drh. Chaidir, MM | Indra Keenam Binatang | BINATANG melalui instinknya yang tajam lebih paham membaca gelagat alam daripada manusia. Instink atau naluri pada binatang merupakan indra keenam. Indra keenam manusia tak secanggih binatang. Kelebihan itu dimungkinkan karena naluri binatang lebih sering terasah, sistem antenenya lebih peka, sement
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Indra Keenam Binatang

Oleh : drh.chaidir, MM

BINATANG melalui instinknya yang tajam lebih paham membaca gelagat alam daripada manusia. Instink atau naluri pada binatang merupakan indra keenam. Indra keenam manusia tak secanggih binatang. Kelebihan itu dimungkinkan karena naluri binatang lebih sering terasah, sistem antenenya lebih peka, sementara manusia lebih banyak menggunakan akalnya.

Letusan dahsyat Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara pada tanggal 1 Februari dan Gunung Kelud di Kediri Jawa Timur tanggal 13 Februari beberapa hari lalu, yang menimbulkan korban jiwa dan harta benda, membawa pesan, jangan abaikan fenomena alam berupa naluri binatang yang terlihat di kedua gunung tersebut.

Sehari sebelum Gunung Sinabung dan Gunung Kelud meletus, binatang-binatang turun dari lereng-lereng gunung. Tanpa ada yang membunyikan sirene atau memberi aba-aba kepada binatang-binatang tersebut. Harimau, rusa, ular, kera, burung-burung bergerak turun dari gunung. Alam sudah memberi tanda sebentar lagi gunung yang mereka huni akan meletus.

Bahkan penduduk setempat juga menyaksikan anjing-anjing melolong gelisah, burung-burung yang berada di alam bebas ramai berbunyi bersahut-sahutan seakan memberikan peringatan kepada sesama hewan lainnya, dan barangkali juga peringatan dini kepada manusia. Suara binatang yang ribut dan bising diluar kebiasaan itu menjadi peringatan dini bagi warga setempat. Mereka pun langsung bersiap-siap meninggalkan lokasi desa, mengungsi ke tempat yang dianggap aman.

Di negeri ini, berdasarkan cerita-cerita yang diriwayatkan turun temurun mulai dari zaman nenek moyang kita, perubahan mendadak perilaku binatang liar dan peliharaan menjadi fenomena alam sebagai pertanda buruk. Anjing menggonggong tak henti-henti, masuknya binatang buas dan binatang-binatang liar seperti rusa, babi hutan, kambing gunung, kera, lutung, ular-ular besar ke daerah pemukiman, sering diartikan sebagai sebuah peringatan dini, gunung akan meletus. Pertanda lain juga terlihat pada binatang ternak ketika sapi dan kambing menolak makanan yang diberikan, kuda terlihat terus berputar-putar dalam kandangnya, dan lain-lain perilaku binatang yang tak seperti biasanya. Para ahli menyebut, naluri binatang-binatang tersebut dinilai lebih akurat ketimbang sistem peringatan dini lainnya.

Namun, seiring punahnya binatang-binatang liar dari habitatnya di lereng-lereng gunung karena ketiadaan makanan dan rusaknya habitat binatang ini serta semakin terdesaknya kehidupan mereka akibat diburu manusia, peringatan dini berupa femomena alam gunung berapi yang akan meletus yang ditandai turunnya binatang dari lereng-lereng gunung, tak lagi terlihat. Binatangnya sudah punah. Menurut beberapa sumber, kondisi ini lah rupanya yang menjebak Mbah Marijan untuk masih tetap bertahan di lereng Gunung Merapi yang meletus beberapa waktu lalu. Mbah Marijan belum melihat tanda-tanda alam itu dengan jelas. Belum ada rusa, harimau, kera dan ular besar yang turun dari lereng Merapi.

Mengapa binatang lebih dulu tahu tentang gejala alam? Diduga frekuensi rendah sinyal elektromagnetik dari perut bumi dapat ditangkap oleh binatang sebelum terdeteksi oleh peralatan elektronik buatan manusia. "Radar" binatang lebih peka dan mereka risih dengan sinyal tersebut sehingga berperilaku tidak biasa, gelisah, dan secara refleks melarikan diri.

Kepekaan dan naluri binatang ini, membuat pemerintah Korea Utara menyarankan warga negaranya untuk menggunakan binatang peliharaan mereka sebagai sistem peringatan dini untuk bencana alam gempa bumi. Pengumuman ini muncul pasca terjadinya gempa bumi dan gelombang tsunami yang memporakporandakan Jepang, tetangganya, beberapa waktu lalu. Pemerintah Korea Utara masih tetap menggunakan teknologi untuk sistem peringatan dini, tapi diakui naluri binatang peliharaan akan menjadi sistem peringatan dini yang relatif lebih akurat. Jadi, sayangilah binatang.


fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 552 kali
sejak tanggal 18-02-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat