drh. Chaidir, MM | Dialog Mantan Artis | LIMA tahun kemudian...
Sumber : Foto koleksi album drh. Chaidir, MM

Dialog Mantan Artis

Oleh : drh.chaidir, MM

LIMA tahun kemudian...
"Apa kabarmu sekarang, Bro?"
"Kabar biasa-biasa saja, dan kamu apa kabar, sudah berapa anak?" Sang teman balik bertanya.
"Aku masih seperti dulu, anakku banyak."
"Dari berapa induk?" sang teman bertanya nakal.
"Itu juga aku tak hitung, pokoknya banyak," jawab teman pertama, sekenanya. "Kamu sudah gaharu cendana pula, sudah tahu bertanya pula. Kamu sendiri kelihatannya tambah ok, lebih langsing, pasti cewekmu banyak."

Yang ditanya hanya ketawa ngakak. Kedua sahabat yang sudah lama tak saling bertemu, terlibat dalam perbincangan ringan dan relaks, sambil sekali-sekali mengunyah buah kegemarannya. Mereka kemudian tak bisa menghindari pertanyaan nostalgia yang sebenarnya tak ingin diingat-ingat, sebab itu sebuah lembaran hitam kehidupan.

"Bagaimana pengalamanmu Bro, setelah tak lagi ngamen?"
"Sekali-sekali aku rindu juga ngamen, ketemu gadis-gadis cantik." Jawab teman tanpa beban.
"Dasar kamu."

"Ah sudahlah itu telah menjadi masa lalu, tak akan pernah kembali lagi. Biarlah masa lalu yang kelam itu tenggelam dalam tidurnya yang abadi," ujar sang teman yang dipanggil Bro, berfilsafat. "Walau di beberapa tempat kudengar praktik seperti itu masih ada, tapi lambat laun akan hilang dengan sendirinya seiring berubahnya persepsi masyarakat. Memang dari satu sisi, dalam hal makanan dan minuman sehari-hari, kita tak pernah kekurangan. Kita tinggal terima bersih. Sekali-sekali dapat jatah telur pula. Dan yang lebih penting, tak perlu merasa khawatir dicurigai atau dimonitor KPK. Tapi masalahnya, kebutuhan kita kan tidak hanya makan dan minum. Kita perlu kebebasan dan berinteraksi dengan teman-teman."

"Aku setuju." Timpal teman yang satu. "Kebebasan itu harganya mahal. Sekarang kita memang harus banting tulang untuk mencari makanan, adakalanya tak sesuai harapan. Dan untuk mendapatkannya harus bersaing pula antar sesama. Jumlah kita makin lama makin banyak, sementara sumber daya alam semakin terbatas, dengan demikian persaingan makin lama makin keras."

"Oleh karena itulah ada sekelompok anak muda yang tak sabaran, yang kalah bersaing berebut makanan dan pasangan cinta, putus asa. Mereka membuat jargon, 'dulu hidup lebih enak' karena makanan dan pasangan disediakan."

"Mereka tak pernah merasakan pahitnya hidup terkungkung, terbelenggu, belum lagi kekerasan fisik yang harus kita terima ketika kita tak memuaskan majikan, tak bisa menirukan dengan persis tingkah polah manusia. Anak-anak muda ini tak merasakan betapa stresnya tinggal dalam kandang yang ukurannya sangat kecil, 30 x 40 x 40 cm. Mengapa ada yang mencoba-coba untuk kembali ke kehidupan seperti dulu?"

Pembicaraan antara dua sahabat monyet mantan artis topeng monyet itu berubah serius dan emosional. Mereka berdua dan bangsanya harus berterima kasih kepada Gubernur Jokowi yang telah mendengarkan dengan sungguh-sungguh aspirasi organisasi penyayang binatang yang menyatakan bahwa topeng monyet itu adalah bentuk penganiayaan terhadap binatang dan itu harus dihentikan.

Banyak organisasi penyayang binatang dari dalam maupun dari luar negeri yang menyerukan penghapusan topeng monyet tersebut. Kebijakan Gubernur Jokowi ini medapatkan kritikan dari berbagai pihak yang menyatakan gubernur lebih memperhatikan topeng monyet daripada anak jalanan, melupakan tugasnya menghadapi banjir dan kemacetan lalu-lintas, dan topeng monyet adalah salah satu seni budaya Indonesia yang harus tetap dilestarikan. Namun demikian kebijakan tersebut tetap dijalankan oleh Pemprov DKI dan nampaknya akan diikuti oleh daerah lain di Indonesia. Kita tidak ingin suatu saat kelak, kampung monyet berkembang menjadi kota monyet dan negara monyet. Bravo Jokowi.

fabel - Koran Riau
Tulisan ini sudah di baca 435 kali
sejak tanggal 11-11-2013

Kumpulan tulisan lainnya. : Jurnal Chaidir | Opini Chaidir | Kolom Chaidir | Fabel Chaidir

Buku Chaidir. : Demang Lebar Daun | Membaca Ombak | Menertawakan Chaidir | 1001 Saddam | Panggil Aku Osama | Berhutang Pada Rakyat