drh. Chaidir, MM | Sang Rajawali | RAJAWALI tua itu terbang gagah di angkasa tak berawan. Burung itu melayang dengan anggun dan berwibawa dalam hembusan angin yang kuat, dia hanya membentangkan sayapnya dan sesekali menggerakkannya. Hewan-hewan lain yang berkepak yang berada di bawah terkagum-kagum melihat sang rajawali.
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Sang Rajawali

Oleh : drh.chaidir, MM

RAJAWALI tua itu terbang gagah di angkasa tak berawan. Burung itu melayang dengan anggun dan berwibawa dalam hembusan angin yang kuat, dia hanya membentangkan sayapnya dan sesekali menggerakkannya. Hewan-hewan lain yang berkepak yang berada di bawah terkagum-kagum melihat sang rajawali.

"Rajawali adalah raja dari segala burung, dia penghuni langit, kita penghuni bumi, kita adalah ayam." Ujar seekor ayam kepada temannya.

Ayam agaknya benar. Bahkan mereka dan bangsa burung lainnya, tidak banyak yang tahu, bahwa burung rajawali tua yang terbang tinggi di angkasa itu sesungguhnya pernah menghadapi pilihan sulit dan masa-masa yang menyakitkan. Sungguh-sungguh sulit dan menyakitkan.

Burung rajawali sudah ditakdirkan sebagai burung yang paling panjang usianya. Seekor burung rajawali bisa mencapai umur hingga 70 tahun. Tapi untuk mencapai umur tersebut, burung rajawali dihadapkan pada dua pilihan: bertahan hidup sampai usia 70 tahun atau hanya sampai 40 tahun.

Ketika burung rajawali mencapai umur 40 tahun, dia harus memilih. Kalau mau enaknya saja, tidak mau bersusah-susah, rajawali tidak usah melakukan apa-apa, namun burung rajawali akan mati pada usia 40 tahun. Tapi kalau mau hidup lebih panjang 30 tahun lagi, dia harus melewati transformasi tubuh yang sangat menyakitkan. Pada saat inilah seekor rajawali harus menentukan pilihan untuk melewati transformasi yang menyakitkan itu atau pilihan yang tidak menyakitkan, namun dalam tempo singkat aka menuju kematian.

Masalahnya, pada umur 40 tahun secara biologis paruh rajawali sudah sangat bengkok dan panjang hingga mencapai lehernya. Kondisi itu menyebabkan ia akan sulit untuk makan. Cakar-cakarnya pun sudah tidak tajam. Bulu pada sayapnya juga sudah sangat tebal sehingga ia sangat sulit untuk dapat terbang tinggi.

Seekor burung rajawali tua yang memutuskan untuk melewati transformasi tubuh yang menyakitkan tersebut, biasanya ia tepaksa harus terbang mencapai pegunungan yang tinggi dan kemudian membangun sarang di puncak gunung. Di puncak gunung yang sepi inilah rajawali tua akan mematuk-matuk paruhnya pada bebatuan di gunung sehingga paruhnya yang panjang dan bengkok itu lepas. Tentu saja itu sakit sekali.

Setelah beberapa lama paruh barunya akan muncul. Dengan paruhnya yang baru, dengan menahan sakit yang luar biasa ia akan mecabut kukunya satu-persatu dan kemudian menunggu hingga kuku-kuku baru yang lebih tajam kembali tumbuh. Ketika kuku-kuku tersebut tumbuh, ia akan mencabut bulu sayapnya sehingga rontok semua dan menunggu bulu-bulu baru tumbuh pada sayapnya. Ketika semua itu telah dilewati, paruh dan cakarnya kembali tajam, serta bulu-bulu sayapnya ramping dan ringan, rajawali itu untuk beberapa hari mulai belajar terbang menyesuaikan diri, dan kemudian dapat terbang kembali seperti sedia kala. Sang rajawali tua pun kembali menjalani kehidupan normalnya, kembali terbang di awan. Begitulah transformasi menyakitkan yang harus dilewati oleh seekor burung rajawali, yang menurut beberapa sumber berlangsung selama kurang lebih setengah tahun.

Kita harus belajar dari rajawali tua. Tidak mudah menyerah. Hadapi cobaan untuk meraih cita-cita yang lebih tinggi. Never give up.


fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 495 kali
sejak tanggal 11-02-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat