drh. Chaidir, MM | Politik Sang Kancil | SIAPA tak kenal kancil? Kancil adalah binatang sebangsa pelanduk yang bentuk badannya seperti kijang kecil, memakan tumbuhan. Nama latinnya, Tragulus Javanicus.  Tapi, walaupun berbadan kecil, kancil punya nama besar dalam dunia perdongengan. Kecerdikannya sudah melegenda. Bagaimana sang kancil misa
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Politik Sang Kancil

Oleh : drh.chaidir, MM

SIAPA tak kenal kancil? Kancil adalah binatang sebangsa pelanduk yang bentuk badannya seperti kijang kecil, memakan tumbuhan. Nama latinnya, Tragulus Javanicus. Tapi, walaupun berbadan kecil, kancil punya nama besar dalam dunia perdongengan. Kecerdikannya sudah melegenda. Bagaimana sang kancil misalnya menyiasati buaya, gajah, harimau, monyet, dan sebagainya, sehingga lolos dari situasi sulit.

Ceita tentang sang kancil sebenarnya, karena menjadi folklor atau cerita rakyat, sudah umum diketahui. Dongengnya sering dielaborasi untuk berbagai kondisi dalam berbagai kesempatan, tak hanya di kalangan anak-anak dan masyarakat biasa, bahkan juga di kalangan elit politik.

Prof Mahfud MD misalnya, dalam bukunya Konstitusi dan Hukum dalam Kontroversi Isu (2009), mengelaboasi salah satu cerita rakyat tersebut.

Syahdan, di sebuah hutan rimba, hiduplah harimau si raja rimba yang memerintah rimba itu dengan sewenang-wenang dan kejam. Pada suatu hari, sang harimau mendengar kabar, di kalangan rakyatnya beredar gunjingan bahwa badan sang raja bau, pesing, maung dan membuat mual binatang lain. Merasa risi dengan desas-desus itu, si raja rimba memanggil tiga pimpinan binatang untuk mendapat kepastian. Mula-mula, dia panggil seekor anjing yang besar yang menjadi pimpinan bangsa anjing. Menurutmu, benarkah badan saya ini bau? Tanya harimau sambil menyorongkan badannya kepada pemimpin bangsa anjing itu agar dibaui. Ampun Tuan Raja yang Mulia, memang benar, badan Tuan bau dan memualkan, jawab sang anjing tersebut dengan jujur. Mendengar itu, sang harimau jadi marah besar. Kurang ajar, berani benar kamu menghina raja di rimba ini, kata sang harimau sambil menerkam dan merobek-robek pemimpin anjingb sampai lumat.

Kemudian, dipanggil pula seekor kijang yang besar pemimpin bangsa kijang. Apakah menurutmu badanku ini bau? Tanya harimau kepada kijang. Karena takut dirobek-robek seperti anjing, maka kijang itu berkata. Ampun Yang Mulia, ternyata badan yang mulia harum, katanya. Tapi, tiba-tiba sang harimau menerkam pemimpin kijang itu sambil mengaum keras. Kurang ajar, munafik, berani benar kamu membohongi raja, teriaknya sambil mencabik-cabik tubuh sang pemimpin kijang.

Berikutnya dipanggillah sang kancil yang kemudian datang dengan gelisah dan menggigil ketakutan. Bagaimana dirinya harus menjawab pertanyaan? Kalau menjawab jujur akan bernasib seperti pemimpin anjing, bisa dirobek-robek karena dianggap berani kurang ajar. Kalau berbohong agar raja senang, bisa dicabik-cabik seperti pemimpin kijang. Ketika membaui tubuh harimau, si kancil bersin karena tubuh raja rimba itu baunya memang menyengat hidung. Bagaimana menurutmu, kancil? Apa badan saya memang bau? Tanya harimau sambil membentak. Dengan gemetar, kancil itu menjawab. Maaf Raja Rimba yang Mulia, saya sedang pilek, hidung lagi mampet, jadi tak tahu apakah badan Tuan bau atau tidak, jawab sang kancil. Kok, tadi kamu bersin? Apa karena badan saya bau? Kejar sang harimau. Ya, saya bersin justru karena pilek itu, jawab kancil lebih berani. Sang harimau akhirnya melepaskan sang kancil yang cerdik itu.

fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 480 kali
sejak tanggal 17-12-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat