drh. Chaidir, MM | Bom Ayam | ADA berita baik dan ada berita buruk.  Sang jago mulai membuka pembicaraan ketika kaumnya kebingungan dan ketakutan mendengar berita tentang bom ayam di Thailand. Padahal bom ayam itu sebenarnya hanya rekayasa polisi dalam latihan untuk mengantisipasi demonstrasi besar-besaran anti pemerintah di Ban
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Bom Ayam

Oleh : drh.chaidir, MM

ADA berita baik dan ada berita buruk. Sang jago mulai membuka pembicaraan ketika kaumnya kebingungan dan ketakutan mendengar berita tentang bom ayam di Thailand. Padahal bom ayam itu sebenarnya hanya rekayasa polisi dalam latihan untuk mengantisipasi demonstrasi besar-besaran anti pemerintah di Bangkok, tanggal 13 Januari 2014 ini.

Tapi, bukankah dengan dimuatnya foto bom ayam itu secara luas di berbagai media internasional justru akan menimbulkan inspirasi bagi para demonstran, atau bahkan mungkin juga bagi teroris untuk sungguh-sungguh menggunakan ayam sebagai bom? Bom ayam tentu jauh lebih berbahaya daripada sekedar ayam yang disembelih dan dilemparkan ke mobil pejabat seperti yang terjadi dalam sebuah aksi unjuk rasa di Pekanbaru, beberapa waktu lalu.

"Berita baiknya, jumlah teman-teman kita yang disembelih di negeri Gajah Putih itu per hari akan berkurang karena orang-orang akan takut membeli ayam potong, takut berisi bom." Ujar ayam jago.
"Berita buruknya?" Seekor induk ayam bertanya tak sabar.
"Berita buruknya, citra Ayam Bangkok akan tercoreng. Merek dagang Ayam Bangkok itu sudah lama populer. Kita sebenarnya ikut bangga saudara kita di Thailand berhasil membangun merek dagang Ayam Bangkok. Sekarang ayam dari Bangkok dikhawatirkan membawa bom bunuh diri, citranya akan berubah jadi ayam bom."

Masyarakat ayam akhir-akhir ini galau, bukan karena jumlah teman-teman mereka yang disembelih semakin banyak dengan semakin banyaknya permintaan daging ayam, tetapi karena mereka diseret-seret ke wilayah yang bikan tupoksinya. Sepanjang untuk konsumsi manusia, mereka tak keberatan, tak pernah ada protes, itulah bentuk pengabdian bangsa mereka terhadap kesejahteraan bangsa manusia. Coba renungkan, kata mereka, apa urusannya ayam dengan Perdana Menteri Thailand, Yingluck yang cantik itu, atau apa urusannya ayam dengan aksi unjuk rasa anti korupsi di Pekanbaru itu sehingga bangsa ayam yang harus dikorbankan?

Mungkin karena bangsa ayam ini tak memiliki kemampuan melawan. Entah dari mana asal muasalnya reputasi ayam kampung di Batam misalnya, rusak akibat ulah manusia di sana yang mengidentikkan mereka dengan kupu-kupu malam. Menurut bangsa ayam, itu ngawur. Sebab, pertama, kupu-kupu ya kupu-kupu, jelas bukan ayam, masak ayam dibilang kupu-kupu. Kedua, kalau ayam kampung itu diartikan sebagai Pekerja Seks Komersial, ini lebih parah lagi. Ayam kampung memang tak ada urusan dengan Tuan Kadi (dibayar atau gratis). "Tapi, walaupun kami tak mengenal akta nikah, kami tak mengenal seks komersial", seekor induk ayam berang.

Setali tiga uang dengan ayam kampung di Batam, adalah ayam bersepatu di Tanjung Balai Karimun. Entah siapa orang pertama yang memberikan nama ayam bersepatu untuk PSK di pulau itu. "Seumur-umur kita tak pernah pakai sepatu," ujar seekor ayam tua. Lain lubuk lain ikannya lain padang lain belalangnya, di Pekanbaru, ayam pun konon masuk kampus, namanya ayam kampus. Tapi perihal ayam kampus ini, entah buaya entah katak entah iya entah tidak. Ma tau wak...

fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 461 kali
sejak tanggal 14-01-2014

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat