nyata dialami saudara saya yang merayakan hari raya Idul Adha di kampung, di Pemandang, Kecamatan Rokan IV Koto. Setelah menunaikan sholat, dia berganti pakaian lapangan dan berangkat ke kebun di belakang rumah, di seberang sungai Batang Mandang yang lebarnya tidak seberapa. Kebun itu berbatasan langsung dengan hutan di kaki gunung Mandang, sebuah gunung di desa tersebut. Baru saja sebentar dia berada di kebun, di depannya melintas seekor harimau. Dia yakinkan dirinya dia tidak sedang berilusi, itu benar-benar harimau. Secepat kilat kemudian dengan lutut gemetar dan muka pucat pasi, dia kembali ke rumah. Belief it or not. Sayuti, penjaga rumah kami di kampung, ketika itu, hanya tertawa, dia sudah mafhum. Makhluk yang dilihat saudaraku saya itu, menurut Sayuti, adalah harimau penunggu Gunung Mandang.

Pada suatu hari yang sudah agak jauh, ketika saya masih duduk di bangku SMP, sebuah peristiwa naas menimpa tetangga di kampung. Dua orang anak laki-laki bersaudara yang masih balita tewas diserang oleh kerumunan lebah. Said, sang ayah balita korban masih berada di hutan rimba ketika tragedi itu terjadi. Dia tidak mengetahui nasib yang menimpa anaknya. Said tinggal di bedeng-bedeng mengumpulkan getah perca pohon taban (Palaquium). Ketika itu getah taban merah (Palaquium gutta) dan getah taban putih (Palaquium obovatum) laku dijual dengan harga yang lumayan mahal.

Para pencari getah ini terpaksa harus bermalam di hutan rimba berhari-hari dan tentu saja tidak ada komunikasi sama sekali dengan kampung. Pada hari kejadian anaknya tewas, Said bersama temannya terus-menerus diganggu harimau. Malam harinya di bedeng, mereka ketakutan karena harimau mengaum dan menggaruk-garukkan kukunya ke dinding bedeng yang terbuat dari kulit kayu. Said menangkap firasat, ada sesuatu yang tak beres, dan dia memutuskan untuk berhenti mencari getah dan kembali pulang ke kampung. Di kampung firasatnya terjawab. Menurut keyakinan penduduk, harimau penunggulah yang telah memberi isyarat kepada Said agar segera pulang.

Percaya tak percaya, mitos harimau penunggu itu hidup di tengah masyarakat tradisional. Harimau yang berpapasan dengan tim pemadaman api itu, mungkin bukan harimau penunggu, tapi sekurang-kurangnya mereka tak mengganggu.


fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 1199 kali
sejak tanggal 08-04-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat