drh. Chaidir, MM | Politik Kelelawar | PERSETERUAN bangsa burung dan bangsa kelelawar di negeri bangsa binatang telah membuka kedok politik bangsa kelelawar. Akibat politik tersebut bangsa kelelawar harus menanggung sanksi sebagai dosa keturunan: dilarang mencari makan di siang hari. Maka, selama matahari  masih terbit di timur dan tengg
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Politik Kelelawar

Oleh : drh.chaidir, MM

PERSETERUAN bangsa burung dan bangsa kelelawar di negeri bangsa binatang telah membuka kedok politik bangsa kelelawar. Akibat politik tersebut bangsa kelelawar harus menanggung sanksi sebagai dosa keturunan: dilarang mencari makan di siang hari. Maka, selama matahari masih terbit di timur dan tenggelam di barat, bangsa kelelawar harus mencari makan di malam hari. Di siang hari, ketika makhluk lain menikmati sinar matahari, kelelawar terpaksa bersembunyi di balik-balik dahan, daun kayu, daun pisang atau bahkan di gua-gua yang gelap dan pengap.

Kisahnya berawal ketika bangsa serigala menyerang negeri bangsa burung. Pertempuran sengit tak terelakkan. Bangsa kelelawar yang menyaksikan pertempuran tersebut tak bisa menahan diri, mereka pun ikut bertempur membela bangsa burung. Namun ketika kelelawar menangkap gelagat bangsa burung akan kalah, kelelawar pun menarik diri dari medan pertempuran dan bersembunyi di balik dahan dan daun-daun kayu, sebagian kembali ke gua yang gelap. Bangsa burung akhirnya kalah. Maka pulanglah bangsa serigala ke negerinya dengan sorak sorai kemenangan. Bangsa kelelawar cepat membaca peluang dan bergabung dengan bangsa serigala, ikut berpesta pora menikmati kemenangan. Serigala protes: "Hei bangsa kelelawar, bukankah kalian bangsa burung dan tadi berperang melawan kami?" Kelelawar dengan tangkas menjawab, "Kami memang memiliki sayap dan bisa terbang, tapi tidakkah kalian lihat mulut kami? Mulut kami sama seperti mulut kalian hei bangsa serigala. Kami tidak memiliki paruh seperti bangsa burung, kita bersaudara." Bangsa serigala mengangguk setuju. "Ya kita rupanya bersaudara, ayo kita berpesta merayakan kemenangan kita bersama."

Suatu hari kemudian, bangsa burung yang rupanya telah belajar dari kekalahan, balas dendam menyerang negeri bangsa serigala. Maka pertempuran sengit jilid dua tak terhindarkan. Bangsa kelelawar sudah barangtentu bertempur membela bangsa serigala. Namun roda berputar. Bangsa serigala keteteran menghadapi bangsa burung yang lebih siap. Melihat tanda-tanda ini, bangsa kelelawar mulai mengundurkan diri dari medan pertempuran dan segera bersembunyi di balik dahan-dahan dan daun kayu. Seperti diperkirakan, bangsa serigala bertekuk lutut, menyerah kalah. Maka, bangsa burung pun berpesta pora merayakan kemenangannya.

Bukan kelelawar namanya kalau bukan pandai memanfaatkan momentum. Sekaranglah saat yang tepat. Kelelawar keluar dari persembunyiannya dan ikut berpesta pora bersama bangsa burung merayakan kemenangan. Bangsa burung protes. "Hei bangsa kelelawar, bukankah kalian termasuk bangsa serigala dan tadi beperang melawan kami?" Bangsa kelelawar dengan tangkas menjawab, "Hei sahabat kami bangsa burung, mana ada serigala yang bisa terbang? Ayo gunakan akal sehatmu. Coba tunjukkan kepada kami serigala mana yang bisa terbang. Hanya bangsa burung yang bisa terbang, sama seperti kami juga, kita bersaudara." Bangsa burung pun menangguk-angguk. "Iya pulak."

Tapi sebagian tokoh bangsa burung yang menjadi saksi hidup, mulai curiga. Ada sesuatu yang tidak beres dengan sikap bangsa kelelawar. CCTV peperangan pun diputar berulang-ulang, mulai dari perang pertama sampai perang kedua. Kesimpulannya sangat meyakinkan, bangsa kelelawar telah memainkan politik bermuka dua. Kelelawar telah menjadikan bangsa serigala dan bangsa burung sebagai kuda tunggangan politik. Maka, mubes antar bangsa pun dilaksanakan, antara bangsa serigala dan bangsa burung. Bangsa kelelawar dilarang ikut, bahkan hanya untuk sekedar sebagai peninjau pun tidak diperkenankan, karena agenda tunggal dalam mubes tersebut justru memutuskan nasib bangsa kelelawar.

Kedua bangsa, burung dan serigala, kemudian sepakat bulat, bangsa kelelawar secara sah dinyatakan bersalah, dan atas kesalahan yang tak terampuni tersebut, bangsa kelelawar dijatuhi hukuman berat, selama dunia terkembang dilarang mencari makan di siang hari. Vonis tersebut langsung dieksekusi. Keputusan itu final dan mengikat. Ketika kelelawar dimintai komentarnya terhadap putusan tersebut, dengan santai bangsa kelelawar menjawab: "Kami kek gitu orangnya." Ha ha ha....meleset.


fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 436 kali
sejak tanggal 25-03-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat